Arsip

Archive for the ‘artikel’ Category

Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag VI-TAMAT)

Februari 4, 2010 Tinggalkan Komentar

Ibu Guru Yanti telah tiada. Ia dimakamkan di pinggiran desa. Semua warga menolak jasad Ibu Guru Yanti, menurut mereka Ibu Guru Yanti tidak layak dimakamkan di desa Mayapada mengingat perbuatannya yang tidak dibenarkan oleh para wali murid. Di mata penduduk desa, nama Ibu Guru Yanti tidak berarti, bahkan desa tersebut mengharamkan nama Ibu Guru Yanti disebut-sebut. Sampai kapan? Sampai selama-lamanya. Mereka mengatakan Ibu Guru Yanti adalah aib bagi penduduk desa. Bahkan ketika dimakamkan tiada seorang pun yang datang melayat, begitu pula keluarga Ibu Guru Yanti terkesan cuek.

Lalu siapa yang memakamkan? Justru yang peduli dengan jenasah Ibu Guru Yanti adalah orang-orang dari luar , mereka mengurus dengan ikhlas, ada diantaranya pihak kepolisian, pihak rumah sakit, sopir ambulance dan penggali makam.

Namun demikian tidak semua orang menjauhi Ibu Guru Yanti. Seminggu usai pemakaman, beberapa orang nampak menziarahi makam. Mereka menangis di pusara pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Mereka tak lain keluarga Rikno: ayah Rikno, ibu Rikno, Nenek Rikno, Bibi Rikno, dan Rikno.

Di hadapan pusara Ibu Guru Yanti, mereka berdoa dengan khusyuk. Usai memimpin doa sang ayah mulai berbicara:

“Kau, adalah pahlawan kami. Darimulah sekarang Rikno mengetahui kebenaran. Kau, adalah kejujuran. Walau kejujuran yang kau jalani terasa pahit, tetapi kau tidak pernah mengeluh. Pengorbananmu terhadap kejujuran sangatlah kami hormati. Kau rela mati demi kejujuran. Kau tidak mempedulikan nyawamu walau sebenarnya kau sudah tahu resikonya. Kau, yah, kau adalah pahlawan kami. Telah banyak yang kau perbuat bagi keluarga kami. Meski kami belum pernah bertemu dengan dirimu, wajahmu tetap bersinar di hati kami. Kejujuranmu itulah yang membuat kami membuka mata lebar-lebar.” Kata Ayah Rikno.

“Ibu Guru Yanti yang terhormat, yang kami cintai, kau bagai oase di padang tandus. Meski secuil kejujuran yang kau sebarkan, tetapi hal itu telah banyak memberi kami penerangan. Kini, kami menjadi sadar, bahwa tak selamanya kebenaran itu harus ditutup-tutupi. Dengan kejujuranmu itulah sekarang anak kami dapat mengetahui arti sebuah kebenaran akan mem*k. Kami yakin suatu hari kelak anak kami akan selalu mengingat kebaikan yang kau berikan, kami yakin kelak Rikno akan menghormati pengorbanan para guru dan pendidik, bila dewasa nanti dia juga akan tahu betapa mahalnya artinya sebuah kejujuran dan kebenaran. Dan karena kebenaran itulah Rikno sudah mengetahui apa itu mem*k, dan dengan pengetahuan serta pemahaman yang kau berikan ke anak kami, kami pun yakin suatu hari nanti dia akan semakin menghargai yang namanya perempuan. Ibu Guru Yanti, kau adalah pelita bagi kami. Jasa-jasamu takkan pernah kami lupakan.” Ucap janji sang ibu.

“Rikno, anakku, adakah kata-kata yang hendak kau sampaikan pada Ibu Guru Yanti?” Tanya sang ayah.
Rikno mengangguk.

“Ada yah…”

“Apakah itu Rikno?” Sahut Sang Ibu.

“Rikno sangat berterima kasih kepada Ibu Guru Yanti atas kebaikan yang pernah beliau berikan. Sampai mati kebaikanmu akan selalu kupegang.” Kata Rikno.

“Yah, kau dengar sendiri kan Ibu Guru Yanti. Betapa Rikno tak bisa melupakan jasa-jasamu. Karena kaulah dia sekarang sudah menjadi dewasa. Bukan kami, tapi kau. Kami justru hanya menjadi penghalang bagi perkembangannya. Kami adalah sebuah kebohongan yang selalu tersebar dimana-mana. Kami tak ubahnya kutu loncat yang ketika digusah akan pencolotan, tapi ketika musuh tidak kelihatan kami akan diam-diam mengambil hak orang lain. Memang benar apa yang telah kau lakukan, kejujuran sangat mahal harganya. Buktinya kami tidak bisa menjelaskan mem*k pada anak kami, padahal sebenarnya kami tahu. Kami adalah tukang tipu, selalu memojokkan orang, selalu menyusahkan orang, tak pernah serius menanggapi setiap permasalahan. Parahnya, kami adalah orang-orang munafik yang tak tahu diri. Tidak seperti kau, kau sangat berani menyatakan kejujuran. Kau berani menerjang bahaya. Kami semua tunduk padamu, tunduk terhadap pahlawan bangsa. Semoga arwahmu tenang di sisiNya. Amin.”

Setelah itu Sang Ayah menyanyikan Hymne Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, semua orang luluh dalam keharuan:
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Disusul dengan lagu Padamu Negeri dan semua orang ikut mengiringkannya:
Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami (TAMAT/NOVI)

NB: Saya melihat sebuah ketakutan masih membayangi wajah-wajah mereka, kejujuran dan kebenaran akhirnya terhenti sesaat; dia bagaikan senjata Pasopati yang hendak membumi-hanguskan segalanya. Yah, mungkin bukan sekarang, mungkin nanti, bila mereka telah mengetahui makna kejujuran dalam hatinya. Namun saya yakin masih banyak kejujuran di negeri ini, walaupun itu secuil.

Categories: artikel Tag:, , , ,

Mengapa Malaikat dan Setan Iri Pada Manusia?

Desember 29, 2009 1 komentar

Malaikat dan setan iri pada kita, karena kita hidup sedang mereka abadi. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, kita selalu dihadapkan pada kematian, pada kenikmatan, pada kesedihan. sementara setan dan malaikat tidak punya itu. Kematian, kenikmatan dan kesedihan malaikat dan setan hanya datang pada saat kiamat. Makanya mereka selalu menggoda kita, setan mengajak kita pada keburukan, malaikat mengajak pada kebaikan.

Manusia itu hidup. setan dan malaikat juga hidup. Yang membedakan, malaikat dan setan hidup abadi. Sementara manusia tidak. Ini yang membuat mereka iri. Siapa yang mengatakan, ya aku yang bilang. Kenapa demikian? Karena aku manusia, jadi bisa mengatakannya. Kenapa mereka iri pada kita, karena kita setiap detik, setiap menit, setiap jam selalu dihadapkan pada kematian, pada kenikmatan, pada kesusahan, dan yang hebat adalah adalah pada kisah percintaan manusia. Malaikat dan setan mana punya itu…

Yang dipunyai setan cuma kemurkaan, yang dipunyai malaikat cuma kepatuhan. Maka, mereka selalu berlomba-lomba mendekati manusia. Yang satu ingin mengajak ke jalan keburukan, satunya ingin mengajak ke jalan kebaikan. Kalau aku manusia, lebih memilih berada di jalan sirathol mustaqim. Tidak belok kanan atau kiri. Lurus terus hingga sidrathul muntaha.

IBU…(Selamat Hari Ibu)

Desember 21, 2009 1 komentar

Aku lahir dari perut ibu..
(bukan kata org…memang BENARKAN !!!…. ..)

