Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag II)

Siang itu kedua ayah dan anak pergi mengunjungi Bonbon (kebun binatang) Surabaya. Sang ayah sudah tidak sabar untuk menunjukkan makna mem*k yang sebenarnya kepada anaknya.

Di depan kandang gajah, mereka berhenti. Sang ayah menunjukkan pada anaknya dengan menuding ke arah gajah.

“Nah, itu dia yang namanya mem*k!”

“Gajah itu mem*k,” Rikno garuk-garuk kepala, “wah besar sekaleeee…”

“Husy, bukan gajah, tapi ituuuu….”

“Yang mana yah…” Rikno berusaha menajamkan pengelihatannya. Tetap saja yang terlihat badan gajah yang besar.

“Ah, kamu ini gitu aja tidak tahu. Sudah jelas dari sini terlihat kok,” jawab ayahnya sedikit geram.

“Yang mana, apa yang panjang itu!” Seru Rikno.

“Kalau itu belalai namanya. Yang di belakang itu loh. Yang tepat di ekornya.”

“Oh, itu ya yang namanya mem*k. Iya yah aku tahu. Jadi mem*k itu fungsinya untuk nelek ya yah.” Sang ayah semakin frustasi dengan anaknya. Berkali-kali diberitahu tetap saja tidak tahu. Lelaki itu kehabisan ide.

“Ya sudah gini aja, kita lihat di sana lagi.” Dia menggandeng anaknya sembari menikmati kacang rebus.

Suasana hari itu cukup sejuk, mendung memayungi seisi penghuni Bonbin, sehingga tak ayal beberapa satwa pun memanfaatkan waktu untuk bercinta alias membuat anak.

Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat dua ekor kera sedang memadu kasih.

“Ah, ini dia,” celetuk sang ayah, “monyet adalah binatang yang menyerupai manusia. Jadi ini pasti mudah bagiku untuk menunjukkan mem*k kepada Rikno.”

“Rik…Rik…sini cepat!” Seru ayahnya. Rikno berlari-lari kecil dan kemudian berdiri tepat di samping ayahnya.

“Kamu lihat kera yang sedang berciuman itu,”

“Kenapa dengan mereka yah.”

“Lihat saja dulu.”

“Sudah yah.”

“Ya itu mem*k.” Sang ayah menyaksikan pemandangan dengan takjub. Dalam hatinya berkata, “hmm, rupanya kalau kera sedang bercinta juga mirip manusia. Jadi pengin nih.”

“Yah…yah…” Rikno menarik baju ayahnya, “Rikno masih belum paham. Yang mana mem*k?”

“Oh duasar anak guob…” buru-buru sang ayah meralat ucapannya, takut bila makian kasar itu justru akan mengganggu pendewasaan sang anak.

“Masak sudah jelas begitu kamu masih belum tahu.” Rikno menggeleng.

“Gini aja biar ayah jelaskan sedikit. Kamu tahu yang di atas itu.” Rikno mengangguk.

“Dia itu pejantannya. Nah, yang di bawah itu betinanya.” Rikno mengangguk paham.

“Kamu tahu apa yang sedang mereka lakukan?” Rikno menggeleng.

“Mereka sedang bercinta. Kamu lihat bagian bawah itu, apa yang dilakukan si jantan terhadap si betina. Lihat baik-baik.”

“Sudah yah, jadi itu ya yah.”

“Ya nak, itu yang namanya mem*k.” Sahut ayahnya.

“Iya yah, sekarang Rikno sudah paham.” “Kalau kamu sudah paham, kamu dilarang bertanya lagi soal mem*k ke orang lain. Kamu paham yang ayah katakan ini.” Rikno kembali menggangguk, tetapi sebenarnya dia belum paham betul. Benaknya terus berkecamuk, “Apa benar mem*k itu kera yang saling tumpang tindih. Masak kalau sekedar binatang yang tumpang tinding nenek, ibu, dan ayah marah. Pasti aku sedang dibohongi oleh mereka. Aku tidak percaya dengan kata-kata orang dewasa. Cara ayah menjelaskan padaku juga tidak ikhlas begitu. Masa cuma binatang saja begitu sulit menjelaskan. Aku yakin yang namanya mem*k lebih dari itu.”

Setelah itu keduanya pulang ke rumah. Sang ayah langsung masuk kamar dan tidur. Ibu Rikno menyambut kepulangan mereka dengan hati riang. Sebelum masuk kamar sang ibu menegur suaminya.

“Gimana yah, apa Rikno sudah diberi penjelasan?”

“Sudah, kamu ga usah mikir itu lagi. Ayah mengantuk.”

“Syukurlah kalau begitu yah. Kalau anak itu tidak segera diberi tahu, dia bakal melunjak, berani kepada orang tua.”

***

Menjelang sore, keluarga Rikno kedatangan tamu, seorang pejabat lokal. Ceritanya sang pejabat sedang ada keperluan bisnis dengan ayah Rikno. Ayah Rikno saat itu sedang di kamar untuk berganti pakaian. Sementara ibunya berada di dapur membuatkan minuman untuk sang tamu. Si nenek keluar membeli makanan snack.

Di ruang tamu hanya ada sang pejabat yang sedang duduk santai sambil menikmati lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Rikno melihat keberadaan orang asing langsung menemui. Tanpa banyak cincong Rikno segera bertanya dengan tema yang masih sama.

“Bapak siapa?”

“Hei, anak kecil, kamu siapa juga?”

“Huh, ditanya malah balik bertanya. Tidak sopan.” Celetuk Rikno dalam hati. “Bapak siapa kok?” Rikno bertanya merengek.

“Saya anggota dewan.”

“Apa itu anggota dewan?” Rikno balik bertanya.

“Wakil rakyat.” Jawab sang pejabat singkat.

“Jadi bapak tahu segalanya.” Sang pejabat tersenyum memandang Rikno.

Dengan senyuman itu, Rikno menganggap sang pejabat seorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik. Pikirnya, ah, tidak ada salahnya bertanya soal mem*k kepada sang pejabat.

“Masa seorang wakil rakyat bisa marah, kan pertanyaanku juga bersangkutan dengan wakil rakyat, kan aku juga wakil rakyat yang suaranya perlu diwakili, perlu dijawab.”

“Pak, boleh Rikno bertanya?”

“Silahkan!”

“Tapi bapak jangan marah ya.”

“Tergantung pokok pembahasannya.”

“Lho, masa cuma anak kecil seperti Rikno yang bertanya bapak bisa marah. Berarti bapak bukan wakil rakyat. Bapak bohong.”

“Tidak…tidak…kamu jangan salah sangka begitu. Oke, apa pertanyaanmu, Insya Allah jika bisa, bapak akan menjawabnya.”

“Begini pak, selama ini keluarga Rikno selalu membohongi Rikno. Padahal Rikno bertanyanya sopan. Tapi menurut mereka pertanyaan Rikno tidak sopan dan kurang ajar.”

“Iya, apakah itu?” Sang pejabat penasaran.

“Apa itu mem*k, Pak?” Sang pejabat kaget. Matanya kemudian melotot. Tak lama dia mengumpat dengan umpatan tidak mencerminkan seorang anggota dewan, yang katanya wakil rakyat itu.

“Diamput…dasar anak bebal. Siapa yang mengajari kamu berkata seperti itu. Mana bapakmu, mana ibumu? Pasti mereka orang tua tidak berbudi, tidak berakal sampai membiarkan anaknya berbuat kurang ajar begini.”

“Tuh kan bapak pasti marah.”

“Bagaimana tidak marah, pertanyaanmu itu loh…akkhhh…panggil orang tuamu, cepat!” Sang pejabat marah dengan berkacak pinggang. Tak lama ayah Rikno dan istrinya keluar menemui tamunya. Tetapi mereka lantas disambut caci maki dan omelan.

“Apa kalian tidak pernah mengajarkan tata krama pada anak kalian. Bagaimana anak sekecil itu bisa berkata mem*k. Itu tidak sopan namanya. Bodoh!”

“Maafkan kami pak. Sebenarnya Rikno sudah berkali-kali kami berikan penjelasan, tetapi rupanya hingga detik ini belum mengerti juga. Riknoooo…..” sang ayah memanggil dengan gusar.

Betapa lelaki itu tidak bisa menyembunyikan rasa malunya di hadapan tamu agung. Rikno datang tersenyum seolah tanpa dosa sambil menenteng mainannya. Wajar Rikno tidak tahu apa-apa karena memang anak sekecil belum waktunya mengerti. Dikarenakan pula orang tuanya dan orang-orang di sekelilingnya tidak pernah mengajarinya pengetahuan yang layak.

