Arsip

Archive for the ‘cerpen’ Category

Kota Kelamin

November 26, 2009 Tinggalkan Komentar

Mataku berkaca membentuk bayangan. Bayangan wajahnya. Wajah pacarku. Wajah penuh hasrat menjerat. Duh, dia menyeringai dan matanya seperti anjing di malam hari. Aku tersenyum dalam hati, ia menggeliat, seperti manusia tak tahan pada purnama dan akan segera menjadi serigala. Auu! Ia melolong keras sekali, serigala berbadan sapi. Mamalia jantan yang menyusui. Aku meraih putingnya, menetek padanya, lembut sekali. Lolongannya semakin keras, menggema seperti panggilan pagi. Pada puncaknya ia terkapar melintang di atas tubuhku. Dan tubuh pagi yang rimbun. Ia tertidur.

Pagi menjelang, ketika gelap perlahan menjadi terang. Tampak tebar rerumput dan pepohonan menjulang, angin dan sungai dan di baliknya bebek-bebek tenggelam dalam gemericik. Kutatap tubuhnya yang berkeringat membasahi tubuhku. Mengalir menumpuk menjadi satu dengan keringatku. Bulir-bulir air seperti tumbuh dari mahluk hidup. Bulir-bulir yang juga dinamai embun-embun bertabur di atasnya, bercampur keringat kami.

Matahari membidik tubuhku dan tubuhnya. Seperti kue bolu yang disirami panas agar merekah wangi. Wangi birahi tubuh kami. Pacarku masih mendengkur. Aku memperhatikan dadanya yang naik turun berirama, yang di atasnya dibubuhi bulu-bulu halus. Aku memainkan bulu-bulu itu dan sesekali mencabutinya. Bangun, kataku berbisik di telinganya. Lihat, matahari menyapa kita. Bebek-bebek naik ke daratan dan mendekati, mematuk biji-biji tanah di sekitarku. Aku melirik pelir pacarku yang kecoklatan. Kulit kendur, dan seonggok penis layu di atasnya. Aku tertawa sendiri. Bebek-bebek menyahut. Aku membelai penisnya, seperti membangunkan siput yang bersembunyi di balik rumahnya. Penis yang kunamai siput itu bergerak bangkit, bangun rupanya. Menegang, menantang, dan tersenyum memandangku. Selamat pagi, kataku. Kamu lelah semalaman, memasuki liang liurku. Dan rupamu yang menegang berjam-jam, kau harus menembus liangku berulang-ulang.

Di tempat inilah kami biasa bertamasya melakukan senggama. Tempat yang jauh dari mata-mata manusia yang mengutuk kelamin orang dan kelaminnya sendiri. Pacarku lalu terbangun, matanya memicing, bibirnya membentuk perahu, tersenyum seadanya. Liangmu nakal, katanya sambil menggeliat dan memelukku. Apa jadinya vagina tanpa liang. Apa jadinya tanpa lubang. Bagaimana menembusnya, katanya. Dan liurmu yang berlumur di penisku, bagaimana Tuhan menciptanya.

Aku memetik sekuntum bunga dan mematahkan putiknya, terlihat getah mengalir di ujung patahannya. Seperti ini, kataku menunjukkan padanya. Dan aku seperti ini, katanya sambil menjatuhkan serbuk sari bunga itu di atas kepala putik. Kami tertawa renyah.

Kami sepakat bahwa kelamin seperti sekuntum bunga dengan dua jenis kelamin di dalamnya. Benang sari dan putik yang tak mungkin berpisah dari kelopak bunganya. Juga warna-warna alam yang membiarkan kami melakukan senggama. Tak ada yang melarang, membatasi, tak juga mengomentari.

Inilah kebahagiaanku dengannya, kelamin-kelamin yang bahagia di malam hari. Kelamin juga butuh kebahagiaan. Kami mengerti kebutuhan itu. Kelamin-kelamin yang melepas jenuh, setiap hari tersimpan di celana dalam kami masing-masing. Tak melakukan apa pun kecuali bersembunyi dan menyembur air seni. Kelamin-kelamin yang menganggur ketika kami bekerja keras mencari uang. Apalagi penis pacarku, ia terlipat dan terbungkus di kantong sempaknya. Ketika mengembang ia menjadi sesak. Betapa tersiksanya menjadi penis. Begitu pula vagina, wajahnya sesak dengan celana dalam ketat nilon berenda-renda, tak ada ruang baginya. Kelamin-kelamin hanya dibebaskan ketika kencing dan paling-paling memelototi kakus setiap hari.