Bila dahaga, yang susukan aku…..ibu
Bila lapar, yang menyuapi aku….ibu

Bila sendirian, yang selalu di sampingku.. ..ibu

Kata ibu, perkataan pertama yang aku sebut….Ibu

Bila bangun tidur, aku cari….ibu

Bila nangis, orang pertama yang datang ….ibu

Bila ingin bermanja, aku dekati….ibu

Bila ingin bersandar, aku duduk sebelah….ibu

Bila sedih, yang dapat menghiburku hanya….ibu

Bila nakal, yang memarahi aku….ibu

Bila merajuk, yang membujukku cuma….ibu

Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah….ibu

Bila takut, yang menenangkan aku….ibu

Bila ingin peluk, yang aku suka peluk….ibu

Aku selalu teringatkan ….ibu

Bila sedih, aku mesti telepon….ibu

Bila senang, orang pertama aku ingin beritahu…. .ibu

Bila marah.. aku suka meluahkannya pada…ibu

Bila takut, aku selalu panggil… “ibuuuuu! “

Bila sakit, orang paling risau adalah….ibu

Bila aku ingin bepergian, orang paling sibuk juga….ibu

Bila buat masalah, yang lebih dulu memarahi aku….ibu

Bila aku ada masalah, yang paling risau…. ibu

Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni.. ibu

Yang selalu masak makanan kegemaranku. …ibu

Kalau pulang ke kampung, yang selalu member bekal…..ibu

Yang selalu menyimpan dan merapihkan barang-barang aku….ibu

Yang selalu berkirim surat dengan aku…ibu

Yang selalu memuji aku…..ibu

Yang selalu menasihati aku….ibu

Bila ingin menikah..Orang pertama aku datangi dan minta persetujuan. ….ibu

Aku ada pasangan hidup sendiri….

Bila senang, aku cari….pasanganku

Bila sedih, aku cari….ibu

Bila mendapat keberhasilan, aku ceritakan pada….pasanganku

Bila gagal, aku ceritakan pada…..ibu

Bila bahagia, aku peluk erat…..pasanganku

Bila berduka, aku peluk erat…..ibuku

Bila ingin berlibur, aku bawa….pasanganku

Bila sibuk, aku antar anak ke rumah….ibu

Bila sambut valentine.. Aku beri hadiah pada pasanganku

Bila sambut hari ibu…aku cuma dapat ucapkan “Selamat Hari Ibu”

Selalu.. aku ingat pasanganku

Selalu.. ibu ingat aku

Setiap saat… aku akan telepon pasanganku

Entah kapan… aku ingin telepon ibu

Selalu…aku belikan hadiah untuk pasanganku

Entah kapan… aku ingin belikan hadiah untuk ibu

Renungkan:

“Kalau kau sudah selesai belajar dan berkerja….masih ingatkah kau pada ibu?

tidak banyak yang ibu inginkan… hanya dengan menyapa ibupun cukuplah”.

Berderai airmata jika kita mendengarnya. …….

Tapi kalau ibu sudah tiada……. …

IBUUUU…RINDU IBU…. RINDU SEKALI….

Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya….

Berapa banyak yang sanggup mencuci muntah ibunya…..

Berapa banyak yang sanggup menggantikan alas tidur ibunya…..

Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya……

Berapa banyak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya……

dan akhir sekali berapa banyak yang men-SHOLAT-kan JENAZAH ibunya…

NOTE: SEMOGA KALIAN MENGHORMATI IBU KALIAN SAMPAI AJAL MENJEMPUT.

Categories: artikel Tag:, , ,

Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag IV)

Desember 9, 2009 Tinggalkan Komentar

Berita ibu guru menurunkan rok dan cdnya seketika menggemparkan desa. Para murid yang kebakaran jenggot akibat ulah bu guru langsung melaporkannya ke orang tua masing-masing. Para wali murid pun serempak berdemo. Mereka mendepak sang guru beramai-ramai. Yanti, demikian namanya tak kuasa menahan derita yang sedang dihadapi. Bu Guru Yanti diusir warga desa, karena dianggap telah mengajarkan pornografi kepada murid-muridnya. Sementara hanya satu anak yang tak bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Dialah Rikno. Karena kebaikan serta kejujuran sang guru itulah Rikno menjadi tahu yang namanya mem*k. Tetapi hal tersebut lantas diartikan banyak orang sebagai perbuatan yang tidak lazim. Yang membuat sang guru harus terlunta-lunta tanpa tempat tinggal.
Berhari-hari sang guru harus mengais makanan dari sampah. Ia seketika menjadi tunawisma “dadakan”.
“Kasihan ibu guru Yanti ya,” kata Rikno kepada bibinya.
“Sudah kamu tidak usah mikirin itu. Itu semua kan akibat perbuatannya sendiri,” sambut sang bibi.
“Lho, kenapa kok bibi malah berkata seperti itu. Bukankah semua ini akibat dari ulah Rikno. Kalau Rikno tidak bertanya soal mem*k, mungkin ibu guru tidak akan menunjukkannya pada Rikno. Dan sekarang Rikno jadi tahu apa itu mem*k.”
“Kamu sendiri kenapa tanya-tanya hal-hal yang tidak perlu begitu. Dan sekarang lihat ibu guru Yanti. Di sana sini dia tidak mendapat tempat. Dia sekarang menggelandang.”
“Kalau Rikno tanya pada bibi, apakah bibi akan memberitahu?” Rikno membalas ucapan bibinya dengan tangkas.
Seketika mulut sang bibi seperti terkunci rapat. Kata-kata ponakannya seperti bola api panas yang meluncur mengenai dirinya.
“Memang benar Rik, tak semua orang dapat berbicara jujur. Negeri ini memang sedang dilanda krisis kejujuran. Moral semua orang pada rusak, tak terkecuali pemimpin kita. Kalau saja pemimpin kita dan orang-orang yang duduk di kursi terhormat itu mau meluangkan kejujurannya, mungkin negeri ini tidak akan seperti ini. Hanya kejujuranlah modal utama untuk membentuk karakter bangsa ini. Maafkan bibi ya karena telah salah menilaimu.”
“Ah, tidak masalah bi. Rikno juga minta maaf jika telah kurang ajar terhadap bibi. Oh iya, bi, terus bagaimana dengan ibu guru Yanti. Apa perlu beliau kita tampung di sini?”
“Rikno, ssstt…” Sang bibi segera meletakkan jari telunjuk ke bibirnya.
“Apa? Apa maksud bibi ssst…”
“Sudah jangan diteruskan. Yang terjadi biarlah terjadi.”
“Tapi Rikno belum paham.”
“Apa kamu tidak mengerti dengan adat. Karena adatlah kita dapat beradaptasi dengan masyarakat. Dan apabila adat sudah bertindak, maka jangan sekali-kali kita berani untuk memainkannya.”
“Apa maksud bibi?” Rikno masih belum paham.
“Ibu guru Yanti saat ini tengah menjalani hukuman adat. Dia tak boleh dibantu siapapun.”
“Jadi…ja…ja…di…beliau dibiarkan begitu saja!” Seru Rikno.
“Huss, kamu jangan berpikiran begitu. Kalau kita bantu, nanti kita sendiri yang akan kena adab dari adat itu.”
“Lalu bagaimana dengan kata-kata ibu soal kejujuran tadi. Mana…mana…?”
Sang bibi segera menundukkan kepala mendengar suara keponakannya yang masih lugu tersebut. (Bersambung lagi coy/novi)

NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.