“Apa benar kamu bertanya pada pak pejabat soal mem*k?” Rikno mengangguk.

“Sudah berapa kali ayah bilang jangan bertanya soal itu lagi.” Ancam sang ayah. Dan…tiba-tiba plok! Sebuah tamparan mendarat di wajah Rikno. Pukulan yang akan diingat untuk selamanya. Tentu saja ini membuat Rikno bersedih. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang dewasa. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bertanya mengenai sesuatu yang tidak dipahami terus dilarang. Baginya ini tidak adil.

“Mulai sekarang kamu ayah usir. Kamu tidak boleh tinggal di sini lagi. Dan ayah tidak mau mengganggapmu sebagai anak. Mulai sekarang kamu tinggal saja di desa dengan bibimu.” Ancam ayahnya.

“Iya, kamu dasar anak tidak tahu balas budi. Mulai besok ayah akan mengantar kamu ke desa. Jangan lagi kamu berani kembali ke rumah ini. Awas ya!” Ancam ibunya.

(Bersambung lagi coy/novi)

NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.

Categories: artikel Tag:, , , ,

Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag I)

Rikno, anak TK yang lugu, keras, pantang menyerah, dan memiliki rasa keingintahuan sangat tinggi. Suatu hari Rikno mendatangi neneknya dan bertanya sesuatu hal yang selama ini telah membelenggu otaknya.
“Nenek, boleh ngga Rikno tanya sesuatu?”
“Mau tanya apa toh, Cu!” Seru sang nenek penasaran.
“Anu nek, itu loh, Rikno mo nanya sebenarnya mem*k itu apa?”
“Apa???” Si nenek kaget bukan alang kepalang. Ia naik pitam, “dasar anak guoblok. Anak cecunguk. Dungu. Tidak tahu aturan. Siapa yang mengajari kamu berbicara tidak sopan begitu, hah, ayo jawab?”
Rikno diam saja.
Si nenek semakin tidak bisa menahan emosinya. Berkali-kali Rikno mendapat cubitan dan makian. Tetapi Rikno tetap diam, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan neneknya. Sampailah kesabaran si nenek memuncak.
“Riri…Riri…kemari kamu nak. Ini anakmu telah berbuat kurang ajar pada orang tua.” Si nenek memanggil anaknya, yang juga ibu Rikno.
Riri yang berada di dapur merasa telinganya kepanasan, dia buru-buru menghampiri ibunya yang berada di ruang tengah.
“Ya ampun bu, ada apa toh kok teriak-teriak, malu tuh didengar tetangga.”
“Biar saja, ini lho anakmu sudah kurang aja sama orang tua.”
“Ada apa toh tole?” Tanya Riri mendekati Rikno yang sedang bersedih.
“Ndak kok bu…”
“Ayo jangan bohong kamu, tadi kamu bilang apa sama nenek.” Si nenek mendesak Rikno sambil mencubit-cubit pahanya.
Dengan terbata-bata Rikno menjawab lirih:
“Rikno…Rikno…cuma pengin tahu….ah, ga jadi ah, nanti ibu juga marah!”
“Sudahlah kamu bilang saja sama ibu, ibu ga akan marah kok!”
“Rikno cuma ingin tahu mem*k itu apa?”
“Hah,” plok, seketika itu tamparan Riri melesat di pipi anaknya, “dasar anak tidak tahu diri. Nih rasakan lagi,” plok! plok!
Seketika itu Rikno menangis sejadi-jadinya.
“Hua….hua…hua…”
Murka sang ibu rupanya melebihi murka sang nenek.
“Biar saja, ayo nangis yang keras, biar sekalian ditambah pukulan oleh ayahmu.”
Tak lama sang ayah yang merasa terusik tidurnya terbangun dan menunjukkan raut muka merah padam.
“Ada apa ini. Apa kalian tidak tahu kalau ada orang tidur?”
“Ini yah, anakmu sudah mulai kurang ajar. Kecil-kecil sudah mikir pornografi. Siapa yang mengajarimu, hah, ayo jawab.” Jawab Riri geram.
Rikno yang mendengar kata “pornografi” semakin tidak paham. Kemana arah orang tuanya berbicara. Masa cuma bertanya arti kata mem**k saja tidak boleh, batin Rikno berkata.
“Apa yang telah dilakukan anak kita, bu?” Tanya ayahnya.
“Itu yah, dia sudah berani bertanya soal mem*k. Pasti yang ngajarin ayah ya?” Tuding Riri.
“Ah, kamu bu bisa-bisa aja, apa benar yang dikatakan ibumu itu Rik?”
Rikno tidak berani menjawab. Sebab setiap pertanyaan yang keluar selalu membuat orang naik pitam. Lebih baik aku diam, gumamnya dalam hati.
“Ayo jawab dong, apa benar yang dikatakan ibumu itu!” Sang ayah terus mendesak.
Rikno malah menggeleng.
“Jangan bohong ya, atau ayah bisa marah nih. Katakan saja, ayah tidak akan marah kok.”
“Itu yang nenek dan ibu katakan sebelumnya. Tidak akan marah, tapi buktinya…”
“Jadi kamu sudah tidak percaya dengan ayahmu lagi ya.”
“Percaya kok yah.”
“Kalau begitu bilang ke ayah apa masalahmu?”
“Rikno tadi cuma tanya mem*k itu apa?”
“Hmm…jadi itu yang kamu tanyakan.” Untuk sesaat sang ayah berpikir. Menurut sang ayah memang tidak salah seorang anak bertanya sesuatu yang belum diketahui, apalagi yang bersangkutan dengan yang namanya mem*k. Ini adalah tugas orang tua untuk menunjukkan kapasitasnya kepada orang tua. Tetapi untuk yang demikian ini, memang berat. Bagaimana cara untuk menunjukkan mem*k pada Rikno, sang ayah berpikir dengan keras.
“Kamu tahu Rik, darimana kamu keluar?”
Rikno menggeleng.
“Ya, dari mem*k itu.” Jawab ayahnya.
Rikno tetap menggelang bahkan posisi tubuhnya diatur untuk mendengarkan wejangan sang ayah.
“Bagaimana kamu sudah paham?” Tanya ayahnya yang sudah tidak sabar ingin melanjutkan tidur siangnya.
“Belum yah. Masih bingung. Emang mem*k itu tempatnya dimana?” Rikno balik bertanya.
“Hmmm…gitu ya. Kamu yakin pengin tahu mem*k?”
Rikno mengangguk.
“Ya udah sana kamu ganti baju dulu, trus ikut ayah. Akan ayah tunjukkan dimana mem*k itu.”
Betapa senang hati Rikno karena ternyata ayahnya seorang pengertian. Sebentar lagi rasa penasarannya segera terobati sebab ayah akan menunjukkan kepada Rikno apa itu mem*k. (bersambung coy/novi)

NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.

Categories: artikel Tag:, , ,

Pramoedya Ananta Toer — Dihargai Dunia Dipenjara Negeri Sendiri

November 27, 2009 novi471 1 comment

Ia bagaikan potret seorang nabi, yang dihargai oleh bangsa lain tetapi dibenci di negerinya sendiri. Pramoedya Ananta Toer, seorang pengarang yang pantas menjadi calon pemenang Nobel. Ia telah menghasilkan belasan buku baik kumpulan cerpen maupun novel. Kenyang dengan berbagai pengalaman berupa perampasan hak dan kebebasan. Ia banyak menghabiskan hidupnya di balik terali penjara, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, zaman pemerintahan Soekarno, maupun era pemerintahan Soeharto.

Di zaman revolusi kemerdekaan ia dipenjara di Bukit Duri Jakarta (1947-1949), dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno karena buku Hoakiau di Indonesia, yang menentang peraturan yang mendiskriminasi keturunan Tionghoa.

Setelah pecah G30S-PKI, Pramoedya yang anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat – onderbouw Partai Komunis Indonesia – ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru sampai tahun 1979. Siksaan dan kekerasan adalah bagian hari-harinya di tahanan dan terpaksa kehilangan sebagian pendengarannya, karena kepalanya dihajar popor bedil.

Setelah bebas pun, Pramoedya dijadikan tahanan rumah dan masih menjalani wajib lapor setiap minggu di instansi militer. Meskipun ia sudah ‘bebas’, hak-hak sipilnya terus dibrangus, dan buku-bukunya banyak yang dilarang beredar terutama di era Soeharto. Pemerintah telah mengambil tahun-tahun terbaik dalam hidupnya, pendengarannya, papernya, rumahnya dan tulisan-tulisannya.