Kelamin kami memang tak boleh terlihat, oleh binatang sekalipun. Meski pada awalnya mereka hadir di dunia yang dengan bebasnya menghirup udara bumi. Sejak itu mereka bersinggungan dengan benda-benda buatan manusia. Terutama ketika dewasa, mereka semakin tak boleh diperlihatkan. Tak boleh terlihat mata manusia.

Suatu hari, vaginaku memucat. Penis pacarku kuyu. Aku heran, apa yang terjadi, kelamin yang tak bahagia. Aku dan pacarku diam, suasana sepertinya tak lagi menghidupkan kelamin-kelamin yang menempel di tubuh kami. Seandainya mereka bisa bicara apa maunya. Lalu kami mencoba telanjang dan berbaring berpelukan di rerumputan. Kelamin kami saling bertatapan. Tapi kami malah kedinginan. Tubuh kami menggigil memucat. Angin malam pun datang, mengiris-iris tulang kami. Ai! Pacarku, tiba-tiba penisnya hilang. Ke mana ia? Di sini, ia melipat meringkuk tak mau muncul, kata pacarku. Vaginamu? Mana vaginamu? Pacarku merogoh vaginaku, berusaha sekuat tenaga mencari lubang dan liang, tapi tak ketemu. Mana lubangmu? Kok susah? Tanya pacarku. Ia menutup sendiri, kataku. Lihat, senyumnya tak ada lagi.

Kami berdua beranjak, kemudian duduk di dekat sungai, menjauh dari angin. Tubuhku dan dia masih telanjang dan pucat di malam yang semakin pekat. Kami terdiam. Diam saja sampai pagi.
***
Sudah lama aku tak bertemu pacar. Entah mengapa, aku pun tak tertarik untuk bertemu. Bahkan mendengar lolongan dan dengkur tidurnya. Serta dadanya yang naik turun bila terserang nafsu. Aku sibuk bekerja beberapa minggu ini. Tak pernah tertarik pula pada bebek-bebek, angin dan pohon yang biasa aku dan dia temui di tengah senggama kami. Entah mengapa, ketika kubuka celanaku tampak vaginaku pucat tak lagi menunjukkan senyumnya. Kutarik celanaku dengan kasar, seperti ingin menyekap vaginaku yang tak lagi ramah. Sial! Kataku. Aku merasa tak ada gunanya punya kelamin kecuali untuk keperluan kencing. Aku kehilangan gairah, kulempar semua berkas-berkas di meja kerjaku. Juga foto-foto di atas meja. Foto-foto ketika kami bahagia. Dan foto-foto kelamin kami di dalam laci. Aku melemparkannya hingga membentur dinding.

Kubuka kaca jendela ruangan. Tampak tebaran gedung-gedung tinggi dan patung besar menjulang di tengah kota dan jalan-jalan layang yang menebas di tengahnya. Tampak pemukiman kumuh di baliknya dalam cahaya remang ditelan tebaran lampu gedung dan jalan yang menyala-nyala. Napasku sesak, seperti lama tak bernapas. Kujambak rambutku sendiri, dan aku berteriak panjang sekuat-kuatnya. Sampai aku lelah sendiri. Aku duduk di pojok ruangan, memandang meja kerjaku yang berantakan. Duduk lama hingga bulan tiba. Semua orang yang ingin menemuiku aku tolak. Aku mengunci pintu dan mematikan lampu. Aku terserang sepi. Kehilangan motivasi. Aku tertidur di atas kakiku sendiri.

Terdengar suara-suara merintih memanggil-manggil. Suara sedih dan renta. Ia seperti datang dari udara kota. Aku terbangun dan menajamkan pendengaran. Suara apa itu? Ia ternyata hadir tak jauh dari dekatku. Aku mencari sumber suara itu. Mana dia? Kutemui suara itu yang ternyata keluar dari vaginaku.