Categories: artikel Tag:, , , ,

Bencana Bah Jaman Nuh

Desember 1, 2009 Tinggalkan Komentar

Ketika mendengar bencana melanda negeri, saya ingat bencana di jaman Nuh. Bencana yang didera berupa banjir bah. Luar biasa. Nuh hampir tak mampu mengatasi musibah ini. Air begitu cepat melanda daratan, hingga akhirnya merambah ke semua pegunungan. Dalam mengatasi musibah tersebut, Nuh membuat kapal yang sangat besar, dengan harapan semua yang ditemuinya bisa diselamatkan dan dilestarikan.
Dalam perjalanan dengan perahu, Nuh menuju arah daratan yang bisa disinggahi. Namun semua daratan bahkan gunung yang dituju selalu tenggelam terlebih dahulu oleh bah. Ada yang perlu dicontoh dalam melestarikan kehidupan di dunia, yaitu selama perjalanan Nuh selalu menaikkan semua binatang ke atas perahunya, meski kadang hanya satu jodoh. Dengan harapan meski satu jodoh, nanti akan tetap lestari dan bisa berkembang biak jika bah telah lewat.
Dalam beberapa hari, hingga akhirnya beberapa bulan dan tahun bencana banjir bah tak kunjung henti, hingga Nuh tampak gelisah, karena perahu semakin sarat dengan muatan hingga nyaris tenggelam. Selidik punya selidik, ternyata ada bebarapa binatang yang beranak, hingga akhirnya menambah beban perahunya. Nuh dibuat bingung juga, akhirnya semua binatang yang jantan dikebiri. Semua alat kelamin binatang dikumpul jadi satu, disimpan jadi satu, dengan harapan nanti kalau bah sudah usai akan dikembalikan.
Rupanya upaya itu berhasil, hingga perahu tetap melakukan perjalanan di atas air mencari titik daratan yang tak kunjung ketemu. Namun akhirnya air sudah mulai surut dan banjirpun mengering, hingga semua tampak gembira setelah sekian lama terapung di atas air. Beberapa binatang pun riang gembira menyambut datangnya daratan yang bakal kembali berkembang biak seperti biasa. Beberapa binatang dengan pasangannya langsung cari tempat dan ada mencoba bercengkerama, namun ada yang ganjil pada dirinya. Karena alat kelaminnya tidak ada.
“Ah, ini harus ditanya ke Nuh”, teriak anjing tiba-tiba.
“Ka… ka.. ka….!” ejek kuda, namun kuda juga bertanya juga, di mana kelaminnya.
Datang berbondong-bondong menuju ke Nuh. Demo dan protes, ceritanya.
“Nuh, dimana alat kelamin saya …?” tanya kuda disambut mereka semua.
Nuh jadi lupa, di mana menyimpan alat kelamin mereka. Sambil garuk-garuk kepala, Nuh akhirnya ingat juga dan bertriak kegirangan, “Oh…. saya ingat… ingat, semua alat kelamin saya taruh di puncak Gunung Bromo”….. Kontan semua sorak gembira dan berlomba-lomba menuju gunung Bromo.
Mendengar berita Nuh, tentang posisi kelamin dikumpulkan, kuda langsung lari sekencang mungkin. Hingga kuda yang pertama tiba di tempat. Kuda ambil yang paling besar dan dipasang begitu saja. Disusul gajah yang tetap ngambil miliknya, karena terlalu besar untuk yang lain. Berikutnya sapi, anjing dan seterusnya hingga pada semut. Kasihan semut, sejak mulai tahu kabar dari Nuh dia tak mampu berlari, karena begitu mau berdiri sudah kena injak binatang besar lainnya.
Sapi berlaku curang juga, karena mengambil milik kambing. Makanya kalau kambing ketemu sapi ditagih, “Yeekkk … itu milik saya…!” dan sapi menjawab, jalan sambil gela-gelo, “Kok beta na…”. Sedangkan ayam jago juga teriak hingga sekarang, entah tertukar dengan milik siapa, “Endi i.. duwekkuuuuu….!”
Yang lebih kasihan adalah Semut, jika bertemu temannya saling berpelukan. Sebenanrnya itu bukan berpelukan, namun saling menanyakan, “Punya lo sudah ketemu apa belum..?” (budi elyas)

Categories: artikel Tag:, , ,

Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag III)

Desember 1, 2009 Tinggalkan Komentar

Rikno sekarang disekolahkan ayahnya di desa. Dia ikut bibinya. Tetapi Rikno sudah mulai paham mengenai keadaan di luar sana yang seperti hukum rimba. Orang salah ngomong saja langsung dihakimi, seperti halnya dirinya. Hanya ingin tahu arti mem*k saja semua orang langsung memarahi dan mengumpatnya. Padahal dia benar-benar tidak tahu yang artinya mem*k. Hingga dia memasuki tahun ajaran baru di TK, rasa penasaran Rikno semakin menjadi-jadi. Cuma kali ini Rikno sadar akan posisinya. Yah, dia tak lagi berharap mengetahui jawaban dari orang-orang terdekatnya atau keluarganya. Sebab hal itu nantinya justru akan menambah masalah lagi. Sebenarnya rasa penasaran RIkno sangat besar dan ingin sekali menanyakan prihal mem*k ini ke bibinya. Tetapi lantas dia urungkan.

“Aku takut jika bertanya ke bibi, nanti masalah akan kembali panjang. Di sana saja aku sudah diusir ayah. Masa di sini juga harus diusir lagi. Ah, biarlah nanti aku tanyakan kepada bu guru saja. Mungkin bu guru bisa membantu kerisauanku.” Kata Rikno.

Masa orientasi sekolah TK sudah selesai. Kini Rikno memulai ajaran baru sebagai siswa kelas Nol Besar. Besar harapan Rikno di sekolah barunya ini dia akan menemukan jawaban dari pertanyaannya tersebut.

Saat bu Yanti membuka ajaran pertama, dia kemudian bertanya kepada murid-muridnya.

“Hayo anak-anak, ada yang pengin bertanya?”

Semua murid diam. Tak ada yang berani bertanya. Saat itu kegundahan Rikno timbul tenggelam.

“Ini waktunya aku bertanya. Siapa tahu ibu Yanti bisa menjawabnya!” Seru Rikno.

“Hayo anak-anak siapa yang mau bertanya, kalau tidak ada ibu hitung tiga kali. Satu….dua…tiii…”

“Saya bu…” terdengar jawaban dari belakang bangku.
Rupanya Rikno yang mengacungkan tangan. Semua mata memandang pada anak berumur 5 tahun tersebut. Anak yang duduk di bangku depan serempak menoleh ke belakang, berharap ingin tahu pertanyaan yang diacukan temannya itu.

“Anu bu, Riknomau tanya, tapi ibu jangan marah ya…”

“Lho buat apa ibu marah, lha wong kamu aja belum bertanya!” Seru Ibu Yanti.

“Tapi…tapi…”

“Rikno ga usah takut, bilang saja apa yang mau kamu tanyakan.”

“Biasanya kalau Rikno bertanya demikian ini, semua orang pada marah ke Rikno.”

“Rikno, tidak ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Semua pertanyaan pasti ada jawabannya. Mungkin mereka marah karena sedang capek saja.”

“Bukan itu bu, kata mereka pertanyaan Rikno ini tidak sopan.”

“Rikno apa kata ibu barusan. Kamu tidak perlu takut. Ibu pasti akan menjawabnya sebisa mungkin. Ayo ngomong saja ke ibu ada apa?” Desak Ibu Yanti.

“Rikno cuma pengin tahu sebenarnya mem*k itu apa?”

“Apa, Rik…” Seketika raut wajah sang ibu guru menjadi memerah.
Rikno sudah merasa bahwa pertanyaannya bakal memicu polemik. Dia sadar apa yang diucapkanya tidak sopan. Tetapi dikarenakan rasa keingintahuan Rikno yang besar, maka dia memberanikan bertanya ke gurunya, tak peduli apakah pertanyaannya itu sopan atau tidak.

“Kamu yakin dengan pertanyaanmu itu Rik?” Sang guru bertanya balik ke Rikno.

Rikno mengangguk dengan pandangan mata serius.

“Halah, ga usah dijawab bu. Wong cuma Rikno aja kok. Masa cuma nanya hal-hal yang tidak berbobot gitu.” Sahut teman-teman Rikno sekelas.

“Iya bu, pertanyaan Rikno sungguh lucu. Masa cuma nanya mem*k. Lucu banget.”

“Emang kalian tahu apa itu mem*k?” Ibu guru balik bertanya ke murid satu kelas. Seketika itu suasana yang tadinya hingar bingar menjadi hening. Semua anak saling beradu pandangan. Mencari-cari jawaban yang pas, tetapi justru mereka sendiri tidak tahu yang namanya mem*k.

“Gimana apa kalian tahu apa itu mem*k?”
Semua anak membisu. Sebagian menggeleng kepala.

“Rikno , apa kamu yakin pengin tahu apa itu mem*k.”

“Iya bu.” Jawab Rikno mantab.

“Apa kamu sudah siap mental?” Tanya ibu guru Yanti.

“Iya bu. Rikno sudah siap lahir dan batin.

“Baiklah kalau itu kemauanmu. Ibu tidak akan menjelaskan padamu, sebab kamu sendiri pasti tidak akan mengerti. Ibu akan menunjukkannya padamu.”

Semua anak baik Rikno tak sabar menanti detik-detik mendebarkan itu.