Ia dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 oleh seorang ibu yang memberikan pengaruh kuat dalam pertumbuhannya sebagai individu. Pramoedya mengatakan bahwa semua yang tertulis dalam bukunya teinspirasi oleh ibunya. Karakter kuat seorang perempuan dalam karangan fiksinya didasarkan pada ibunya, “seorang pribadi yang tak ternilai, api yang menyala begitu terang tanpa meninggalkan abu sedikitpun”.

Ketika Pramoedya melihat kembali ke masa lalu, ia melihat “revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan – ibunya”. Meskipun karakter ibunya kuat, fisik ibunya menjadi lemah karena TBC dan meninggal pada umur 34 tahun, waktu itu Pramoedya masih berumur 17 tahun.

Setelah ibunya meninggal, Pramoedya dan adiknya meninggalkan rumah keluarga lalu menetap di Jakarta. Pramoedya masuk ke Radio Vakschool, di sini ia dilatih menjadi operator radio yang ia ikuti hingga selesai, namun ketika Jepang datang menduduki, ia tidak pernah menerima sertifikat kelulusannya. Pramoedya bersekolah hingga kelas 2 di Taman Dewasa, sambil bekerja di Kantor Berita Jepang Domei. Ia belajar mengetik lalu bekerja sebagai stenografer, lalu jurnalis.

Ketika tentara Indonesia berperang melawan koloni Belanda, tahun 1945 ia bergabung dengan para nasionalis, bekerja di sebuah radio dan membuat sebuah majalah berbahasa Indonesia sebelum ia akhirnya ditangkap dan ditahan oleh Belanda tahun 1947. Ia menulis novel pertamanya, Perburuan (1950), selama dua tahun di penjara Belanda (1947-1949).

Setelah Indonesia merdeka, tahun 1949, Pramoedya menghasilkan beberapa novel dan cerita singkat yang membangun reputasinya. Novel Keluarga Gerilya (1950) menceritakan sejarah tentang konsekuensi tragis dari menduanya simpati politik dalam keluarga Jawa selama revolusi melawan pemerintahan Belanda.

Cerita-cerita singkat yang dikumpulkan dalam Subuh (1950) dan Pertjikan Revolusi (1950) ditulis semasa revolusi, sementara Tjerita dari Blora (1952) menggambarkan kehidupan daerah Jawa ketika Belanda masih memerintah. Sketsa dalam Tjerita dari Djakarta (1957) menelaah ketegangan dan ketidakadilan yang Pramoedya rasakan dalam masyarakat Indonesia setelah merdeka. Dalam karya-karya awalnya ini, Pramoedya mengembangkan gaya prosa yang kaya akan bahasa Jawa sehari-hari dan gambar-gambar dari budaya Jawa Klasik.

Di awal tahun 50-an, ia bekerja sebagai editor di Departemen Literatur Modern Balai Pustaka. Di akhir tahun 1950, Pramoedya bersimpati kepada PKI, dan setelah tahun 1958 ia ditentang karena tulisan-tulisan dan kritik kulturalnya yang berpandangan kiri. Tahun 1962, ia dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat yang disponsori oleh PKI yang kemudian dicap sebagai organisasi “onderbow” atau “mantel” PKI.

Di Lekra ia menjadi anggota pleno lalu diangkat menjadi wakil ketua Lembaga Sastra, dan menjadi salah seorang pendiri Akademi Multatuli, semua disponsori oleh LEKRA. Pramoedya mengaku bangga mendapat kehormatan seperti itu, meskipun sekiranya Lekra memang benar merupakan organisasi mantel PKI.

Kemudian terjadi peristiwa rasial anti-Tionghoa semasa Indonesia telah merdeka, formal oleh negara, dalam bentuk PP 10 -1960. Buku Hoakiau di Indonesia yang diluncurkan sekarang ini, pertama diterbitkan oleh Bintang Press, 1960, merupakan reaksi atas PP 10 tersebut. Peraturan Pemerintah nomor 10 ini kemudian berbuntut panjang dengan terjadinya tindakan rasial di Jawa Barat pada 1963, yang dilakukan oleh militer Angkatan Darat. Karena buku ini pula ia dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno.

Setelah keluar dari penjara karena soal Hoakiau itu, Profesor Tjan Tjun Sin memintanya “mengajar” di Fakultas Sastra Universitas Res Publica milik Baperki, yang sekarang diubah namanya menjadi Universitas Trisaksi yang kini bukan lagi milik Baperki. Ajakan ini sempat membuatnya merasa tidak enak karena SMP saja ia tidak lulus dan belum punya pengalaman dalam mengajar. Meskipun begitu, Pramoedya mengaku menggunakan caranya sendiri. Setiap mahasiswa ia wajibkan mempelajari satu tahun koran, sejak awal abad ini. Setiap tahun ada sekitar 28 mahasiswa yang ia beri tugas itu, sehingga Perpustakaan Nasional menjadi penuh dengan mahasiswanya.

Dari para mahasiswa-mahasiswi yang sebagian terbesar WNI keturunan Tionghoa, ia menerima sejumlah informasi tentang perlakuan pihak militer terhadap keluarga mereka yang tinggal di Jawa Barat. Ternyata rasialisme formal ini ditempa oleh beberapa orang dari kalangan elit Orba untuk meranjau hubungan antara RI dengan RRC, yang jelas, sadar atau tidak, menjadi sempalan perang-dingin yang menguntungkan pihak Barat.

Di tahun 1965-an, Suharto memimpin setelah mengambil alih pemerintahan yang didukung oleh Amerika yang tidak suka Sukarno bersekutu dengan Cina. Mengikuti cara Amerika, Suharto mulai membersihkan komunis dan semua orang yang berafiliasi dengan komunis. Suharto memerintahkan hukuman massal, tekanan masal dan memulai Rezim Orde Baru yang dikuasai oleh militer. Akibatnya, ia ikut dipenjara setelah kudeta yang dilakukan komunis tahun 1965.

Meskipun Pramoedya tidak pernah menjadi anggota PKI, ia dipenjara selama 15 tahun karena beberapa alasan: pertama, karena dukungannya kepada Sukarno, kedua, karena kritikannya terhadap pemerintahan Soekarno, khususnya ketika tahun 1959 dikeluarkan dekrit yang menyatakan tidak diperbolehkannya pedagang Cina untuk melakukan bisnis di beberapa daerah. Ketiga, karena artikelnya yang dikumpulkan menjadi sebuah buku berjudul HoaKiau di Indonesia. Dalam buku ini, ia mengkritik cara tentara dalam menangani masalah yang berkaitan dengan etnis Tionghoa. Pemerintah membuat skenario ‘asimilasi budaya’ dengan menghapus budaya Cina. Sekolah-sekolah Cina ditutup, buku-buku Cina dibredel, dan perayaan tahun Baru Cina dilarang.

Pada masa awal di penjara, ia diijinkan untuk mengunjungi keluarga dan diberikan hak-hak tertentu sebagai tahanan. Di masa ini, ia dan teman penjaranya diberikan berbagai pekerjaan yang berat. Hasil tulisan-tulisannya diambil darinya, dimusnahkan atau hilang. Tanpa pena dan kertas, ia mengarang berbagai cerita kepada teman penjaranya di malam hari untuk mendorong semangat juang mereka.

Pada tahun 1972, saat di penjara, Pramoedya ”terpaksa” diperbolehkan oleh rezim Soeharto untuk tetap menulis di penjara. Setelah akhirnya memperoleh pena dan kertas, Pramoedya bisa menulis kembali apalagi ada tahanan lain yang menggantikan pekerjaannya. Selama dalam penjara (1965-1979) ia menulis 4 rangkaian novel sejarah yang kemudian semakin mengukuhkan reputasinya.

Dua di antaranya adalah Bumi Manusia (1980) dan Anak Semua Bangsa (1980), mendapat perhatian dan kritikan setelah diterbitkan, dan pemerintah membredelnya, dua volume lainnya dari tetralogi ini, Jejak Langkah dan Rumah Kaca terpaksa dipublikasikan di luar negeri.

Karya ini menggambarkan secara komprehensif tentang masyarakat Jawa ketika Belanda masih memerintah di awal abad 20. Sebagai perbandingan dengan karya awalnya, karya terakhirnya ini ditulis dengan gaya bahasa naratif yang sederhana. Sementara itu, enam buku lainnya disita oleh pemerintah dan hilang untuk selamanya.