Kami tak pernah diakui. Kami terus saja diludahi. Kami dinamai kemaluan, yang artinya hina. Manusia tak pernah menghargai kami. Sama dengan pelacur-pelacur itu. Segala aktivitas kami dianggap kotor.

Samar-samar kudengar suara vaginaku yang aneh. Ia tak seperti suara manusia. Kata-katanya seperti kayu yang lapuk dan lembab, yang sebentar lagi akan dimakan rayap.

Bagaimana cara Tuhan memaknai kami? Kami pun buruk dalam kitab-kitab suci, lebih buruk dari setan dan jin.

Aku mengelus vaginaku. Kubuka celanaku dan membiarkannya bernapas. Aku bingung sendiri bagaimana ia bisa bicara. Itukah yang membuatmu pucat selama ini?

Keningku berkerut. Setelah itu tak ada lagi suara. Aku menatap vaginaku, seperti menatap mahluk hidup yang mati. Aku menyalakan lampu. Aku membereskan berkas-berkasku yang berantakan di lantai ruangan. Aku membuka kunci pintu dan keluar menuruni tangga, aku ingin berjalan mengelilingi kota di hari menjelang larut. Tampak orang-orang lalu-lalang dan beberapa seperti sengaja menabrak tubuhku. Aku jengkel dan berteriak memaki mereka. Tiba-tiba datang suara-suara seperti rayap yang merambat di balik kayu-kayu bangunan tua. Ampun, suara apa lagi ini? Samar-samar aku seperti melihat orang-orang telanjang dan berbicara dengan kelaminnya. Semua orang di kota ini telanjang! Kelamin mereka megap-megap. Penis-penis menegang seperti belalai gajah yang sedang marah dan melengkingkan suaranya. Vagina-vagina memekik dan menampakkan kelentit-kelentitnya yang tak lagi merekah. Liang-liang gelap vagina tampak menganga di depan mata.

Aku tak kuasa mengendalikan kebingunganku. Aku tahu para kelamin sedang meneriakkan batinnya. Aduh, manusia. Benar juga, bahkan tubuhmu sendiri tak kau hargai. Aku ingin sekali membantu mereka. Bahkan kelamin-kelamin yang sejenis dan bercinta setiap malam, dan kelamin-kelamin yang telah diganti dengan kelamin jenis lain, aku melihat jelas sekali kelamin para waria yang sedang berjoget di jalanan itu. Kelaminnya menangis tersedu-sedu mengucapkan sesuatu.

Aku lelah dan berhenti di sebuah taman kota. Aku duduk di bangku taman itu sembari melihat patung telanjang yang menjulang di atasku. Penisnya tampak dari bawah tempatku duduk. Aku melihat rupa patung itu yang penuh amarah, dan penis besarnya yang tak lain adalah batu.

Pacarku, aku teringat pacarku. Di manakah pacarku.
Di sini!
Kaukah itu?

Tak kuduga pacarku tiba mendatangiku dalam keadaan telanjang. Penisnya seperti jari-jari yang sedang menunjuk. Penisnya menunjuk-nunjuk ke arah kelaminku. Ternyata aku pun telanjang. Orang-orang di kota ini telanjang tak terkecuali. Kulihat vaginaku megap-megap dan liurnya menetes-netes. Pacarku lekas meraih tubuh telanjangku di taman itu, memeluk dan menggendongku di bawah patung besar telanjang menjulang.

Matanya menembus mata dan hatiku. Jarinya merogoh liang gelap vaginaku yang sudah menganga. Pacarku sangat mengenal teksturnya. Liur yang melimpah. Limpahannya membasahi jemarinya. Lalu ia mencabutnya dan menggantikan dengan penisnya yang menembus. Kini kami bersenggama di tengah kota. Kota di mana setiap orang telanjang dan tak peduli dengan ketelanjangan orang lain. Auu! Pacarku kembali menjadi serigala melolong. Ia menggigit seluruh tubuhku. Seperti anak anjing, aku menggapai sepasang puting di dadanya dengan lidahku. Kami menyatu dalam tubuh dan kelamin. Aku mengerti sekarang, kelamin pun punya hati.