“Rikno…” kata Ibu guru Yanti dengan yakin sambil berdiri di depan Rikno, “kalau kamu pengin tahu yang namanya mem*k. Ini dia mem*k.” Seketika itu si ibu guru membuka rok dan cdnya tepat di depan Rikno dan murid-murid satu kelas lainnya. Dia lalu menunjuk ke arah mem*k yang dimaksud.

“Akh…akhh…ibu guru jorok….ibu guru jorok..” Seketika ruangan kelas menjadi hingar. Para murid saling berhamburan keluar. Mereka yang melihat ulah sang ibu guru tidak tahan, lari tunggang langgang, kecuali Rikno.Dengan penuh kesabaran dan rasa keingintahuan yang sangat tinggi, Rikno memperhatikan meme*k sang ibu guru.

“Jadi ini yang dinamakan mem*k itu?” Tanya Rikno.
Ibu guru Yanto mengangguk.

“Jadi ini yang membuat Rikno keluar ke muka bumi ini?”

“Iya Rikno. Dari sinilah kamu, ibu, dan orang tua sedunia ini dilahirkan. Jadi kamu sudah tahu kan yang namanya mem*k!” Jawab ibu guru yang kemudian menutup kembali auratnya dengan cd dan menurunkan roknya. (Bersambung lagi coy/novi)

NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.

Categories: artikel Tag:, , , ,

Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag II)

November 29, 2009 Tinggalkan Komentar

Siang itu kedua ayah dan anak pergi mengunjungi Bonbon (kebun binatang) Surabaya. Sang ayah sudah tidak sabar untuk menunjukkan makna mem*k yang sebenarnya kepada anaknya.

Di depan kandang gajah, mereka berhenti. Sang ayah menunjukkan pada anaknya dengan menuding ke arah gajah.

“Nah, itu dia yang namanya mem*k!”

“Gajah itu mem*k,” Rikno garuk-garuk kepala, “wah besar sekaleeee…”

“Husy, bukan gajah, tapi ituuuu….”

“Yang mana yah…” Rikno berusaha menajamkan pengelihatannya. Tetap saja yang terlihat badan gajah yang besar.

“Ah, kamu ini gitu aja tidak tahu. Sudah jelas dari sini terlihat kok,” jawab ayahnya sedikit geram.

“Yang mana, apa yang panjang itu!” Seru Rikno.

“Kalau itu belalai namanya. Yang di belakang itu loh. Yang tepat di ekornya.”

“Oh, itu ya yang namanya mem*k. Iya yah aku tahu. Jadi mem*k itu fungsinya untuk nelek ya yah.” Sang ayah semakin frustasi dengan anaknya. Berkali-kali diberitahu tetap saja tidak tahu. Lelaki itu kehabisan ide.

“Ya sudah gini aja, kita lihat di sana lagi.” Dia menggandeng anaknya sembari menikmati kacang rebus.

Suasana hari itu cukup sejuk, mendung memayungi seisi penghuni Bonbin, sehingga tak ayal beberapa satwa pun memanfaatkan waktu untuk bercinta alias membuat anak.

Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat dua ekor kera sedang memadu kasih.

“Ah, ini dia,” celetuk sang ayah, “monyet adalah binatang yang menyerupai manusia. Jadi ini pasti mudah bagiku untuk menunjukkan mem*k kepada Rikno.”

“Rik…Rik…sini cepat!” Seru ayahnya. Rikno berlari-lari kecil dan kemudian berdiri tepat di samping ayahnya.

“Kamu lihat kera yang sedang berciuman itu,”

“Kenapa dengan mereka yah.”

“Lihat saja dulu.”

“Sudah yah.”

“Ya itu mem*k.” Sang ayah menyaksikan pemandangan dengan takjub. Dalam hatinya berkata, “hmm, rupanya kalau kera sedang bercinta juga mirip manusia. Jadi pengin nih.”

“Yah…yah…” Rikno menarik baju ayahnya, “Rikno masih belum paham. Yang mana mem*k?”

“Oh duasar anak guob…” buru-buru sang ayah meralat ucapannya, takut bila makian kasar itu justru akan mengganggu pendewasaan sang anak.

“Masak sudah jelas begitu kamu masih belum tahu.” Rikno menggeleng.

“Gini aja biar ayah jelaskan sedikit. Kamu tahu yang di atas itu.” Rikno mengangguk.

“Dia itu pejantannya. Nah, yang di bawah itu betinanya.” Rikno mengangguk paham.

“Kamu tahu apa yang sedang mereka lakukan?” Rikno menggeleng.

“Mereka sedang bercinta. Kamu lihat bagian bawah itu, apa yang dilakukan si jantan terhadap si betina. Lihat baik-baik.”

“Sudah yah, jadi itu ya yah.”

“Ya nak, itu yang namanya mem*k.” Sahut ayahnya.

“Iya yah, sekarang Rikno sudah paham.” “Kalau kamu sudah paham, kamu dilarang bertanya lagi soal mem*k ke orang lain. Kamu paham yang ayah katakan ini.” Rikno kembali menggangguk, tetapi sebenarnya dia belum paham betul. Benaknya terus berkecamuk, “Apa benar mem*k itu kera yang saling tumpang tindih. Masak kalau sekedar binatang yang tumpang tinding nenek, ibu, dan ayah marah. Pasti aku sedang dibohongi oleh mereka. Aku tidak percaya dengan kata-kata orang dewasa. Cara ayah menjelaskan padaku juga tidak ikhlas begitu. Masa cuma binatang saja begitu sulit menjelaskan. Aku yakin yang namanya mem*k lebih dari itu.”

Setelah itu keduanya pulang ke rumah. Sang ayah langsung masuk kamar dan tidur. Ibu Rikno menyambut kepulangan mereka dengan hati riang. Sebelum masuk kamar sang ibu menegur suaminya.

“Gimana yah, apa Rikno sudah diberi penjelasan?”

“Sudah, kamu ga usah mikir itu lagi. Ayah mengantuk.”

“Syukurlah kalau begitu yah. Kalau anak itu tidak segera diberi tahu, dia bakal melunjak, berani kepada orang tua.”

***

Menjelang sore, keluarga Rikno kedatangan tamu, seorang pejabat lokal. Ceritanya sang pejabat sedang ada keperluan bisnis dengan ayah Rikno. Ayah Rikno saat itu sedang di kamar untuk berganti pakaian. Sementara ibunya berada di dapur membuatkan minuman untuk sang tamu. Si nenek keluar membeli makanan snack.

Di ruang tamu hanya ada sang pejabat yang sedang duduk santai sambil menikmati lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Rikno melihat keberadaan orang asing langsung menemui. Tanpa banyak cincong Rikno segera bertanya dengan tema yang masih sama.

“Bapak siapa?”

“Hei, anak kecil, kamu siapa juga?”

“Huh, ditanya malah balik bertanya. Tidak sopan.” Celetuk Rikno dalam hati. “Bapak siapa kok?” Rikno bertanya merengek.

“Saya anggota dewan.”

“Apa itu anggota dewan?” Rikno balik bertanya.

“Wakil rakyat.” Jawab sang pejabat singkat.

“Jadi bapak tahu segalanya.” Sang pejabat tersenyum memandang Rikno.

Dengan senyuman itu, Rikno menganggap sang pejabat seorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik. Pikirnya, ah, tidak ada salahnya bertanya soal mem*k kepada sang pejabat.

“Masa seorang wakil rakyat bisa marah, kan pertanyaanku juga bersangkutan dengan wakil rakyat, kan aku juga wakil rakyat yang suaranya perlu diwakili, perlu dijawab.”

“Pak, boleh Rikno bertanya?”

“Silahkan!”

“Tapi bapak jangan marah ya.”

“Tergantung pokok pembahasannya.”

“Lho, masa cuma anak kecil seperti Rikno yang bertanya bapak bisa marah. Berarti bapak bukan wakil rakyat. Bapak bohong.”

“Tidak…tidak…kamu jangan salah sangka begitu. Oke, apa pertanyaanmu, Insya Allah jika bisa, bapak akan menjawabnya.”

“Begini pak, selama ini keluarga Rikno selalu membohongi Rikno. Padahal Rikno bertanyanya sopan. Tapi menurut mereka pertanyaan Rikno tidak sopan dan kurang ajar.”