Beberapa tahun setelah dibebaskan tahun 1969, Pramoedya dijadikan tahanan rumah dan harus melapor setiap minggu kepada militer. Kini belasan bukunya sudah diterjemahkan lebih dari 30 puluh bahasa termasuk Belanda, Jerman, Jepang, Rusia dan Inggris. Karena prestasinya inilah ia dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia (selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time dan telah memperoleh berrbagai penghargaan seperti PEN Freedom-to-Write Award, Wertheim Award dari Belanda, serta Ramon Magsaysay Award (dinilai dengan brilyan menonjolkan kebangkitan dan pengalaman moderen rakyat Indonesia).

Tahun 2002, bersama musisi Iwan Fals dan Pramoedia Ananta Toer juga dinobatkan majalah Time Asia sebagai “Asian Heroes”. (TokohIndonesia DotCom)

Categories: sosok Tag:, , ,

AKU KUTUK KALIAN…(PENGGUNA FECEBOOK)

November 27, 2009 novi471 4 komentar

Aku ingin mengutuk kalian yang berada di fecebook

Aku kutuk kalian semua…
besok kalau mati akan masuk surga

Aku kutuk kalian…para maniak FB
semoga kelak mendapat kebahagiaan dunia dan akherat

Orang lain yang membaca ini juga kukutuk supaya memiliki hati dan jiwa yang besar

Sedang orang lain yang melecehkan tulisanku ini
Kalian…juga kukutuk supaya menjadi orang yang sabar dan welas asih

Jika ada orang yang tidak baca fbku ini karena tidak sempat atau lupa
maka kalian…kukutuk…memilik

i akhlaq yang baik

Adapun para FB yang sukanya mempermainkan orang
Kalian….kukutuk supaya permainan yang Anda mainkan membawa kemaslahatan bagi orang banyak

Aku kutuk kalian semua lupa terhadap masalah duniawi dan hanya memikirkan Yang Haq saja

Jika kutukan ini tidak diindahkan oleh kalian semua
Aku akan mengutuk kalian semua supaya segera bertemu dengan Tuhan dan bermesra-mesraan denganNya di alam maul haya atau alam keabadian

Sebaliknya jika kalian tidak suka dengan kutukanku
Maka, kutuklah aku dengan kutukan yang sangat aku inginkan

Niscaya kutukanku ini dapat membawa kalian menggapai apa yang kalian inginkan

Wallahua’lam bissawaf,

(dr joglo facebook Simo-Surabaya, pukul 23.00)

Categories: umum Tag:, ,

Kok Nyimut…

November 27, 2009 novi471 2 komentar

Kok nyimut…
Emang aku cowok apaan bisa disuap dengan uang?
Biar sejuta, semilyar, setrilyun….cuih…cuih..

.aku ga akan menerima
Enak benar bawa uang segebok trus matinya dibakar di neraka.

Kok nyimut…
Emang aku seperti orang yang gila jabatan
Apakah lantaran statusku yang jobless amatiran trus bisa disepelekan?
Gini-gini aku masih punya harga pada setiap pasukan yang menempel di tubuhku

Kok nyimut…
Ikut-ikutan orang memperebutkan sesuatu yg sebenarnya mereka sendiri belum paham.
Awalnya,
Saling berargumen
Saling memperolok
Mengejek
Lantas baku hantam
Endingnya, bunuh-bunuhan

Kok nyimut…
Menghabiskan tenaga membantu orang lain sedang kita sendiri masih butuh bantuan
Lalu kapan sebenarnya timing yang pas buat membantu orang?
Ya, sak wayah-wayah.
Kapan itu?
Setiap saat
Saat kapan?
Saat kita bersedia menyisihkan waktu susah kita, waktu senggang kita, waktu bahagia kita, waktu derita kita, waktu sedih kita, waktu senang kita, demi orang lain.

Kok nyimut…
Naik motor panas-panasan padahal mending enak naik mobil. Tapi naik mobil mewah tetap akan kalah dengan naik motor yang kepanasan tapi jika mereka bisa menikmatinya

Kok nyimut…
Menikah sekali padahal enak berkali-kali, lebih tidak enak jika tidak menikah
Menikah berkali-kali dengan istri pertama dan terakhir, yakni hatinya yang senantiasa menikah berkali-kali sehingga seperti menghasilkan malam pertama setiap saat.

Kok nyimut…
Berdiam diri padahal banyak yang bisa kita lakukan dengan otak kita yang kreatif ini. Apakah mencuri, njambret, merampok, ah, salah itu kreatif. Kreatif itu mengubah matahari dari terbit di timur menjadi terbit dari barat. Sama halnya merubah koruptor di negeri ini menyembah Tuhannya, secara lahir maupun batin. Bisakah kita? Mustahil kan. Sudah kutebak…

Kok nyimut…
Memilih neraka padahal sudah ada surga. Tapi kalau Tuhan yang bicara bahwa kita masuk neraka, apa mau ngomel. Golong wali saja ga pernah mempermasalahkan itu. He…he…he..
Rasakan tuh, Tuhan sedang murka
Emang adakah Tuhan punya nama murka
Asmaul husna tidak pernah menyebut itu
Tuhan ga murka my men!
Tuhan cuma mengujimu, menguji kita semua…

From Joglo di Ketintang
Pukul 15.07 Senin, 14 Sept 09

Categories: religi Tag:, ,

Briana Banks — Artis Bokep yang Tewas Usai Ngeseks Dengan Kuda Liar

November 27, 2009 novi471 1 comment

Dalam dunia film porno, nama Briana Banks sudah menjadi ikon seks. Siapa kira gadis yang dulunya pemalu ini menjadi salah satu selebriti di dunia film pengumbar syahwat. Ya, gadis super seksi ini menjadi salah satu bintang porno Amerika yang penuh sensasi. Debutnya dalam perindustrian film porno telah punya tempat tersendiri di hati para penggemarnya. Namun demikian, manusia tetaplah manusia yang terbingkai oleh batasan. Nyawa Banks tak tertolong ketika dia harus menyerahkan nyawanya kepada seekor kuda jantan, bernama Black stallion. Banks menghembuskan nafas terakhir setelah berhubungan badan dengan si kuda.

CIUMAN PERTAMA
Keindahan tubuhnya tak disangsikan. Dia memiliki daya magis yang menarik perhatian kaum adam, terutama para penggila pornografi. Banks tak ubahnya Dewi Cinta. Namanya diagung-agungkan. Tak sedikit pula cowok maupun cewek yang berhasrat untuk tidur dengan Banks. Dia benar-benar mempesona.
Namanya Briana Bany. Panggilan Briana Banks. Lahir pada tanggal 21 Mei 1978 di Munich, Jerman. Zodiaknya Gemini. Dengan rambut pirang dan bermata biru, sudah terlihat kalau ia memiliki kecantikan yang mempesona. Ini dikarenakan Banks memiliki darah campuran atau lebih dikenal dengan blasteran. Lahir dari ibu berkebangsaan Jerman dan ayah berkebangsaan Italy,
Banks sudah sering berpindah-pindah negara. Saat ibunya pindah ke California, Banks tetap tinggal bersama ayahnya di Jerman dan juga di Inggris sampai usia 7 tahun. Setelah itu, Banks pindah ke Amerika Serikat mengikuti jejak ibunya lagi. Banks baru resmi menjadi warga Amerika saat usianya 18 tahun. Sampai pada usia itu, Banks hanyalah seorang gadis pemalu saja. Bila berdekatan dengan cowok, tubuh Banks menggigil ketakutan.
Selama mengenyam di bangku SMA, Banks sama sekali tak mengenal arti kencan, cinta, apalagi seks. Jangankan cinta, ciuman saja tak pernah. Banks benar-benar gadis pemalu. Malahan, ia pernah pingsan ketika digoda cowok.
Ceritanya, cowok itu sangat ngebet dengan Banks. Dia terus mengejar-ngejar Banks. Tak kuasa menahan cintanya sang cowok, Banks pun pingsan. Lucu ya.,, Seorang bintang porno dunia, ternyata memiliki pengalaman unik, yang ia sendiri tak menyadari keunikannya.
Semasa SMA, Banks adalah gadis yang sangat pemalu dan penyendiri. Ia tak seperti gadis lainnya yang suka berkencan. Bahkan, menurut pengakuan saudaranya, Banks belum pernah berciuman dengan pria sebelumnya. Bisa dibilang, Banks adalah gadis kuper alias kurang perhatian. Setiap ada cowok mendekat, Banks langsung lari. Ia memang tak pernah pacaran, apalagi disakiti cowok. Keluarganya juga baik-baik saja; tidak broken home. pada dirinya, lambat laut pudar.
Di usia remaja, Banks pernah mengalami masa puber. Saat itu usianya baru 17 tahun. Dari situ, prilaku gadis pemalu yang melekat pada dirinya, lambat laut pudar. Banks menjalin asmara dengan teman sekolahnya. Mereka kencan. Dan, pada malamnya, Banks dicium cowok tersebut. Mereka pacaran. Sayang, menginjak 2 bulan, hubungan mereka kandas karena tak ada kecocokan.
Sejak patah hati, Banks mulai membuka diri pada dunia. Banks mulai berani bergaul dengan teman-teman sebayanya. Banks tak lagi takut dengan laki-laki. Setiap ada laki-laki yang mendekatinya, disambutnya dengan tangan terbuka.
Selama mengenyam pendidikan di bangku SMA, Banks telah mencacat rekor gemilang dalam prestasi olahraga. Dia sempat tercatat sebagai pelari wanita tercepat. Dan Banks, juga penggemar olah raga volley dan atletik.
Nama Banks mulai menanjak. Ia tak lagi menjadi gadis lugu, pendiam, dan pemalu. Banks mulai pandai berdandan. Seksi dan cantik. Di sekolah, Banks dikenal sebagai gadis penakluk cowok. Tidak sedikit cowok yang berebut menjadi pacarnya atau sekedar tidur dengannya. Banks pun menjadi primadona di sekolahnya.