(Cerpen ini punya Mariana Amiruddin. Bagus banget coy. Kenapa ya dulu aku ga kepikiran buat yang kayak gini. Salut deh buat yang punya cerpen ini)

Categories: cerpen Tag:

NAK, IBU SEDANG MELACUR! (bag. 2)

November 26, 2009 Tinggalkan Komentar

Oleh: Noviyanto Aji

Dua puluh enam tahun silam, Rika saat itu masih perawan. Kecantikannya melebihi gadis-gadis seusianya. Dia bunga desa di kampungnya. Duduk di bangku SMP kelas dua Sumberpucung, Malang. Tanpa sepengetahuannya, orang tua Rika menjodohkan dirinya dengan lelaki pilihan. Masalahnya sederhana: ekonomi.
Calon suami Rika masih muda. Tapi dibanding dirinya, usianya jauh lebih tua. Kerjanya PNS. Hidup mapan. Gaji tak pernah telat. Punya motor sendiri, dan sedang nyicil rumah.
Dan tiba-tiba tak ada angin tak ada hujan, Tuan PNS melamar Rika. Katanya, Tuan PNS mengenal Rika dari foto. Saat ada tetangga yang menikah, si tetangga ini memberi foto Rika ke dia.
Lamaran Tuan PNS diterima–oleh orang tua Rika, bukan oleh Rika.
Orang tua cuma berpikir, daripada anaknya tidak sekolah, lebih baik dinikahkan saja. Dan Rika memang sempat berontak. Ia bilang ia tidak mencintainya.
“Nak, Ibu sudah tidak bisa merawatmu,” kata ibu.
“Lalu, haruskah aku menikah! Aku bisa kerja kok.” Rika melawan, berontak, hatinya panas sepanas tungku api.
“Bukan itu maksud Ibu.” Ibu Rika terus-terusan mendesak.
Muka Rika muram. Pun ibunya. Melihat ibunya tak mau kalah berdebat, Rika pun pasrah. Sang ibulah pemenangnya. Rika harus menikah dengan lelaki yang katanya akan menyelamatkan keluarganya dari jurang kemiskinan.
Tak lama, mereka pun sah menjadi suami-istri, meski Rika belum hafal wajahnya. Resepsi meriah. Semua biaya ditanggung Tuan PNS. Acara dibuka dengan tayuban. Penarinya teman Rika sesama sanggar. Di desa, Rika memang dikenal jago menari. Pantas jika penampilan serta gaya Rika membuatnya menjadi gadis pujaan pria.
Semua orang tertawa senang. Malam itu, cuma Rika yang bersedih; tak tahu apa yang akan dilakukan lelaki asing itu. Malam pertama tiba. Ini adalah malam yang mengerikan. Apa yang terjadi malam itu, tak akan bisa hilang dalam ingatan. Malam itu, Tuan PNS berusaha menciumi Rika.
“Rasanya?” Rika bercerita, “kau mau tahu?”
Jijik!
Phhhhhuiiiiih…. Cuh!
Baru kali ini ia dicium lelaki. Dan, malam itu Tuan PNS melakukannya dengan cara mengerikan. Mulai dari pipi, bibir, dan seluruh tubuh, digerayanginya. Dirinya seperti, makanan.
Tuan PNS sangat kasar. Malam itu, dia melakukan kewajibannya sebagai suami dengan cara paling kasar.
“Dia seperti memperkosa aku. Aku melawan. Kau tahu apa yang dia lakukan?”
Plok!
Dia menamparnya. Bayangkan? Rika ini istrinya. Tapi, kenapa dia harus menampar hanya karena Rika tidak siap untuk melayaninya. Bukan cuma itu. Malam itu, Rika benar-benar disiksa.
“Karena aku terus melawan, aku ditendang. Aku lupa apa yang terjadi selanjutnya. Aku pingsan. Aku baru bangun pagi hari. Tubuhku begitu sakit. Ada darah. Ya, itu darah perawan. Tuan PNS merenggut keperawananku saat aku pingsan.”
Rika diperkosa suami sendiri!
Apa yang bakal terjadi selanjutnya, jika Tuan PNS terus menjadi suaminya. Rika keki. Tak ada pilihan lain selain berontak. Hari pertama menjadi istri PNS, cuma satu yang dilakukannya: Minggat!
Itulah malam pertama dengan suami pertama, sekaligus malam terakhir. Setelah itu Rika pergi dan tak kembali. Kejadian ini tak pernah diceritakannya pada orang lain. Termasuk ibunya. Ia takut keluarganya juga akan jadi korban. Tuan PNS seorang maniak.