“Iya, apakah itu?” Sang pejabat penasaran.

“Apa itu mem*k, Pak?” Sang pejabat kaget. Matanya kemudian melotot. Tak lama dia mengumpat dengan umpatan tidak mencerminkan seorang anggota dewan, yang katanya wakil rakyat itu.

“Diamput…dasar anak bebal. Siapa yang mengajari kamu berkata seperti itu. Mana bapakmu, mana ibumu? Pasti mereka orang tua tidak berbudi, tidak berakal sampai membiarkan anaknya berbuat kurang ajar begini.”

“Tuh kan bapak pasti marah.”

“Bagaimana tidak marah, pertanyaanmu itu loh…akkhhh…panggil orang tuamu, cepat!” Sang pejabat marah dengan berkacak pinggang. Tak lama ayah Rikno dan istrinya keluar menemui tamunya. Tetapi mereka lantas disambut caci maki dan omelan.

“Apa kalian tidak pernah mengajarkan tata krama pada anak kalian. Bagaimana anak sekecil itu bisa berkata mem*k. Itu tidak sopan namanya. Bodoh!”

“Maafkan kami pak. Sebenarnya Rikno sudah berkali-kali kami berikan penjelasan, tetapi rupanya hingga detik ini belum mengerti juga. Riknoooo…..” sang ayah memanggil dengan gusar.

Betapa lelaki itu tidak bisa menyembunyikan rasa malunya di hadapan tamu agung. Rikno datang tersenyum seolah tanpa dosa sambil menenteng mainannya. Wajar Rikno tidak tahu apa-apa karena memang anak sekecil belum waktunya mengerti. Dikarenakan pula orang tuanya dan orang-orang di sekelilingnya tidak pernah mengajarinya pengetahuan yang layak.

“Apa benar kamu bertanya pada pak pejabat soal mem*k?” Rikno mengangguk.

“Sudah berapa kali ayah bilang jangan bertanya soal itu lagi.” Ancam sang ayah. Dan…tiba-tiba plok! Sebuah tamparan mendarat di wajah Rikno. Pukulan yang akan diingat untuk selamanya. Tentu saja ini membuat Rikno bersedih. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang dewasa. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bertanya mengenai sesuatu yang tidak dipahami terus dilarang. Baginya ini tidak adil.

“Mulai sekarang kamu ayah usir. Kamu tidak boleh tinggal di sini lagi. Dan ayah tidak mau mengganggapmu sebagai anak. Mulai sekarang kamu tinggal saja di desa dengan bibimu.” Ancam ayahnya.

“Iya, kamu dasar anak tidak tahu balas budi. Mulai besok ayah akan mengantar kamu ke desa. Jangan lagi kamu berani kembali ke rumah ini. Awas ya!” Ancam ibunya.

(Bersambung lagi coy/novi)

NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.

Categories: artikel Tag:, , , ,

Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag I)

November 27, 2009 Tinggalkan Komentar

Rikno, anak TK yang lugu, keras, pantang menyerah, dan memiliki rasa keingintahuan sangat tinggi. Suatu hari Rikno mendatangi neneknya dan bertanya sesuatu hal yang selama ini telah membelenggu otaknya.
“Nenek, boleh ngga Rikno tanya sesuatu?”
“Mau tanya apa toh, Cu!” Seru sang nenek penasaran.
“Anu nek, itu loh, Rikno mo nanya sebenarnya mem*k itu apa?”
“Apa???” Si nenek kaget bukan alang kepalang. Ia naik pitam, “dasar anak guoblok. Anak cecunguk. Dungu. Tidak tahu aturan. Siapa yang mengajari kamu berbicara tidak sopan begitu, hah, ayo jawab?”
Rikno diam saja.
Si nenek semakin tidak bisa menahan emosinya. Berkali-kali Rikno mendapat cubitan dan makian. Tetapi Rikno tetap diam, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan neneknya. Sampailah kesabaran si nenek memuncak.
“Riri…Riri…kemari kamu nak. Ini anakmu telah berbuat kurang ajar pada orang tua.” Si nenek memanggil anaknya, yang juga ibu Rikno.
Riri yang berada di dapur merasa telinganya kepanasan, dia buru-buru menghampiri ibunya yang berada di ruang tengah.
“Ya ampun bu, ada apa toh kok teriak-teriak, malu tuh didengar tetangga.”
“Biar saja, ini lho anakmu sudah kurang aja sama orang tua.”
“Ada apa toh tole?” Tanya Riri mendekati Rikno yang sedang bersedih.
“Ndak kok bu…”
“Ayo jangan bohong kamu, tadi kamu bilang apa sama nenek.” Si nenek mendesak Rikno sambil mencubit-cubit pahanya.
Dengan terbata-bata Rikno menjawab lirih:
“Rikno…Rikno…cuma pengin tahu….ah, ga jadi ah, nanti ibu juga marah!”
“Sudahlah kamu bilang saja sama ibu, ibu ga akan marah kok!”
“Rikno cuma ingin tahu mem*k itu apa?”
“Hah,” plok, seketika itu tamparan Riri melesat di pipi anaknya, “dasar anak tidak tahu diri. Nih rasakan lagi,” plok! plok!
Seketika itu Rikno menangis sejadi-jadinya.
“Hua….hua…hua…”
Murka sang ibu rupanya melebihi murka sang nenek.
“Biar saja, ayo nangis yang keras, biar sekalian ditambah pukulan oleh ayahmu.”
Tak lama sang ayah yang merasa terusik tidurnya terbangun dan menunjukkan raut muka merah padam.
“Ada apa ini. Apa kalian tidak tahu kalau ada orang tidur?”
“Ini yah, anakmu sudah mulai kurang ajar. Kecil-kecil sudah mikir pornografi. Siapa yang mengajarimu, hah, ayo jawab.” Jawab Riri geram.
Rikno yang mendengar kata “pornografi” semakin tidak paham. Kemana arah orang tuanya berbicara. Masa cuma bertanya arti kata mem**k saja tidak boleh, batin Rikno berkata.
“Apa yang telah dilakukan anak kita, bu?” Tanya ayahnya.
“Itu yah, dia sudah berani bertanya soal mem*k. Pasti yang ngajarin ayah ya?” Tuding Riri.
“Ah, kamu bu bisa-bisa aja, apa benar yang dikatakan ibumu itu Rik?”
Rikno tidak berani menjawab. Sebab setiap pertanyaan yang keluar selalu membuat orang naik pitam. Lebih baik aku diam, gumamnya dalam hati.
“Ayo jawab dong, apa benar yang dikatakan ibumu itu!” Sang ayah terus mendesak.
Rikno malah menggeleng.
“Jangan bohong ya, atau ayah bisa marah nih. Katakan saja, ayah tidak akan marah kok.”
“Itu yang nenek dan ibu katakan sebelumnya. Tidak akan marah, tapi buktinya…”
“Jadi kamu sudah tidak percaya dengan ayahmu lagi ya.”
“Percaya kok yah.”
“Kalau begitu bilang ke ayah apa masalahmu?”
“Rikno tadi cuma tanya mem*k itu apa?”
“Hmm…jadi itu yang kamu tanyakan.” Untuk sesaat sang ayah berpikir. Menurut sang ayah memang tidak salah seorang anak bertanya sesuatu yang belum diketahui, apalagi yang bersangkutan dengan yang namanya mem*k. Ini adalah tugas orang tua untuk menunjukkan kapasitasnya kepada orang tua. Tetapi untuk yang demikian ini, memang berat. Bagaimana cara untuk menunjukkan mem*k pada Rikno, sang ayah berpikir dengan keras.
“Kamu tahu Rik, darimana kamu keluar?”
Rikno menggeleng.
“Ya, dari mem*k itu.” Jawab ayahnya.
Rikno tetap menggelang bahkan posisi tubuhnya diatur untuk mendengarkan wejangan sang ayah.
“Bagaimana kamu sudah paham?” Tanya ayahnya yang sudah tidak sabar ingin melanjutkan tidur siangnya.
“Belum yah. Masih bingung. Emang mem*k itu tempatnya dimana?” Rikno balik bertanya.
“Hmmm…gitu ya. Kamu yakin pengin tahu mem*k?”
Rikno mengangguk.
“Ya udah sana kamu ganti baju dulu, trus ikut ayah. Akan ayah tunjukkan dimana mem*k itu.”
Betapa senang hati Rikno karena ternyata ayahnya seorang pengertian. Sebentar lagi rasa penasarannya segera terobati sebab ayah akan menunjukkan kepada Rikno apa itu mem*k. (bersambung coy/novi)

NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.

