Beranda > budaya > Maria Ulfa Putri Kencono Wungu

Maria Ulfa Putri Kencono Wungu

Setiap kali saya punya hari off tidak ngajar, selalu acara utama adalah berangkat ke Serang, bawa walesan bawa rokok, terus semalaman mendengar deburan ombak sambil nunggu kabkejan, mbok menowo ono Putri Duyung ngandoli pancingku. Tapi yang lebih banyak adalah berfikir rutinitas sehari-hari, yang mungkin bermasalah atau mencari inspirasi kreatif yang mungkin terlintas, ketika duduk dan kadang membaca wirid sambil melihat langit-langit yang dipenuhi bintang, meski lebih banyak tidur ngorok di atas batu karang.
Karena off tidak ngajar, pulang sengaja agak siang, nongkrong di rumah tempat parker sepeda. Eh… akhirnya muncul dua anak lelaki usia sekolah dan satu gadis usia sekolah juga. Karena saya sudah banyak dikenal (saking seringe mincing di situ), tiga anak tadi saya panggil, “sampeyan gak sekolah to lee… ?”
“Malas…!” jawab mereka.
“Nyapo, malas, saiki sekolah kan gratis, gurune yo ayu-ayu, sing lanang ngganteng-ngganteng kaya pak Budi ini”, kata saya nuturi.
“Pak Budi guru to Pak. Sak niko kok mincing, mboten mulang ?” Tanya salah satu lelaki itu.
“Yon ngene iki lho penake nek sekolah, iso mancing yo kerjo oleh bayar …!” Dua lelaki itu terlihat agak kaget dengan tuturan saya.
Lelaki pertama namanya Sutris, lelaki kedua Sidik dan gadisnya bernama Jaenab. Dua lelaki itu sudah biasa cari uang (ikut selam cari udang) untuk beli rokok, hehehe… mereka sudah merokok, dasar anak kurang ajar. Yo ngono kuwi lho nek gak sekolah, cilik wes pinter golek duwet nggo tuku rokok. Wakakaak… wong aku dhewe yo durung iso ngilangi, tapi wes ngurangi, ngurangi rokoke koncone.
Saat itulah saya kadang ngimpi pingin kaya raya, mereka yang tak sekolah tak gawekne asrama dhewe tak kon sekolah sing pinter terus mbangun desane. Bukan mimpi tapi menghayal yooo. Saat itu lah saya teringat Ibu Maria Ulfa.
Ibu Maria Ulfa itu seorang Guru SD di Kebondalem Mojosari Mojokerto. Lahir dari orang tua miskin, yang bisanya hanya buruh tandur, matun, derep. Bapaknya juga sama tukang macul sawah. Saat dia (Ibu Maria Ulfa) remaja dan memiliki 5 adik yang masih kecil-kecil, setiap bulan Rajab diajak berpuasa penuh, seperti bulan romadhon. Bukan nglakoni po piye, tapi karena sehari-hari makan lauknya hanya iwak uyah. Gek sego durung mesti genep nggo makan ping telu. Uyah jane dudu iwak, tapi wes kebacut koyok iwak tahu, iwak pitik. Wakakak… !
Beliaunya menjadi guru adik-adiknya dan dengan berbekal ijasah Aliyah, Bu Maria Ulfa menjadi guru honor dengan bayaran Rp.7.500,- per bulan, padahal jajan anak-anak saat itu sudah Rp. 10.000,- Tapi dengan keuletannya Bu Ulfa menyempatkan mengajar ngaji di TPA yang dibuatkan tetangganya. Tapi gak terima honor apa-apa.
Di sekolah semua anak-muridnya mencintainya, bukan karena kecantikannya atau bersih kulitnya, tapi memiliki kelebihan dalam mengajarkan anak-anak. Murid-muridnya, sering menyapa, “Bu Guru, aku nanti tak ke rumah, nanti tak pijiti …!” Bayangkan, ketika adik landesnya lulus Aliyah dan mau melamar di Bank Syariah, adiknya bertanya dulu, “Mbak, kalau kerja di bank gajinya besar ya ? Saya mau melamar ke sana Mbak”. Dengan tanggap Bu Ulfa, mbonceng adiknya dengan sepeda ontel sejauh 30 Km tadi ke cetak foto, dengan membawa telur yang mau dijual untuk biaya cetak foto. Dan ceritanya banyak sekali yang patut ditiru.
Dari kelihaian mengajarnya, meski dengan gaji Rp. 7.500,- ibu Ulfa diundang Mr. Stewart, Manager MBE (Managing Base Education) dan presentasi di Batu Jatim. Dari Batu disangoni Rp. 300.000,- Dengan senangnya kemudian uang itu dipakai untuk memplester lantai rumah, tapi sayang setelah diplester, dapurnya ambruk. Tapi terus mendapat undangan Mr . Stuwart, digendong terus ke mana-mana, sehingga di rumahnya tertempel foto-foto ketika bertemu Presiden George Bush, dengan tokoh-tokoh pendidikan dan saya belum pernah mengalaminya. Ketika diundang di Jakarta disangoni Rp. 3 juta, membuat dia tidak merasa hebat. Semua uangnya dipakai untuk menyekolahkan adik-adiknya atau kursus keterampilan lainnya. Ketika dia pamit ibunya, selalu menawarkan minta dibelikan apa Mbok ? Suatu ketika simboknya minta dibelikan tasbih yang sudah morat-marit minta ganti, tapi dijawab, “Oalah mbok-mbok wong wirid ae kok diitung-itung, wong gusti Allah lho nek menehi rejeki nggak dihitung… !
Sekarang usia bu Maria Ulfa sekitar 38 tahun dan setelah honor 20 tahun lamanya baru diangkat CPNS. Alhamdulillah, beliau sekarang menjadi Master Training of Trainer tingkat nasional. Meski hanya lulus PGSD II, tetap PD dengan apa yang dimilikinya. Termasuk juga dengan kebujangannya. Dalam petrkenalannya, Bu Maria Ulfa yang Hitam Mani situ, mempertkenalkan, “Saya adalah Putri Kencono Wungu. Kencononya ada di istana, yang di saya hanya kulit ungu ini. Sayang saya belum pernah ketemu, hanya dengar ceritanya, makanya saya MENCARI IBU MARIA ULFA …..! (budi elyas)

About these ads
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: