Arsip

Archive for the ‘buku’ Category

revolusi di nusa damai

November 26, 2009 Tinggalkan Komentar

‘Anda harus sadar bahwa anda hanya diperalat saja oleh orang – orang Indonesia itu. Begitu mereka sudah merdeka, Anda pasti akan mereka lupakan. …..”

Kata – kata ini diucapkan oleh salah satu pengusaha Belanda yang mencoba membujuk supaya K’tut Tanri menghentikan kampanye Indonesia-nya di Australia sembari menawarkan 100.000 gulden ……… Setelah membaca buku ini perasaan saya kog agak nelangsa…….!!!!, Sepertinya setelah bertahun–tahun kata–kata tersebut di atas menjadi kenyataan, banyak dari kita yang sepertinya tidak tahu siapa dan bagaimana peran K’tut Tantri dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini…!! Seingat saya-pun di pelajaran sejarah masa sekolah dulu nama ini sama sekali tidak pernah disebut…!!!

Kita semua pasti mengetahui pertempuran Surabaya yang termasyur pada tanggal 10 November 1945. Kita juga diberitahu bagaimana pertempuran ini ’bergema” di penjuru dunia. K’tut Tanri ( pers menyebutnya Surabaya Sue ) lah yang berandil besar dalam hal ini dengan siaran bahasa Inggrisnya dari pemancar laskar pejuang pimpinan Bung Tomo . Sejarah kita juga mencatat bahwa pengakuan awal terhadap nation Indonesia datang dari Pemerintah Mesir dan 7 negara Arab. Tapi sejarah kita tidak mencatat bahwa K’tut Tanri lah yang berjasa ‘menyelundupkan” Abdul Monem utusan Raja Farouk dari Singapura ke Yokya menembus blokade Belanda untuk menyerahkan surat pernyataan tersebut kepada Presiden Sukarno.

Buku ini merupakan biografi K’tut Tantri. Pertama kali terbit 1960 dengan judul “Revolt in Paradise,” yang kemudian diterjemahkan dalam edisi Indonesia menjadi “Revolusi di Nusa Damai.” Sebuah otobiografi yang sudah diterjemahkan lebih dari 12 bahasa. Dalam penulisannya buku ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu : Melanglang Buana, Firdaus Yang Hilang, Berjuang Demi Kemerdekaan.

Perempuan bernama asli Muriel Pearson ini merupakan warga negara Amerika Serikat kelahiran Inggris, seorang seniman yang suatu siang di tahun 1932 menonton film, “Bali-The Last Paradise” di Hollywood. Begitu terkesannya, dia langsung jatuh cinta dengan Bali dan bertekad memulai hidup sebagai artis bohemian di sana. Bagian pertama buku ini menceritakan kisah perjalanan dia yang dimulai dengan mengendarai mobil dari Batavia (Jakarta) – Bali, jatuh cinta dengan alam Bali dan bagaimana akhirnya dia diangkat menjadi anak salah satu raja di sana yang memberinya nama K’tut Tantri.

Bagian kedua buku ini menceritakan jaman dimana Jepang berkuasa di Indonesia dan awal keterlibatan K’tut Tanri dalam gerakan bawah tanah, sampai akhirnya dia tertangkap dan dipenjarakan oleh Jepang. Diberi judul Firdaus yang Hilang karena menurut kesaksiannya apa yang indah dari bali pada waktu itu berangsur hilang, termasuk usaha hotelnya yang dirintis bersama beberapa orang Bali. Di bagian ini secara agak detail K’tut juga bercerita bagaimana persahabatannya dengan Anak Agung Nura, anak raja yang dianggap saudara olehnya yang pada situasi sulit di jaman ini berniat ’mengawini Tantri demi alasan kemanan diri Tanri.

Bagian terakhir buku ini mengisahkan hari – hari yang bersejarah bagi negeri ini, segera setelah kekalahan Jepang , Tantri dirawat oleh laskar pejuang selama beberapa waktu sampai sembuh di Mojokerto, … mengharukan membaca bagaimana para pejuang waktu itu menawarkan bahwa mereka siap mengawalnya kalau dia berkeinginan ke luar dari wilayah Indonesia mengingat apa yang telah dia lakukan dalam gerakan bawah tanah di Jaman Jepang meskipun mereka sendiri juga berharap bahwa Tantri bersedia menggabungkan diri dengan perjuangan mereka.