Categories: artikel Tag:, , ,

Briana Banks — Artis Bokep yang Tewas Usai Ngeseks Dengan Kuda Liar

November 27, 2009 1 komentar

Dalam dunia film porno, nama Briana Banks sudah menjadi ikon seks. Siapa kira gadis yang dulunya pemalu ini menjadi salah satu selebriti di dunia film pengumbar syahwat. Ya, gadis super seksi ini menjadi salah satu bintang porno Amerika yang penuh sensasi. Debutnya dalam perindustrian film porno telah punya tempat tersendiri di hati para penggemarnya. Namun demikian, manusia tetaplah manusia yang terbingkai oleh batasan. Nyawa Banks tak tertolong ketika dia harus menyerahkan nyawanya kepada seekor kuda jantan, bernama Black stallion. Banks menghembuskan nafas terakhir setelah berhubungan badan dengan si kuda.

CIUMAN PERTAMA
Keindahan tubuhnya tak disangsikan. Dia memiliki daya magis yang menarik perhatian kaum adam, terutama para penggila pornografi. Banks tak ubahnya Dewi Cinta. Namanya diagung-agungkan. Tak sedikit pula cowok maupun cewek yang berhasrat untuk tidur dengan Banks. Dia benar-benar mempesona.
Namanya Briana Bany. Panggilan Briana Banks. Lahir pada tanggal 21 Mei 1978 di Munich, Jerman. Zodiaknya Gemini. Dengan rambut pirang dan bermata biru, sudah terlihat kalau ia memiliki kecantikan yang mempesona. Ini dikarenakan Banks memiliki darah campuran atau lebih dikenal dengan blasteran. Lahir dari ibu berkebangsaan Jerman dan ayah berkebangsaan Italy,
Banks sudah sering berpindah-pindah negara. Saat ibunya pindah ke California, Banks tetap tinggal bersama ayahnya di Jerman dan juga di Inggris sampai usia 7 tahun. Setelah itu, Banks pindah ke Amerika Serikat mengikuti jejak ibunya lagi. Banks baru resmi menjadi warga Amerika saat usianya 18 tahun. Sampai pada usia itu, Banks hanyalah seorang gadis pemalu saja. Bila berdekatan dengan cowok, tubuh Banks menggigil ketakutan.
Selama mengenyam di bangku SMA, Banks sama sekali tak mengenal arti kencan, cinta, apalagi seks. Jangankan cinta, ciuman saja tak pernah. Banks benar-benar gadis pemalu. Malahan, ia pernah pingsan ketika digoda cowok.
Ceritanya, cowok itu sangat ngebet dengan Banks. Dia terus mengejar-ngejar Banks. Tak kuasa menahan cintanya sang cowok, Banks pun pingsan. Lucu ya.,, Seorang bintang porno dunia, ternyata memiliki pengalaman unik, yang ia sendiri tak menyadari keunikannya.
Semasa SMA, Banks adalah gadis yang sangat pemalu dan penyendiri. Ia tak seperti gadis lainnya yang suka berkencan. Bahkan, menurut pengakuan saudaranya, Banks belum pernah berciuman dengan pria sebelumnya. Bisa dibilang, Banks adalah gadis kuper alias kurang perhatian. Setiap ada cowok mendekat, Banks langsung lari. Ia memang tak pernah pacaran, apalagi disakiti cowok. Keluarganya juga baik-baik saja; tidak broken home. pada dirinya, lambat laut pudar.
Di usia remaja, Banks pernah mengalami masa puber. Saat itu usianya baru 17 tahun. Dari situ, prilaku gadis pemalu yang melekat pada dirinya, lambat laut pudar. Banks menjalin asmara dengan teman sekolahnya. Mereka kencan. Dan, pada malamnya, Banks dicium cowok tersebut. Mereka pacaran. Sayang, menginjak 2 bulan, hubungan mereka kandas karena tak ada kecocokan.
Sejak patah hati, Banks mulai membuka diri pada dunia. Banks mulai berani bergaul dengan teman-teman sebayanya. Banks tak lagi takut dengan laki-laki. Setiap ada laki-laki yang mendekatinya, disambutnya dengan tangan terbuka.
Selama mengenyam pendidikan di bangku SMA, Banks telah mencacat rekor gemilang dalam prestasi olahraga. Dia sempat tercatat sebagai pelari wanita tercepat. Dan Banks, juga penggemar olah raga volley dan atletik.
Nama Banks mulai menanjak. Ia tak lagi menjadi gadis lugu, pendiam, dan pemalu. Banks mulai pandai berdandan. Seksi dan cantik. Di sekolah, Banks dikenal sebagai gadis penakluk cowok. Tidak sedikit cowok yang berebut menjadi pacarnya atau sekedar tidur dengannya. Banks pun menjadi primadona di sekolahnya.

FILM PERTAMA DAN ORGASME PERTAMA
Semasa remaja kehidupan Banks dibilang cukup sulit. Ia dan adik perempuannya harus bekerja keras mencari uang untuk bayar sewa apartemen. Selepas SMA, Banks bekerja sebagai auditor asuransi di salah satu bank swasta. Kirakira 2 tahun. Harapannya untuk meningkatkan ekonomi keluarga kandas. Sebab, Banks merasa pekerjaan yang dilakoninya sangat membosankan. Ia pun pindah kerja di sebuah restoran dan menjadi model di salah satu butik.
Selama bekerja di dunia model, tiba-tiba sebuah ide gila muncul. Banks memutuskan untuk terjun di industri film porno. Demi film dewasa itu, Banks rela meninggalkan segalanya; ketenaran sebagai cheerleader di kampus, temanteman, pekerjaan, dan keluarganya.
Karirnya dalam bisnis hiburan film dewasa di mulai tahun 1999. Saat itu, ia berusia 19 tahun. Dengan tinggi 178 cm, dan berat 65 kg. Ukuran payudaranya pun terbilang fantastis; 36DD-24-31. Rambut pirang dan mata biru. Kakinya yang panjang dan indah. Senyumnya yang menggoda serta menawan. Dan beberapa tato yang menunjukan sisi liarnya.
Dengan gencar, Banks mulai mempromosikan dirinya menjadi bintang porno dunia yang memiliki talenta luar biasa. Berbeda dari yang lain. Dengan itu semua, Banks mampu menunjukkan pada dunia, siapa dia sebenarnya.
Nama Banks mulai dikenal. Majalah dewasa, Penthouse menawarkan Banks menjadi model foto telanjang. Banks menerima tawaran tersebut. Pada edisi bulan Juni, foto-foto telanjang banks mengihiasi majalah tersebut sebanyak 12 halaman. Dari situ Banks dibayar $ 1.000.
Rumah produksi Vivid tertarik dengan pose-pose panas Banks. Vivid adalah perusahaan film porno terbesar. Vivid mengajukan tawaran Banks sebagai aktris untuk membintangi sebuah film porno. Kesempatan ini tak disiasiakan Banks. Tanpa buang waktu, ia menerima tawaran tersebut. Walau sebelumnya Banks tak pernah berpikir menjadi bintang porno.
Di usianya yang ke-22 tahun, Banks menandatangani kontrak selama 2 tahun untuk membintangi kurang lebih 30 film porno. Ia menganggap dirinya biasa-biasa saja. Tak seseksi yang orang bilang. Bahkan, boleh dibilang Banks terlalu kurus. Namun, para pengamat memandangnya lain. Banks tetap memiliki daya tarik seksual yang tinggi.
Pengalaman seks serta orgasme pertamanya didapat
saat ia membintangi film pertama. Jadi, boleh dibilang keperawanan Banks terampas dalam film pornonya yang pertama dengan judul University Coeds.
Maklum, selama berhubungan dengan pria, Banks tak pernah merasakan puas atau orgasme. Banks
bukannya menyesal. Justru ia merasa senang telah melakukan sesuatu yang terbaik. Ia beralasan, para fansnya dapat melihatnya tumbuh dari gadis remaja menjadi gadis dewasa melalui film-filmnya.
Merasa kurang percaya diri, di tahun 1999 Banks melakukan operasi plastik untuk memperbesar kedua payudaranya. Untuk memudahkan langkahnya, ia mengubah namanya. Dari Briana Bany menjadi Mirage Briana Banks. Ini pun dilakukan atas saran sesama teman seprofesinya Lita.