***
Rika minggat ke Lamongan. Ke rumah suadara. Setiap malam, ia tak bisa tidur dengan tenang. Bayang-bayang Tuan PNS selalu menghantui. Ibrahim, saudaranya kaget, karena Rika adalah pengantin baru. Tak seharusnya pengantin baru pergi tanpa didampingi suami.
“Apa yang terjadi?” Om-nya bertanya dengan harap-harap cemas.
“Nggak ada apa-apa,” Rika berbohong.
Rika mengaku kalau suaminya sedang tugas ke luar kota. Karenanya, ia mau berlibur ke Lamongan. Rika tak memberitahu, sampai kapan ia di sana.
Tak terasa, lima bulan lebih Rika minggat dari rumah. Om dan tante mulai curiga. Mereka mulai bertanya-tanya. Sampai akhirnya, mereka menghubungi orangtua Rika di Malang.
Dua hari kemudian wanita yang memaksa Rika menikah, datang. Kepada saudara di Lamongan, si ibu bercerita bahwa anaknya telah kabur dari rumah. Om dan tante tidak marah. Dia berusaha tenang dan mendesak Rika cerita.
“Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Akhirnya, kuceritakan peristiwa malam pertama itu. Ibu menangis. Saudaraku menahan amarah. Kejadian ini kemudian dilaporkan ibu ke atasan suamiku. Kabar terakhir, suamiku dipecat.”
Setahun setelah menikah, mereka bercerai. Jadi, malam pertama itu adalah malam terakhir Rika berhubungan badan dengan suaminya.
Tak ada kata perpisahan. Tak ada ciuman. Tak ada pesta. Tak ada tetes air mata. Hanya berkas-berkas surat yang mesti ditandatanganinya. Isinya: cerai.
Rika bebas. Tuan PNS tak bisa apa-apa lagi. Tak bisa menyentuh, memaksa, menyiksa, maupun memperkosa.
Setelah perceraian, Rika memutuskan menetap di Lamongan. Keadaan di Malang tak seperti dulu lagi. Semua berubah. Ibunya sibuk mengurusi adik-adik, tak ada waktu mengurus dirinya. Ibu tak pernah menyinggung-nyinggung masalah cowok. Jangankan menawari menikah, bertanya apakah Rika punya pacar atau belum, atau, apakah sudah punya calon suami saja, sang ibu tidak berani.
Perasaan bersalah sang ibu lebih berat ketimbang kejadian yang dialami anaknya. Ibu Rika sudah tak peduli lagi. Sementara Rika, sudah jadi janda di usia yang sangat muda. Kendati demikian ia tak pernah dendam pada ibunya.
Hidup di Lamongan lama-lama dirasakan membosankan. Kerjanya cuma makan, tidur, main. Rika ingin bekerja. Tapi, ia bimbang sebab tak punya pengalaman. Hanya satu yang bisa dilakukannya: Menari.
Sewaktu SD hingga SMP, Rika jago menari. Namanya tari Gambyong. Tari ini berasal dari Jawa Tengah. Biasa digunakan untuk acara-acara ritual. Saat itu di Lamongan ada sanggar tari. Mereka menerima order keliling. Rika pun bergabung dengan mereka.
Setiap ada acara-acara manten, Rika dan timnya selalu diundang. Awalnya sebagai penari pengganti. Namun, lambat laun, ia menjadi penari utama. Hasilnya lumayan. Dua tahun menjadi penari Gambyong, selama itu ia telah menemui banyak orang dengan karakter berbeda-beda. Tak sedikit dari mereka yang jahil; mencubit dada, pantat, hingga mencium. Malah, ada yang mengajak tidur. Rika menanggapinya dengan dingin. Justru dari menari, Rika akhirnya bertemu Andreas.
Pertemuan itu terjadi di pesta pernikahan. Saat itu ia mendapat undangan menari. Selesai menari, seorang pemuda mendatanginya. Tampan. Macho. Gaya bicaranya lembut. Rambut cepak menyerupai tentara terkena disersi. Bodi kekar. Seandainya dia bertelanjang dada, wanita mana yang tidak duyu kuyu. Kulitnya kuning langsat. Sepintas wajahnya mirip Tora Sudiro. Yang membuat Rika tak kuat adalah rayuan. Bak disambar petir di siang bolong, rayuan Andreas membuat hatinya luluh. Pemuda itu memberi secarik kertas. Isinya: Aku terhipnotis oleh tarianmu. Bolehkah aku tahu siapa namamu?