Pada akhirnya sejarah mencatat bahwa hari-hari berikutnya K’tut Tanri seperti yang belakangan dikatakan oleh Soekarno ’lebih Indonesia dibanding Inggris atau Amerika”. Membaca apa yang dia lakukan kita seolah nyaris tidak percaya bahwa dia bukan orang Indonesia… Pada waktu itu lewat siaran radionya pihak Belanda bahkan menawarkan 50.000 gulden bagi yang bisa menyerahkan K’tut Tanri. Periode ini juga mencatat bagaimana peran dia dari hari-hari disekitar pertempuran heroik Surabaya sampai peran dia di pusat republik waktu itu Yokya, dan persahabatan erat dia dengan bebeberapa pemimpin waktu itu. Buku ini bukan sebuah otobiografi dari perempuan super karena dalam beberapa kesempatan K’tut sendiri menuliskan ketakutannya ketika harus melakukan beberapa aksi intelejen, ataupun ketika menerobos blokade Belanda dengan berlayar dari Tegal ke Singapura sampai gerakan yang dia lakukan di Australia.

Yang sepertinya cukup berharga (karena sangat jarang literatur yang menyinggung mengenai topik ini) adalah kisah dia mengenai jalur penyelundupan indonesia – singapura yang waktu itu menjadi salah satu sumber utama pendanaan republik. Sungguh kebetulan kah kalau ternyata soal korupsi oleh aparat negara pada saat itupun sudah ada …dan dikisahkan dalam otobiografi ini?

Menurut saya buku ini cukup berharga sebagai sebuah dokumentasi sejarah, banyak hal yang tidak kita temui di dalam versi sejarah resmi kita. Lewat buku ini kita bisa merenung bahwa diatas sekat–sekat ”nasionalisme” ternyata ada nasionalisme yang lebih tinggi yaitu humanisme. Kisah K’tut Tantri menunjukkan bahwa kemerdekaan bangsa ini dahulu diperjuangkan dan didukung oleh banyak orang , … yang melihat kemanusiaan melebihi dari yang lain, kemanusiaan yang bisa melampaui dinding etnis, keyakinan ataupun budaya bahkan kebangsaan. Ditengah situasi polarisasi dan pengkotakan pada saat ini, kisah K’Tut Tantri bisa membuat kita kembali merenung tentang bagaimana bangsa ini dulu dibangun dan dipertahankan. K’tut Tantri meninggal pada 27 Juli 1997 di Sidney, Australia dengan perasaan cinta kepada Indonesia tidak pernah luntur. Peti matinya dihiasi bendera Indonesia dengan aksen Bali kuning dan putih. Seperti permintaanya, jasadnya diperabukan. Abu jenazahnya disebarkan di Pantai Bali. Sementara harta peninggalannya disumbangkan ke anak-anak Bali yang kurang mampu.