NGESEKS DENGAN KUDA STALLION DAN MATI…
Seperti di film The Watcher #03. Di film itu ia berhubungan seks dengan Pat Myne dan Bobby Vitale di meja dapur. Dalam film little Chicks dan Big Black Monster Dick #06, Banks berani bermain hardcore dengan Jake Steed. Seperti yang sudah diduga, film-film tersebut langsung menjadi hit.
Yang lebih mengejutkan, rupanya di salah satu film tersebut, Banks memainkan peran biseksual. Film itu berjudul “Briana Loves Jenna”. Ia terlibat adegan panas dengan bintang panas Jenna Jameson. Tentu saja dengan seorang cowok juga. Hanya dalam tempo singkat, film tersebut menjadi film panas terbaik sepanjang tahun.
Tak ayal, Banks pun meraih predikat sebagai artis porno paling popular dan unik. Penampilan sensual serta aura seks kerap mengelilinginya. Banks terus berkiprah dalam bisnis ini. Dia berusaha menarik perhatian para pengemar sebanyak mungkin. Mencoba menyajikan film-film sensasional dan super panas yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Selama bergabung dengan Vivid Production, Banks sedikitnya telah membintangi 150 film dewasa, baik fetish, anal, oral, dan hardcore. Atas aktingnya itu, Banks sempat mendapat beberapa penghargaan. Di antaranya Penthouse Pet June 2001, Hot D’Or Cannes 2001 – Best American New Starlet, AVN’s “Best Renting Title of the Year” 2003, AVN’s “Best Selling Title of the Year” 2003.
Banks ingin menikmati hidupnya dan menggeluti lebih serius hobinya yang dulu sempat tertunda. Hobinya terbilang cukup berbahaya bagi kaum wanita. Ia sangat kagum dengan dunia balap seperti Super Motorcross, Snowboarding atau berselancar.
Sayang, keinginan penggemar film “casino” “, “Scarface” dan “King Pin” serta penggemar grup band The Dave Mathews Band dan Linkin Park ini tak terlaksana. Sebab sebelumnya Banks mengalami peristiwa tragis. Sesuatu yang tak lazim.
Peristiwa itu terjadi saat Banks mendapat undangan dari seorang pengusaha muda kaya untuk menghadiri pesta ulang tahunnya. Karena menerima undangan dari orang yang cukup popular di dunia bisnis, Banks memutuskan menghadirinya. Tak diduga kalau pesta yang dihadirinya akan membawa petaka dan mengakhiri hidupnya.
Saat Banks sedang menikmati pesta, tiba-tiba sang tuan rumah menghampirinya. Mereka berbicara panjang lebar. Karena tahu Banks adalah seorang bintang porno yang terkenal, pengusaha muda tersebut mengajukan tantangan pada Banks. Banks ditantang untuk melakukan animal seks dengan kuda jantan black stallion warna hitam kesayangan sang tuan rumah. Bila Banks berani melakukannya, kata si tuan rumah, ia akan dibayar sebesar US $ 10 ribu. Merasa tertantang, Banks memutuskan melakukannya. Kuda jantan pun dikeluarkan. Banks sendiri tengah bersiap-siap melakukan aksinya.
Tanpa menunggu waktu, banks berhubungan seks dengan kuda tersebut. Tak beberapa lama, Banks merasa pusing. Ia pun jatuh pingsan. Tubuhnya kejang-kejang. Banks segera dilarikan ke rumah sakit.
Selama di rumah sakit, Banks merasa tersiksa. Dia meraungraung kesakitan. Apa yang terjadi? Sesaat setelah penis kuda dicabut dari vagina Banks, nampak dari segar mengalir deras. Banks tak sadarkan diri.
Melihat itu, si pemilik kuda langsung mengambil tindakan. Banks pun dilarikan di rumah sakit terdekat. Beberapa undangan yang hadir di pesta nampak shock. Mereka tak menyangka sesuatu bakal terjadi pada diri Banks. Padahal sebelumnya, Banks terlihat baik-baik saja. Beberapa dari undangan yang hadir, mulai saling berbisik. Ada yang membodohkan tindakan Banks. “Dia itu konyol sekali. Masak Ngeseks sama kuda.”
Namun ada pula menyayangkan kejadian tersebut. Menangis. Meratapi nasib si bintang porno. Dan berdoa semoga Banks lekas sembuh. Sementara, di rumah sakit, Banks masih bergelut dengan penderitaannya. Dokter yang memeriksa menyatakan, vagina Banks mengalami sobek yang cukup lebar. Dinding-dinding vaginanya robek. Ini yang menyebabkan Banks mengeluarkan darah cukup banyak.
Dokter yang memeriksa, tak tega melihat penderitaan Banks. Banks, terkena karmanya sendiri. Setiap kali siuman, ia meronta kesakitan. Tangan dan kakinya tak hentihentinya bergerak. Dokter dan perawat yang menangani Banks nampak kuwalahan. Dokter pun sempat melakukan operasi. Dinding vagina Banks dijahit hingga 30 jahitan, tapi hal ini tak membuat darah yang keluar berhenti. Justru semakin banyak.
Dokter akhirnya lepas tangan. Mereka tak tahu bagaimana cara menghentikan pendarahan tersebut. Hanya satu yang bisa mereka lakukan, yakni memberi obat bius untuk menenangkan Banks. Dokter hanya bisa memberi obat penenang. Namun, hal itu tak pernah menghentikan pendarahan di bagian alat kelaminnya. Darah terus mengucur. Bersamaan itu, Banks pun merontaronta bagai orang disiksa. “Ahhh, ahhh, ahhh,” ini bukan rontaan Banks ketika bermain film. Bukan pula rontaan menahan rasa nikmat. Sebaliknya, ini adalah rontaan orang yang sedang menghadapi sekarat.
Dokter sudah lepas tangan. Mereka sudah tak sanggup menyembuhkan Banks. Hanya waktu yang bisa menentukan, apakah Banks bisa bertahan atau malah sebaliknya. Bahkan, anggota keluarga yang menjenguk tak sanggup melihat penderitaan Banks. Demikian Pula dengan Banks. Dia tak lagi mengenal sanak saudaranya.
Rintihannya, teriakannya, kepedihannya, membuat semua orang gemetaran. Beberapa dari Keluarga mereka malah menyarankan agar dokter segera menghilangkan rasa sakit Banks. Artinya, Banks harus disuntik mati. Sayangnya, para dokter tak sanggup melakukannya. Tak pelak, gadis berkebangsaan Jerman dan Italy ini pun dipaksa untuk menahan siksaan yang teramat pedih.
Tak terasa sudah hampir 10 jam Banks tergeletak menahan sakit. Darah masih mengucur dari kemaluannya. Entah sudah beberapa kali perawan mengganti kain. Bersamaan itu, seorang pastur dan pendeta didatangkan. Mereka mendoakan Banks. Berharap agar Banks bisa selamat.
Nahas, Tuhan berkata lain. Setelah sekian jam beradu kekuatan melawan maut, akhirnya bintang porno dunia itu menghembuskan nafas terakhir. Banks meninggal. Kontan, seluruh dunia menangis. Kini para penggemar porno tak bisa lagi melihat acting Banks.
Kematian Banks sungguh tragis. Matanya terbelalak. Kemaluannya tak henti hentinya meneteskan darah. Mungkin ini adalah adzab yang diberikan Tuhan kepada makhluknya. Sebuah adzab yang teramat pedih. [tamat]

Categories: artikel Tag:

Dialog Islam & Yahudi

November 27, 2009 Tinggalkan Komentar

Buku ini mengisahkan dialog Ahmad Deedat dengan Dr. E. Lottem, seorang negarawan Israel. Isi dari dialog ini termuat pada bab III, dengan judul bab “ Beberapa Orang Yahudi Yang Baik “..
Sedangkan sub judulnya antara lain : Bagaimana dengan orang-orang Arab, terindoktrinasi, hubungan saya dengan Yahudi, orang-orang Yahudi di Masjid, memperkenalkan Al Qur’an, lelucon terbesar di Israel, menguji tuntutan yang aneh (fantastis), menguji (test) kebenaran, masih dengan Yahudi yang baik, anak cucu Ibrahim, apakah mungkin benar, menangis bersama Mr. Rodinson, Deedat dipromosikan, Ismail anak haram. Itulah sub judul yang ada dalam bab III buku ini.