Mereka berkenalan. Usia Andreas lebih tua 3 tahun. Dia mengaku bekerja sebagai pegawai bank swasta di Lamongan. Tak banyak yang mereka bicarakan malam itu, selain saling mengenal nama. Pesta usai. Mereka berpisah. Tapi sebelumnya mereka sempat bertukar alamat.
“Aku kira, pertemuan itu adalah pertama dan terakhir. Aku kira Andreas tak pernah serius denganku. Aku kira, malam itu Andreas sekedar menyempatkan waktu untuk ngobrol denganku sambil menunggu pesta usai. Setelah itu, semua akan menjadi kenangan.”
Tak pernah terlintas dalam pikiran Rika, ada cowok yang mau sama penari. Kecuali kepepet. Tak ada yang bisa diharapkan dari penari. Terlebih, penari yang sudah menjanda.
Tapi, pemuda itu datang ke rumah. Tak disangka akan begini cepat. Padahal, baru semalam mereka berkenalan. Dia benar-benar serius. Selain tampan, ternyata pemuda itu juga baik dan sopan. Dia mengajak Rika berkencan.
“Tanjung Kodok!” Katanya.
“Ah, aku tersanjung.”
Gayung pun bersambut.
Mereka pergi ke pesisir utara. Tempatnya indah tapi panas. Banyak batu karang besar menyerupai kodok. Tapi pemandangannya sangat menyenangkan. Udara di sana bersih. Hamparan laut yang menerjang batu karang membikin hati tercabik-cabik.
Meski jaraknya sangat jauh, Rika senang saja. Sebab di sisinya ada Andreas. Mereka naik motor. Di situlah, cinta bersemi. Di situ, Andreas mengungkapkan perasaannya. Laki-laki itu ceplas-ceplos. Hari itu, Andreas menyatakan cinta. Hari itu, cintanya diterima. Sampai dua bulan kemudian, mereka memutuskan untuk menikah.
Sebenarnya, Rika tak ada rencana untuk menikah. Jujur, ia masih trauma. Setiap mengenang malam-malam pertama bersama Tuan PNS, perasaan itu selalu menghantui. Apakah Andreas benar-benar suami yang baik? Apakah dia seorang maniak? Apakah dia benar-benar mencintai Rika setulus hati? Apakah dia akan menyiksanya?
Rika cuma pasrah. Hanya Tuhan yang tahu apakah pernikahannya berjalan lancar atau tidak. Memang sempat ia hendak membatalkannya. Pada akhirnya Si Om turun tangan. Dia menasehati banyak hal.
Si Om bilang:
“Nduk, masa lalu bukan sesuatu yang harus ditangisi atau dijauhi. Masa lalu adalah sesuatu yang harus kamu jalani. Kamu akan menjadi manusia tangguh jika berani menghadapi hidup yang pahit.”
Rika menangis mendengarnya. Saat itu dirinya sadar. Bahwa, apa yang terjadi di dunia ini, adalah kehendak Tuhan. Kita tidak bisa menolak. Dia yang punya hak menghidupkan. Dia juga yang punya hak mematikan. Dia punya hak membuat kita menderita. Dia juga punya hak membuat kita senang. Ini hanya masalah waktu. Apa yang akan terjadi esok, biarlah terjadi. Toh, kita tak tahu apa rencana Tuhan.
Pernikahan jalan terus.
Seperti pernikahan pertama, pernikahan kedua berlangsung khidmat. Ada modin, ada om, ibu, ayah dan saudara-saudara.
Memasuki malam pertama, semua kekhawatiran itu tak jadi kenyataan. Sang suami memperlakukan Rika dengan lembut dan halus. Dia tak menyiksa, tak menampar, tak memukul, tak mencekik. Bagai seorang dewi, malam itu Rika benar-benar merasa hidup. Dan malam itu, Rika menjadi istri paling bahagia di dunia. (Bersambung/cerpen ini pernah dimuat koran REK AYO REK, 2 Februari 2005)