Categories: buku Tag:,

Sinopsis: Tuhan di Bawah Kedua Telapak Kakiku

Agustus 7, 2009 Tinggalkan Komentar

cover tuhan 01

Buku ini menampilkan sebuah perjalanan spiritual anak manusia dalam mencari identitas diri. Pada awal perjalanannya semula berupa kegundahan dan kenekatan setelah cintanya terhadap Kayla terombang-ambing antara kenyataan dan maut. Saat itulah cemburu tiba-tiba mengamuk. Kehidupan sang tokoh yang tenang tiba-tiba terusik oleh keterancaman janji-janji yang tiada terealisasi. Berbekal motor butut peninggalan ayahandanya serta modal pas-pasan, sang tokoh kemudian melakukan perjalanan jauh hingga daya tahannya terkuras habis. Selama melakukan perjalanan berkeliling ia sering didera cemooh, pujian, lapar dan dahaga, kepanasan, kehujanan, serta sakit. Sebaliknya, bertemu orang-orang di bawahnya justru menjadi penghilang dahaga. Mengesampingkan urusan pribadi adalah penghibur laranya. Dengan profesinya sebagai jurnalis, sang tokoh melibatkan diri dalam pertarungan batin yang maha dahsyat. Kini perjalanannya bukan lagi mengenai pertarungan cinta, bahwa baginya martir cinta hanyalah sebuah judul yang cocok untuk lagu-lagu cengeng. Bukan pula tentang pemberontakan serta kebebasan yang kerap didamba-dambanya, melainkan mengenai jagat manusia yang sarat akan sejuta pemikiran dan permasalahan. Bahwa semua yang dilahirkan memulai hidup tanpa mempunyai sesuatu tak terkecuali tubuh maupun nyawanya sendiri. Kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Bahwa semua pasti akan mati, itu pasti. Tapi kapan dan bagaimana kematian tidaklah penting dan tak perlu kisruh memikirkannya. Siapa yang siap, itulah intinya. Banyak hal-hal yang disajikan oleh sang tokoh; dari keberagaman sosial, budaya, serta ideologi suatu kelompok. Pun penceritaan sejarah manusia dihaturkannya dengan kepekaan tinggi. Mengenai keimanan sang tokoh, tentu penyajiannya disampaikan dengan sangat gamblang, dinamis serta progresif. Sang pengarang dalam tokoh rupanya tidak mempersonifikasi diri sendiri sebagai pengarangnya langsung, atau bahkan si tokoh adalah orang lain, itu bisa saja terjadi. Tapi yang pasti tokoh ini menjadi saksi inteletual atas kejadian-kejadian atau keadaan-keadaan yang dialami di tengah perjalanan hidupnya. Dia membuat seolah-olah perjalanannya begitu mudah sehingga dapat dilakukan oleh semua orang tanpa suatu kepayahan apapun. Perjalanan ini telah memberi ruang pemahaman bagi sang tokoh tentang satu makna yang tak diperkirakan sebelumnya. Ia sadar ternyata menjadi manusia itu tidak gampang. Kita hanya cukup menjadi manusi…tanpa huruf ‘A besar’. Sebab huruf ‘A’ adalah milik Allah. Dari sini perjalanannya kemudian melenceng dari yang direncanakan. Dari kekesalan cinta menjadi kerinduan yang membahana di dinding-dinding arasy. Dari permberotakannya menuju kebebasan justru kian mendekatkannya kepada Yang Dicintai. Demikian pula permasalahan yang ditemuinya membuatnya menjadi sosok pemabuk yang sakitnya hanya dapat disembuhkan dengan permohonan cinta yang suci dan tulus terhadap Sang Kekasih. Bahkan dari kedua telapak kakinya ia merasa ditampakkan (tajalli) Al-Haq.

JANCUK

November 18, 2008 Tinggalkan Komentar

jancuk-iki1Mengapa, “Jancuk” kok menjadi sebuah judul buku, sesungguhnya Jancuk itu kata-kata makian, sekaligus sapaan akrab bagi orang yang sudah dikata Surabaya tulen. Ada yang menyebutnya kata Jancuk itu adalah slanknya Surabaya.
Buku ini berisikan puisi dan guratan-guratan pikiran, dari seorang-orang yang melihat pentingnya dan pengakuan kehidupan. Buku ini mengimpun karya creator muda. Kalau cermat dilihat penulisnya kebanyakan alumnus dari perguruan tinggi yang bercongkol di kota Jember. Kata Jancuk diambil, mungkin karena dianggap mampu menggambarkan ekspresi para penulisnya.

Categories: buku Tag:

GAULI ISTERIMU DARI ARAH SESUKAMU

November 18, 2008 Tinggalkan Komentar

gauli-isterimu2Buku ini terkategori aneh, karena judul dan isinya tidak siginifikan. Judulnya sangat “bombastis,” namun isinya “agamis”.
Kemungkinan karena balutan bisnis, dipilih judul yang menarik sehingga buku akan terjual laris manis.
Isi buku ternyata membeberkan sebuah pedoman Islami dalam menggauli seorang isteri.

Categories: buku Tag:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.