FILM PERTAMA DAN ORGASME PERTAMA
Semasa remaja kehidupan Banks dibilang cukup sulit. Ia dan adik perempuannya harus bekerja keras mencari uang untuk bayar sewa apartemen. Selepas SMA, Banks bekerja sebagai auditor asuransi di salah satu bank swasta. Kirakira 2 tahun. Harapannya untuk meningkatkan ekonomi keluarga kandas. Sebab, Banks merasa pekerjaan yang dilakoninya sangat membosankan. Ia pun pindah kerja di sebuah restoran dan menjadi model di salah satu butik.
Selama bekerja di dunia model, tiba-tiba sebuah ide gila muncul. Banks memutuskan untuk terjun di industri film porno. Demi film dewasa itu, Banks rela meninggalkan segalanya; ketenaran sebagai cheerleader di kampus, temanteman, pekerjaan, dan keluarganya.
Karirnya dalam bisnis hiburan film dewasa di mulai tahun 1999. Saat itu, ia berusia 19 tahun. Dengan tinggi 178 cm, dan berat 65 kg. Ukuran payudaranya pun terbilang fantastis; 36DD-24-31. Rambut pirang dan mata biru. Kakinya yang panjang dan indah. Senyumnya yang menggoda serta menawan. Dan beberapa tato yang menunjukan sisi liarnya.
Dengan gencar, Banks mulai mempromosikan dirinya menjadi bintang porno dunia yang memiliki talenta luar biasa. Berbeda dari yang lain. Dengan itu semua, Banks mampu menunjukkan pada dunia, siapa dia sebenarnya.
Nama Banks mulai dikenal. Majalah dewasa, Penthouse menawarkan Banks menjadi model foto telanjang. Banks menerima tawaran tersebut. Pada edisi bulan Juni, foto-foto telanjang banks mengihiasi majalah tersebut sebanyak 12 halaman. Dari situ Banks dibayar $ 1.000.
Rumah produksi Vivid tertarik dengan pose-pose panas Banks. Vivid adalah perusahaan film porno terbesar. Vivid mengajukan tawaran Banks sebagai aktris untuk membintangi sebuah film porno. Kesempatan ini tak disiasiakan Banks. Tanpa buang waktu, ia menerima tawaran tersebut. Walau sebelumnya Banks tak pernah berpikir menjadi bintang porno.
Di usianya yang ke-22 tahun, Banks menandatangani kontrak selama 2 tahun untuk membintangi kurang lebih 30 film porno. Ia menganggap dirinya biasa-biasa saja. Tak seseksi yang orang bilang. Bahkan, boleh dibilang Banks terlalu kurus. Namun, para pengamat memandangnya lain. Banks tetap memiliki daya tarik seksual yang tinggi.
Pengalaman seks serta orgasme pertamanya didapat
saat ia membintangi film pertama. Jadi, boleh dibilang keperawanan Banks terampas dalam film pornonya yang pertama dengan judul University Coeds.
Maklum, selama berhubungan dengan pria, Banks tak pernah merasakan puas atau orgasme. Banks
bukannya menyesal. Justru ia merasa senang telah melakukan sesuatu yang terbaik. Ia beralasan, para fansnya dapat melihatnya tumbuh dari gadis remaja menjadi gadis dewasa melalui film-filmnya.
Merasa kurang percaya diri, di tahun 1999 Banks melakukan operasi plastik untuk memperbesar kedua payudaranya. Untuk memudahkan langkahnya, ia mengubah namanya. Dari Briana Bany menjadi Mirage Briana Banks. Ini pun dilakukan atas saran sesama teman seprofesinya Lita.

NGESEKS DENGAN KUDA STALLION DAN MATI…
Seperti di film The Watcher #03. Di film itu ia berhubungan seks dengan Pat Myne dan Bobby Vitale di meja dapur. Dalam film little Chicks dan Big Black Monster Dick #06, Banks berani bermain hardcore dengan Jake Steed. Seperti yang sudah diduga, film-film tersebut langsung menjadi hit.
Yang lebih mengejutkan, rupanya di salah satu film tersebut, Banks memainkan peran biseksual. Film itu berjudul “Briana Loves Jenna”. Ia terlibat adegan panas dengan bintang panas Jenna Jameson. Tentu saja dengan seorang cowok juga. Hanya dalam tempo singkat, film tersebut menjadi film panas terbaik sepanjang tahun.
Tak ayal, Banks pun meraih predikat sebagai artis porno paling popular dan unik. Penampilan sensual serta aura seks kerap mengelilinginya. Banks terus berkiprah dalam bisnis ini. Dia berusaha menarik perhatian para pengemar sebanyak mungkin. Mencoba menyajikan film-film sensasional dan super panas yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Selama bergabung dengan Vivid Production, Banks sedikitnya telah membintangi 150 film dewasa, baik fetish, anal, oral, dan hardcore. Atas aktingnya itu, Banks sempat mendapat beberapa penghargaan. Di antaranya Penthouse Pet June 2001, Hot D’Or Cannes 2001 – Best American New Starlet, AVN’s “Best Renting Title of the Year” 2003, AVN’s “Best Selling Title of the Year” 2003.
Banks ingin menikmati hidupnya dan menggeluti lebih serius hobinya yang dulu sempat tertunda. Hobinya terbilang cukup berbahaya bagi kaum wanita. Ia sangat kagum dengan dunia balap seperti Super Motorcross, Snowboarding atau berselancar.
Sayang, keinginan penggemar film “casino” “, “Scarface” dan “King Pin” serta penggemar grup band The Dave Mathews Band dan Linkin Park ini tak terlaksana. Sebab sebelumnya Banks mengalami peristiwa tragis. Sesuatu yang tak lazim.
Peristiwa itu terjadi saat Banks mendapat undangan dari seorang pengusaha muda kaya untuk menghadiri pesta ulang tahunnya. Karena menerima undangan dari orang yang cukup popular di dunia bisnis, Banks memutuskan menghadirinya. Tak diduga kalau pesta yang dihadirinya akan membawa petaka dan mengakhiri hidupnya.
Saat Banks sedang menikmati pesta, tiba-tiba sang tuan rumah menghampirinya. Mereka berbicara panjang lebar. Karena tahu Banks adalah seorang bintang porno yang terkenal, pengusaha muda tersebut mengajukan tantangan pada Banks. Banks ditantang untuk melakukan animal seks dengan kuda jantan black stallion warna hitam kesayangan sang tuan rumah. Bila Banks berani melakukannya, kata si tuan rumah, ia akan dibayar sebesar US $ 10 ribu. Merasa tertantang, Banks memutuskan melakukannya. Kuda jantan pun dikeluarkan. Banks sendiri tengah bersiap-siap melakukan aksinya.
Tanpa menunggu waktu, banks berhubungan seks dengan kuda tersebut. Tak beberapa lama, Banks merasa pusing. Ia pun jatuh pingsan. Tubuhnya kejang-kejang. Banks segera dilarikan ke rumah sakit.
Selama di rumah sakit, Banks merasa tersiksa. Dia meraungraung kesakitan. Apa yang terjadi? Sesaat setelah penis kuda dicabut dari vagina Banks, nampak dari segar mengalir deras. Banks tak sadarkan diri.
Melihat itu, si pemilik kuda langsung mengambil tindakan. Banks pun dilarikan di rumah sakit terdekat. Beberapa undangan yang hadir di pesta nampak shock. Mereka tak menyangka sesuatu bakal terjadi pada diri Banks. Padahal sebelumnya, Banks terlihat baik-baik saja. Beberapa dari undangan yang hadir, mulai saling berbisik. Ada yang membodohkan tindakan Banks. “Dia itu konyol sekali. Masak Ngeseks sama kuda.”
Namun ada pula menyayangkan kejadian tersebut. Menangis. Meratapi nasib si bintang porno. Dan berdoa semoga Banks lekas sembuh. Sementara, di rumah sakit, Banks masih bergelut dengan penderitaannya. Dokter yang memeriksa menyatakan, vagina Banks mengalami sobek yang cukup lebar. Dinding-dinding vaginanya robek. Ini yang menyebabkan Banks mengeluarkan darah cukup banyak.
Dokter yang memeriksa, tak tega melihat penderitaan Banks. Banks, terkena karmanya sendiri. Setiap kali siuman, ia meronta kesakitan. Tangan dan kakinya tak hentihentinya bergerak. Dokter dan perawat yang menangani Banks nampak kuwalahan. Dokter pun sempat melakukan operasi. Dinding vagina Banks dijahit hingga 30 jahitan, tapi hal ini tak membuat darah yang keluar berhenti. Justru semakin banyak.
Dokter akhirnya lepas tangan. Mereka tak tahu bagaimana cara menghentikan pendarahan tersebut. Hanya satu yang bisa mereka lakukan, yakni memberi obat bius untuk menenangkan Banks. Dokter hanya bisa memberi obat penenang. Namun, hal itu tak pernah menghentikan pendarahan di bagian alat kelaminnya. Darah terus mengucur. Bersamaan itu, Banks pun merontaronta bagai orang disiksa. “Ahhh, ahhh, ahhh,” ini bukan rontaan Banks ketika bermain film. Bukan pula rontaan menahan rasa nikmat. Sebaliknya, ini adalah rontaan orang yang sedang menghadapi sekarat.
Dokter sudah lepas tangan. Mereka sudah tak sanggup menyembuhkan Banks. Hanya waktu yang bisa menentukan, apakah Banks bisa bertahan atau malah sebaliknya. Bahkan, anggota keluarga yang menjenguk tak sanggup melihat penderitaan Banks. Demikian Pula dengan Banks. Dia tak lagi mengenal sanak saudaranya.
Rintihannya, teriakannya, kepedihannya, membuat semua orang gemetaran. Beberapa dari Keluarga mereka malah menyarankan agar dokter segera menghilangkan rasa sakit Banks. Artinya, Banks harus disuntik mati. Sayangnya, para dokter tak sanggup melakukannya. Tak pelak, gadis berkebangsaan Jerman dan Italy ini pun dipaksa untuk menahan siksaan yang teramat pedih.
Tak terasa sudah hampir 10 jam Banks tergeletak menahan sakit. Darah masih mengucur dari kemaluannya. Entah sudah beberapa kali perawan mengganti kain. Bersamaan itu, seorang pastur dan pendeta didatangkan. Mereka mendoakan Banks. Berharap agar Banks bisa selamat.
Nahas, Tuhan berkata lain. Setelah sekian jam beradu kekuatan melawan maut, akhirnya bintang porno dunia itu menghembuskan nafas terakhir. Banks meninggal. Kontan, seluruh dunia menangis. Kini para penggemar porno tak bisa lagi melihat acting Banks.
Kematian Banks sungguh tragis. Matanya terbelalak. Kemaluannya tak henti hentinya meneteskan darah. Mungkin ini adalah adzab yang diberikan Tuhan kepada makhluknya. Sebuah adzab yang teramat pedih. [tamat]