Categories: cerpen Tag:

NAK, IBU SEDANG MELACUR!

November 26, 2009 Tinggalkan Komentar

Oleh. Noviyanto Aji

Kereta Argo Bromo dari Jakarta baru tiba. Itu kereta api terakhir hari ini. Dia cuma berhenti sebentar untuk menurunkan penumpang. Setelah itu, dia akan ngandang di stasiun besar sana: Stasiun Semut. Bobok. Besok berangkat lagi. Tujuan masih sama. Surabaya-Jakarta.
Suasana menjadi senyap. Angin malam berhembus semilir. Suara bisik-bisik orang di bantalan rel membuncah. Sekumpulan orang mulai memadati rel. Duduk di atasnya. Berbisik antar lawan jenis tanpa takut diserudug kereta. Yang pria matanya jelalatan, yang wanita menunggu mangsa mendekat. Lalu, suasana berganti. Ada lagu Bang Toyib. Berirama remix. Rumah-rumah kotak, warung-warung remang di pinggir stasiun mulai menghidupkan lampu minyak. Inilah saat bagi perempuan-perempuan keluar. Dandanannya memikat. Menebar pesona birahi. Siapa yang melihat, akan didekati. Lalu, ditawari. Malam ini, siapa akan meniduri siapa. Boleh saja. Asal, bayar sesuai tarif.
Jauh di keremangan malam, tepat di pinggiran rel yang panjang dan kekar, seorang perempuan duduk di rumah kotak-kotak berukuran sempit–hasil arsitektur amatiran, terbuat dari triplek dengan atap seng dan beralaskan tikar. Setiap lelaki yang lewat disapanya. Di dekapannya, bocah kecil sedang menyusu.
Perempuan ini nampak bugar. Tubuhnya singset walau usianya tak lagi muda. Guratan di matanya menandakan kalau ia sudah pantas memiliki cucu. Rambutnya mengembang bak kipas, tidak keriting juga tidak lurus, model dandanan tempo doeloe. Kulit kuning langsat. Kuku-kuku di jari jemarinya tergoreskan kutek warna merah, pun kuku di kakinya. Ia hanya mengenakan sandal murahan agar terlihat keren saja. Sementara si kecil tampak terkantuk-kantuk di pelukannya. Sesekali terbangun bila mendengar ibunya menyapa lelaki. Ia bilang menunggu tamu.
Kalau tamu datang, si kecil ya ditaruh. Kalau udah bobok lebih enak. Asal nggak berisik mainnya, kata si perempuan.
Perempuan ini, berdiri berjajar di depan rumah-rumah kotak. Ia seperti perempuan lain yang ada di situ. Malam itu, ia menjajakan diri. Yang membedakan hanya satu: ia harus menunggu si kecil bobok, kalau ada tamu yang akan menyewa tubuhnya.
Irfan nama anak laki-lakinya. Usianya belum genap setahun. Tapi, dia sudah cukup merepotkan. Kerjanya nangis. Kalau tidak karena lapar, ya kedinginan.
Setiap malam perempuan itu harus meninabobokan dia sampai tidur. Kadang, saat larut dia baru bisa tidur. Mungkin karena bising. Karenanya, Irfan sering masuk angin. Irfan, paling suka tembang-tembang yang keluar dari mulut ibunya. Ya, bukan lagu yang enak. Sekedar gumaman sang ibu cukup membuatnya merasa nyaman.
Dengan penuh kasih dia gendong buah hatinya. Wajahnya ditutupi selendang; menjaga agar tidak kena angin malam. Nah, saat seperti itu dia biasanya menangis. Kalau tidak kedinginan, ya kelaparan. Tapi, ia kan tetap harus keluar. Kalau tidak, darimana perempuan itu dapat uang buat makan. Ia harus melakukan itu. Ini sebuah pilihan. Entah, pilihan siapa. Diakah? Kondisikah? Waktukah? Takdirkah?
“Rik!”