Dalam buku ini, Deedat menulis, ketika perdebatan akan dimulai, Ahmad Deedat disuruhnya memilih tema perdebatan. Pihak penyelenggara yaitu Universitas Natal, Durban yang diwakili Professor Mason. Professor itu bertanya kepada saya, bagaimana cara terbaik untuk mengemukakan topic. Saya mengusulkan “ Baik dan Buruk Israel”. Mason, tidak memberikan jawaban langsung kepada Deedat, tetapi akan mendiskusikan terlebih dahulu kepada Dr. E Lottem. Setelah dua hari menunggu, Mason memberikan jawaban kepada Deedat bahwa topik perdebatan diganti menjadi “ Konflik atau Damai”.

Dari judul itu saja, menurut penulis sudah mengandung unsur menjebak kepada lawan bicara, jelasnya. “ Konflik atau Damai?”, mana yang anda pilih? Bagaimanapun akan lebih baik apabila tidak memilih keduanya. Bila kita memilih Konflik, dalam perdebatan tersebut, kita akan menyulut api permusuhan dengan hampir setiap audien. Sedangkan bila memilih “Damai”, orang-orang Yahudi itu akan berkata : “mengapa anda melempari kami dengan batu”?

Itulah Yahudi, mau menang sendiri. Sebenarnya dalam perdebatan dengan mengambil slogan “Perang atau Damai” merupakan tipuan 2000 tahun lalu. Tipuan semacam itu pernah dilakukan Ummat Yahudi kepada Nabi Isa as.

Dikisahkan : Suatu saat datang kepada Isa as beberapa tokoh Yahudi. Mereka menanyakan tentang boleh tidaknya mereka membayar pajak kepada Pemerintah Romawi. “ Guru, kami tahu, engkau adalah seorang yang jujur dan dengan kejujuran mengajak ke jalan Allah. Dan engkau tidak takut kepada siappun juga, sebab engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami tentang pendapatmu; apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Tetapi Nabi Isa as mengetahui kejahatan di hati mereka lalu berkata: “ Mengapa kamu mengerjai aku hai orang munafik? Tunjukkanlah kepadaku mata uang untuk pajak itu”. Mereka membawa satu Dinar kepadanya. Maka Isa bertanya kepada mereka: “ Gambar dan tulisan siapakah ini? Mereka menjawab: “ gambar dan tulisan Kaisar”. Lalu kata Yesus kepada mereka: berikanlah apa yang wajib kau berikan kepada Kaisar. Dan berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Matius, 22: 16-21).

Dari kisah itu, menunjukkan bahwa kaum Yahudi hendak memperdayai Isa as dengan pertanyaan menjebak, seperti pertanyaan yang dilakukan kepada Ahmad Deedat dalam dialog antara dirinya dengan Dr. E Lottem. Yesus ternyata tidak kalah Yahudinya dari pada mereka yang menanyainya. Akal bulus Yahudi dibalas dengan akal yang tulus oleh Isa as.

Dalam pertanyaan itu, bila Isa as menjawab “ Bayarlah Pajak (upeti), maka pemimpin-pemimpin Yahudi itu akan mengatakan kepada khalayak bahwa Yesus bukan juru selamat yang membebaskan orang-orang Yahudi dari perbudakan Romawi. Sebaliknya, mereka akan menganggapnya dan menyebarluaskannya Yesus sebagai kaki tangan penindas Romawi. Tetapi bila mengatakan “ Jangan Membayar Upeti”, tentu mereka tidak akan membayar upeti, dengan alasan Yesus Sang Juru Selamat melarang mereka membayar upeti kepada Raja. Dengan demikian Yesus akan berurusan dengan para penguasa. Bila hal itu terjadi, artinya Yesus mesti kalah. Itulah watak bangsa Yahudi.

Dalam masa kenabian Isa as, perlakuan semacam itu sudah sering dilakukan oleh Yahudi. Diantaranya adalah: “Maka ahli Taurat dan orang Farisi membawa kepadanya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu ditengah-tengah dan berkata kepada Yesus. “Rabi, perempuan ini tertangkap basah sedang berbuat zina, Musa dalam hokum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapatmu tentang hal itu?
Mereka melakukan hal itu untuk mencobai, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk bisa menyalahkannya. Tetapi Yesus, membungkuk, lalu menulis dengan jarinya ditanah. Dan ketika mereka terus menerus bertanya kepadanya, iapun bangkit berdiri lalu berkatakepada mereka,”Barang siapa diantara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melempar batu kepada perempuan itu.” (Johanes, 8 :3-7).

Bila saja ketika itu Yesus mengatakan kepada mereka “Biarkanlah wanita ini pergi”, tentu mereka akan mengumumkan kepada bangsanya bahwa orang ini bukan utusan Tuhan, “Dia bukan Juru Selamat yang kita tunggu-tunggu”. Sebab dalam Zabur (20:10) tertulis “Bahwa pezina pria maupun wanita harus dihukum mati”.

Sebaliknya bila Yesus mengatakan bahwa hukuman mati itu ditetapkan berdasarkan ajaran Taurat dari Musa as, maka sudah dapat dipastikan mereka akan merajam wanita itu sampai mati, walau itu bertentangan dengan hokum setempat, karena perzinahan tidaklah dipandang sebagai kejahatan pokok dalam Kerajaan Romawi. Utusan Tuhan itu, mengenal baik masyarakat Yahudi sebagai suatu bangsa yang jahat dan maksiat.

Kalau dulu, nenek moyang Yahudi melakukan kepada para utusan Allah, kini anak cucunya melakukan kepada saya, Kata Ahmad Dedat. Dialog yang temanya mereka pilih sendiri dengan judul “ Konflik atau Damai ”, merupakan sebuah pengulangan sejarah watak Yahudi sepanjang jaman. Karakter bangsa Yahudi, tidak mau diatur bahkan oleh Allah Sang Pencipta sekalipun. Mau menang sendiri, mau enak sendiri, menganggap bangsanya sebagai manusia pilihan, sedangkan bangsa lain dianggap sebagai hewan yang boleh diperlakukan semaunya.

Watak jahat, merampok, membunuh, memperkosa, menipu, tidak bisa dipercaya, pembohong, rentenir, mentuhankan diri sendiri, adu domba, memalsu kitab dan sejarah, senang melihat orang lain menderita, tidak memiliki rasa kemanusiaan dan keadilan, bangsa terkutuk, senang menciptakan huru-hara baik lewat politik, ekonomi, pendidikan, maupun budaya dan lainnya.

Pendeknya, semua sifat kejelekan ada pada setiap individu maupun kelompok Yahudi. Dalam buku Ahmad Dedat yang berjudul “ Dialog Islam & Yahudi ” ini, banyak diungkapkan rahasia tentang keyahudian. Walau demikian, masih ada sebagian kecil orang Yahudi yang baik. Tetapi, mereka juga tak berdaya dihadapan para Hakom, pendeta Yahudi yang menguasai ummat. Mereka mengaku sebagai manusia suci, ahli Taurat. Namun sejatinya, mereka adalah para pengabdi Syetan yang terkutuk. Mereka mengaku dan lebih senang menerima Talmut sebagai kitab sucinya yang mereka terima dari Iblis Laknatullah, melalui hakom-hakom.

Banyak orang Yahudi menjadi pimpinan agama-agama yang ada di dunia. Tetapi keahliannya sebagai tokoh agama-agama, hanya dijadikan sebagai jalan untuk merusak ummatnya. Hal ini sebenarnya amat jelas terlihat, namun kita telah tertipu oleh penampilan mereka. Atau kita memang rela menjadi hewan, budak dan permainan bangsa terkutuk itu.***

Categories: artikel Tag:,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.