Categories: artikel Tag:

Dialog Islam & Yahudi

Buku ini mengisahkan dialog Ahmad Deedat dengan Dr. E. Lottem, seorang negarawan Israel. Isi dari dialog ini termuat pada bab III, dengan judul bab “ Beberapa Orang Yahudi Yang Baik “..
Sedangkan sub judulnya antara lain : Bagaimana dengan orang-orang Arab, terindoktrinasi, hubungan saya dengan Yahudi, orang-orang Yahudi di Masjid, memperkenalkan Al Qur’an, lelucon terbesar di Israel, menguji tuntutan yang aneh (fantastis), menguji (test) kebenaran, masih dengan Yahudi yang baik, anak cucu Ibrahim, apakah mungkin benar, menangis bersama Mr. Rodinson, Deedat dipromosikan, Ismail anak haram. Itulah sub judul yang ada dalam bab III buku ini.

Dalam buku ini, Deedat menulis, ketika perdebatan akan dimulai, Ahmad Deedat disuruhnya memilih tema perdebatan. Pihak penyelenggara yaitu Universitas Natal, Durban yang diwakili Professor Mason. Professor itu bertanya kepada saya, bagaimana cara terbaik untuk mengemukakan topic. Saya mengusulkan “ Baik dan Buruk Israel”. Mason, tidak memberikan jawaban langsung kepada Deedat, tetapi akan mendiskusikan terlebih dahulu kepada Dr. E Lottem. Setelah dua hari menunggu, Mason memberikan jawaban kepada Deedat bahwa topik perdebatan diganti menjadi “ Konflik atau Damai”.

Dari judul itu saja, menurut penulis sudah mengandung unsur menjebak kepada lawan bicara, jelasnya. “ Konflik atau Damai?”, mana yang anda pilih? Bagaimanapun akan lebih baik apabila tidak memilih keduanya. Bila kita memilih Konflik, dalam perdebatan tersebut, kita akan menyulut api permusuhan dengan hampir setiap audien. Sedangkan bila memilih “Damai”, orang-orang Yahudi itu akan berkata : “mengapa anda melempari kami dengan batu”?

Itulah Yahudi, mau menang sendiri. Sebenarnya dalam perdebatan dengan mengambil slogan “Perang atau Damai” merupakan tipuan 2000 tahun lalu. Tipuan semacam itu pernah dilakukan Ummat Yahudi kepada Nabi Isa as.

Dikisahkan : Suatu saat datang kepada Isa as beberapa tokoh Yahudi. Mereka menanyakan tentang boleh tidaknya mereka membayar pajak kepada Pemerintah Romawi. “ Guru, kami tahu, engkau adalah seorang yang jujur dan dengan kejujuran mengajak ke jalan Allah. Dan engkau tidak takut kepada siappun juga, sebab engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami tentang pendapatmu; apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Tetapi Nabi Isa as mengetahui kejahatan di hati mereka lalu berkata: “ Mengapa kamu mengerjai aku hai orang munafik? Tunjukkanlah kepadaku mata uang untuk pajak itu”. Mereka membawa satu Dinar kepadanya. Maka Isa bertanya kepada mereka: “ Gambar dan tulisan siapakah ini? Mereka menjawab: “ gambar dan tulisan Kaisar”. Lalu kata Yesus kepada mereka: berikanlah apa yang wajib kau berikan kepada Kaisar. Dan berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Matius, 22: 16-21).

Dari kisah itu, menunjukkan bahwa kaum Yahudi hendak memperdayai Isa as dengan pertanyaan menjebak, seperti pertanyaan yang dilakukan kepada Ahmad Deedat dalam dialog antara dirinya dengan Dr. E Lottem. Yesus ternyata tidak kalah Yahudinya dari pada mereka yang menanyainya. Akal bulus Yahudi dibalas dengan akal yang tulus oleh Isa as.

Dalam pertanyaan itu, bila Isa as menjawab “ Bayarlah Pajak (upeti), maka pemimpin-pemimpin Yahudi itu akan mengatakan kepada khalayak bahwa Yesus bukan juru selamat yang membebaskan orang-orang Yahudi dari perbudakan Romawi. Sebaliknya, mereka akan menganggapnya dan menyebarluaskannya Yesus sebagai kaki tangan penindas Romawi. Tetapi bila mengatakan “ Jangan Membayar Upeti”, tentu mereka tidak akan membayar upeti, dengan alasan Yesus Sang Juru Selamat melarang mereka membayar upeti kepada Raja. Dengan demikian Yesus akan berurusan dengan para penguasa. Bila hal itu terjadi, artinya Yesus mesti kalah. Itulah watak bangsa Yahudi.

Dalam masa kenabian Isa as, perlakuan semacam itu sudah sering dilakukan oleh Yahudi. Diantaranya adalah: “Maka ahli Taurat dan orang Farisi membawa kepadanya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu ditengah-tengah dan berkata kepada Yesus. “Rabi, perempuan ini tertangkap basah sedang berbuat zina, Musa dalam hokum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapatmu tentang hal itu?
Mereka melakukan hal itu untuk mencobai, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk bisa menyalahkannya. Tetapi Yesus, membungkuk, lalu menulis dengan jarinya ditanah. Dan ketika mereka terus menerus bertanya kepadanya, iapun bangkit berdiri lalu berkatakepada mereka,”Barang siapa diantara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melempar batu kepada perempuan itu.” (Johanes, 8 :3-7).

Bila saja ketika itu Yesus mengatakan kepada mereka “Biarkanlah wanita ini pergi”, tentu mereka akan mengumumkan kepada bangsanya bahwa orang ini bukan utusan Tuhan, “Dia bukan Juru Selamat yang kita tunggu-tunggu”. Sebab dalam Zabur (20:10) tertulis “Bahwa pezina pria maupun wanita harus dihukum mati”.

Sebaliknya bila Yesus mengatakan bahwa hukuman mati itu ditetapkan berdasarkan ajaran Taurat dari Musa as, maka sudah dapat dipastikan mereka akan merajam wanita itu sampai mati, walau itu bertentangan dengan hokum setempat, karena perzinahan tidaklah dipandang sebagai kejahatan pokok dalam Kerajaan Romawi. Utusan Tuhan itu, mengenal baik masyarakat Yahudi sebagai suatu bangsa yang jahat dan maksiat.

Kalau dulu, nenek moyang Yahudi melakukan kepada para utusan Allah, kini anak cucunya melakukan kepada saya, Kata Ahmad Dedat. Dialog yang temanya mereka pilih sendiri dengan judul “ Konflik atau Damai ”, merupakan sebuah pengulangan sejarah watak Yahudi sepanjang jaman. Karakter bangsa Yahudi, tidak mau diatur bahkan oleh Allah Sang Pencipta sekalipun. Mau menang sendiri, mau enak sendiri, menganggap bangsanya sebagai manusia pilihan, sedangkan bangsa lain dianggap sebagai hewan yang boleh diperlakukan semaunya.

Watak jahat, merampok, membunuh, memperkosa, menipu, tidak bisa dipercaya, pembohong, rentenir, mentuhankan diri sendiri, adu domba, memalsu kitab dan sejarah, senang melihat orang lain menderita, tidak memiliki rasa kemanusiaan dan keadilan, bangsa terkutuk, senang menciptakan huru-hara baik lewat politik, ekonomi, pendidikan, maupun budaya dan lainnya.

Pendeknya, semua sifat kejelekan ada pada setiap individu maupun kelompok Yahudi. Dalam buku Ahmad Dedat yang berjudul “ Dialog Islam & Yahudi ” ini, banyak diungkapkan rahasia tentang keyahudian. Walau demikian, masih ada sebagian kecil orang Yahudi yang baik. Tetapi, mereka juga tak berdaya dihadapan para Hakom, pendeta Yahudi yang menguasai ummat. Mereka mengaku sebagai manusia suci, ahli Taurat. Namun sejatinya, mereka adalah para pengabdi Syetan yang terkutuk. Mereka mengaku dan lebih senang menerima Talmut sebagai kitab sucinya yang mereka terima dari Iblis Laknatullah, melalui hakom-hakom.

Banyak orang Yahudi menjadi pimpinan agama-agama yang ada di dunia. Tetapi keahliannya sebagai tokoh agama-agama, hanya dijadikan sebagai jalan untuk merusak ummatnya. Hal ini sebenarnya amat jelas terlihat, namun kita telah tertipu oleh penampilan mereka. Atau kita memang rela menjadi hewan, budak dan permainan bangsa terkutuk itu.***

Categories: artikel Tag:,

Indonesia Jago Musik

November 27, 2009 novi471 1 comment

Siapa bilang musisi Indonesia tidak bisa menjadi pelopor dalam dunia musik Internasional?
The Tielman Brothers adalah jawabannya!
Band Rock lawas yang kini mulai dilupakan bahkan oleh warga asalnya, yaitu Maluku, ternyata memiki segudang prestasi. Bahkan band ini memiliki pengaruh hingga ke Negara Eropa terutama di Belanda.
Group ini lahir 11 tahun sebelum munculnya gitaris Jimi Hendrik. Kabarnya Jimi Hendrik, The Beattles sangat kagum dan menjadikan group ini sebagai inspirator musiknya.

Para Rockmania negeri ini tak malu membicarakan group Band papan atas asal luar negeri. Bahkan tidak sedikit masyarakat negeri ini dari mulai kelas bawah hingga kelas terpandang, mengagumi dan menggandrungi musik rock manca Negara. Gaya-gaya Band seperti Metallica, Slipknot, Dragon Force, Korn dan lain sebagainya amat mempesona kawula muda.

Dan bila ditanyakan kepada mereka, siapa nama band tertua didunia? Mereka pasti dan secara serentak akan memberikan jawaban ynag sama yaitu The Beatles, The Rolling Stone, Elvis, Fats Domino atau Bill haley dan lainnya.

Namun masih ada band tempo dulu berasal dari negeri kolam susu, yaitu The Tielman Brothers. Band ini pernah diawaki oleh empat orang bersaudara asal Maluku. Awalnya, band ini bernama The Timor Rythm Brothers. Nama ini kemudian berubah menjadi The Four Tielman Brothers, masing-masing terdiri dari Andy (lead guitar, vocal) Reggy (rhythm guitar, vocal), Phonton (double bass, vocal), Loulou (drums, vocal). Empat orang bersaudara Tielman ini, memulai kariernya sejak tahun 1945 di Surabaya.

Perjalanan karier Empat anak muda ini, terbilang mulus. Hal itu selain karena kepiawaiannya dalam bermain musik, dukungan Herman Tielman dan Flora Lorine Hess yang merupakan ayah dan ibu mereka dan menjadi Managernya, juga merupakan factor pendukung kesuksesan Tielman Brothers.

Di tahun 1956, Tielman Brothers hijrah ke Breda, Belanda. Di Negeri Kincir Angin itu, mereka mulai masuk dapur rekaman. Dari negeri yang pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun itulah, The Tielman menjelajah dengan musik rocknya. The Tielman, memberikan pengaruh yang cukup dahsyat bagi masyarakat luar negeri, terutama dalam musik rock kala itu.

Penampilan mereka juga cukup memukau publik di Belanda
khususnya dan Eropa pada umumnya. Bisa dibilang mereka
lah yang pertama kali memulai atraksi panggung yang liar dan
atraktif, seperti bermain gitar dan juga double bass sambil
melompat atau berguling-gulingan, serta tentunya demo drums.

Kepindahan mereka ke negeri Belanda dengan membawa budaya tropis dan kecintaan kepada gitar ini ternyata melahirkan “Indo-Rock” yang terkenal itu. Ciri kuat Indo-Rock adalah dominasi gitar, instrumen yang dikenalkan orang-orang Portugis saat datang ke Hindia-Belanda sekitar abad ke-14. Permainan gitar ala Portugis yang akhirnya dikenal sebagai musik keroncong ini dipadukan oleh anak-anak Maluku itu dengan musik Hawaii, country, dan rock’n’roll yang mereka dengar dari radio-radio Amerika Serikat yang dipancarluaskan dari Filipina dan atau Australia.

Ada beberapa fakta yang sangat mengejutkan dari band ini.
Jauh sebelum publik rock terpesona dan berdecak kagum dengan permainan gila gitaris Jimi Hendrix pada tahun 1967, salah satu personil TheTielman Brothers, Andy Tielman, sang frontman telah memulai teknik tersebut pada tahun 1956 atau 11 tahun sebelum Jimi Hendrix bereksperimen dengan gitarnya. Gaya Andy dan teknik gitarnya sangat memukau. Gitar yang dipetik menggunakan gigi, kaki, jauh sebelumnya telah mendahului Jimi Hendrix.

Konon, Paul McCartney Ternyata mengagumi band ini dan terinspirasi The Tielman Brothers sebelum The Beatles terkenal pada awal 1960-an. Maklumlah, The Tielman Brothers telah membawakan lagu-lagu rock n roll jauh sebelum The Beatles muncul.

Saat The Beatles manggung pertama kali di Jerman, grup band asal Inggris ini sempat melihat penampilan The Tielmans Brothers yang manggung menggunakan Hofner Violin bass. Dan saat itulah untuk yang pertamakalinya Paul melihat Bass Violin Hofner. Andy Tielmans sang gitaris memakai Fender Jazz Master khusus 10 strings. Fender sengaja mengirim representative-nya ke Jerman saat itu untuk merancang gitar buat Andy Tielmans.

Di tahun 1958 TheTielmans Brothers punya 3 album yang jadi hits di seluruh dunia dan memiliki banyak Gibson Les Paul keluaran pertama yang baru di impor ke Belanda saat itu.

Dalam perjalanan sebuah band, tentunya ada kisah yang tidak menyenangkan pula, seperti halnya pergantian dan keluar masuknya personil band.

Bagi The Tielman Brothers, hal itu bukanlah masalah sehingga bisa membuat band ini harus berhenti di tengah jalan. Yang ada malah prestasi yang luar biasa, dimana mereka bisa tetap eksis dan tampil di beberapa Negara di Eropa selain Belanda seperti Belgia dan Jerman.

Sayangnya, di tahun 1976 band ini dikabarkan bubar karena boleh dikatakan permainan musik mereka terkesan mandek dan tidak ada perkembangan alias kurang eksploratif. Mereka bermain musik di tataran yang itu-itu saja, dan itulah yang akhirnya membuat publik menjadi bosan. Begitupun, karya mereka sampai sekarang masih sangat digemari di luar negeri, terutama di Belanda.
Kini tinggal Andy Tielman saja yang masih eksis bermain musik dan tinggal di Belanda. Di usianya yang sudah semakin senja,
Andy Tielman kini lebih banyak rekaman untuk lagu-lagu rohani dan sesekali tampil di publik Belanda dengan gitarnya.
Tentu penampilannya tak bisa seliar dulu lagi. Namun pengaruh Indo-Rock dan histeria “Beatlemania” tak urung meletuskan pula revolusi musik rock Belanda pada tahun 1960 an, yang ditandai dengan kelahiran band-band Belanda yang bernyanyi dengan bahasa Inggris.(berbagai sumber)

Categories: artikel Tag:, ,

INVESTASI TAEK

November 27, 2009 novi471 1 comment

Kemarin malam mendekati subuh, saya bersepeda dengan “lelaki itu” melewati Citraland Lakarsatri. Tiba-tiba “lelaki itu” berkomentar: “puih, lihat..orang Cina di Indonesia hidup serba bebas.”
Saya tahu maksud “lelaki itu”, memang benar tak jauh dari tempat kami ada sebuah perkampungan. Sungguh pemandangan yang benar-benar kontras. Di satu sisi orang hidup serba glamour, sedang lainnya hidup ala adanya. Ini tentu membuat pemikiran saya jadi carut marut. Apa yang ada di benak langsung keluar, tak sadar mengamini kata-kata “lelaki itu”.
“Teman saya sangat benar. Di sini orang Cina hidup serba enak, sedang pribumi sangat menderita. Lalu, kira-kira, apa yang membuat semua kehidupan di negeri ini sangat compang-camping?”
Saya kira ini adalah akibat dari kiblat kita yang tidak benar? Itu pikiran pertama yang keluar dari benak saya.
Kiblat yang mana? Ah, pasti teman-teman juga bertanya. Yang tak maksud kiblat adalah umaro, imam, dan pimpinan negeri ini. Yah, semua pemimpin negeri ini sudah termakan oleh janji-janji kapitalisme. Kalau sudah begini jangan salahkan rakyat dong. Apa-apa kalau menderita dan miskin, pasti rakyat yang dijadikan kambing hitamnya. Kata mereka rakyat Indonesia bodoh-bodoh. Lihatlah bangsa Cina, mereka memiliki sense unlimited.
Tapi buru-buru ini saya bantah. Saya bilang orang Indonesia tidak bodoh. Kalau orang Indonesia bodoh, negara ini tentu tidak akan merdeka seperti sekarang ini. Lihat saja sejarah, betapa hebatnya rakyat ini melalui fase-fase kritis, dari perjuangan, pergerakan, demokrasi, revolusi hingga reformasi, telah dilalui.
Pada saat perjuangan atau revolusi dulu, hayo kemana orang-orang Cina. Tidak ada kan. Siapa yang membantu perjuangan kita tempo dulu, tidak ada juga kan. Maka dari itu, sebenarnya rakyat ini termasuk dalam golongan orang-orang hebat. Bagaimana tidak hebat, lha wong mereka adalah keturunan Majapahit.
Makanya, ketika “lelaki itu” bilang orang Cina dan bangsa eropa hidup di negeri ini, mereka bagai raja-raja yang bisa cuma membuat derita bagi rakyat ini. Lagi-lagi siapa yang salah? Jelas saya menyalahkan pimpinan, sebab di tangan pimpinanlah negeri ini nantinya menjadi putih, hitam ataukah abu-abu. Yang jelas sampai detik ini negeri ini masih hitam. Itu semua karena kebijakan demi kebijakan yang diambil pemimpin ini serba salah. Alasan mereka ini adalah bentuk investasi jangka panjang, untuk pembangunan negeri, untuk kemajuan bangsa. Tapi menurut saya, itu adalah INVESTASI TAEK.

Dari “Pengejawantahan” joglo dekat Kampus UWK
Pukul 00.19, 17 nov 09.

Categories: artikel Tag:, ,

Menjadi Satria Bisma

Malamnya kami, aku dan Pak Sudi duduk di ruang tamu. Dengan ditemani kopi racikan sendiri, kami saling bertukar pikiran. Baru kutahu kalau Pak Sudi seorang kejawen. Setiap kata-kata yang mengalir dari bibirnya mengandung makna filosofi yang dalam. Kukira ia dulunya seorang dalang, tapi setelah kutanya ternyata kakeknya yang seorang dalang. Dia sendiri mengaku hanya petani biasa. Pantas dari cara bicara dan bertutur, Pak Sudi seakan paham betul mengenai liku-liku kehidupan manusia. Banyak hal yang kutangkap dari pembicaraan malam itu bersama beliau.
Menurut Pak Sudi, Jawa kita ini dulunya hanya satu titik kecil di tengah-tengah samudra. Setiap bangsa waktu itu mempunyai kebesarannya. Mereka tak lagi membutuhkan raja-raja bermodel memerintah, tapi raja yang mengayomi. Pernahkah kau lihat ada petani dalam cerita wayang?
Kujawab dengan mengangkat pundak, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Setahuku petani dalam cerita wayang tidak pernah ada. Yang ada hanya raja-raja, para satria, dan para pandita. Makin dekat pekerjaan seseorang pada tanah, makin tak ada kemuliaan pada dirinya, makin tidak terpikirkan dia oleh siapa pun. Itulah petani.
“Kamu tahu dengan cerita mengenai Satria Bisma?” Tanya Pak Sudi.
Aku menggeleng.
“Satri Bisma itu tewas di medan perang. Diceritakan dia hidup kembali dan hidup kembali setiap kali mayatnya menyentuh bumi atau tanah? Dia hidup lagi, berperang lagi, mati lagi, dan juga hidup lagi serta merta menyentuh tanah lagi. Dia abadi. Abadi selama bersinggungan dengan bumi. Bumi adalah petani, petani, dan petani.”
“Apa hubungannya raja dan petani?” Tanyaku penasaran.
“Kamu lihat petani adalah seorang kacung yang bisa diperintah dan dipermainkan. Tapi sebenarnya dia seorang yang berjiwa besar. Tanpa petani bangsa ini tidak akan merdeka. Petani adalah sejati-jatinya raja,” Pak Sudi berhenti, dia menatapku dengan sungguh-sungguh dan kemudian meneruskan, “jangan kau jadi burung cucakrowo yang bersahut dan tidak bersambut dalam sangkar. Jangan jadi dalang tiada cerita. Tanpa anak wayang pun dalang masih bisa, tapi tanpa cerita…anak wayang pun dia sendiri tidak. Seorang petani, wong cilik, rakyat jelata, memang mereka bukan dalang, tapi setidaknya mereka memiliki anak wayang yang bisa untuk diceritakan. Seorang raja tanpa anak wayang bukanlah siapa-siapa. Aku, kamu, bisa saja menjadi dalang sesuai dengan apa yang kau bisa. Tapi ingatlah, jika kau melakukannya tanpa cerita, tanpa anak wayang kau pun bukan apa-apa. Meski kau bukan dalang, kau pun dapat melakukan pekerjaanmu dengan sungguh-sungguh asal tidak mencelakai orang lain. Kamu bisa menjadi Satria Bisma selama hatimu kau tujukan kepada rakyat dan umat.” Penjelasan Pak Sudi benar-benar membuka pikiranku. (Dikutip dari novel Tuhan di Bawah Kedua Telapak Kakiku)

Categories: novel Tag:, , , , ,