Pelayan warung memanggil, Rika–perempuan ini berusia kira-kira 40an–menyambut dengan tolehan leher 90 derajat. Seorang lelaki duduk di bangku kosong dengan sebuah rokok dalam jejalannya. Rambut jarang di atas tempurung kepalanya. Kedua alisnya yang tebal bersatu dan kumisnya yang tak terawat dan telah tercukur di atas bibirnya yang menempel di sana sehingga ia tak bakal kehilangan kumis itu. Rika mengamati lelaki yang sedang duduk di sampingnya dari kepala sampai kaki. Pakaiannya kusut. Tak tampak berkelas. Celana sobek bagian lutut, seolah-olah ingin menyerupai dandanan rocker. Kakinya hanya beralas sandal jepit. Ujung tumitnya pecah-pecah. Jari-jari kaki membengkak. Pun jari tangan sebesar bohlam lampu. Kuli, Rika berpikir. Montir, pikirnya lagi. Tukang becak, tukang tambal ban, mungkin juga. Asal bawa uang, Rika bersedia mendekat. Kalau tidak, uh, jauh-jauh-lah kamu.
“Dia mencarimu!” Pelayan itu tanpa sungkan.
“Kenal, Bu?” Sambut Rika dengan senyum beku di bibir.
Pelayan menggeleng. Ia menyibukkan diri dengan dagangannya seolah-olah cuek dengan keadaan sekeliling Stasiun Wonokromo.
Rika mendekat, tak lupa si kecil dibawanya. Ia kini harus membagi perhatiannya. Antara mengawasi anak, dan…melayani lelaki. Tidak gampang. Terutama kalau anaknya belum tidur.
Tentu saja, saat Rika pertama kali melakukan hal itu ia bingung setengah mati. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana. Tapi ia kan harus melacur, kalo tidak, anaknya akan makan apa.
Lama-lama ia bisa juga mengatasi. Yang penting, sebelum melayani tamu, Irfan dininabobokan. Dinyanyikan lagu kesukaannya. Setelah itu, dititipkan ke pelayan warung. Barulah Rika menemui laki-laki yang menunggunya.
Cuma, masalahnya. Kadang ada lelaki yang nggak sabar menunggu. Jadi, dia memilih wanita lain karena capek menunggunya menidurkan sang anak.
Ada juga lelaki yang bersabar sesabar sang ibu. Setelah anaknya tidur, mereka pun masuk rumah kotak-kotak. Di situ mereka gulung kuming. Main mainan orang dewasa.
Tapi, ya, begitulah. Kadang, kalau anaknya tidak ada yang menunggu, ya terpaksa, Irfan diletakkannya begitu saja di atas bangku di depan pintu masuk rumah kotak. Lalu, Rika main di bawah, saat itu si anak bertugas menjadi penjaganya.
Kalau tidak begitu ia tidak mendapat uang. Kalau tidak melayani lelaki, besok anaknya makan apa? Ia juga makan apa?
Setelah Irfan tertidur, Semua teman-teman Rika berebut menjaganya. Karena lucu, imut, dan menggemaskan. Sesekali pelayan warung turut menyamankan si kecil dengan selimut hangat. Sementara rumah kotak buatan nampak mulai bergoyang-goyang di sisinya. Terdengar riuh erangan, namun lama-lama hilang ditelan kesunyian. Rika sudah di dalam, tentu saja bersama lelaki tadi. Cuma perlu sekian menit baginya menyudahi permainan. Setelah usai, Rika membenahi pakaiannya yang kusut, dan buru-buru kembali ke si kecil. Lumayan, katanya, satu pelanggan sudah cukup untuk beli susu esok. Ia memang berusaha, agar Irfan, tidak berada di dekatnya saat melayani pelanggan. Ya, nggak enak saja rasanya. Malah ada orang yang bilang, Irfan itu pembawa keberuntungan. Kemana ia pergi, Irfan selalu dibawa. Meski sering merepotkan, merengek, Irfan tetap dibawanya.
Biarlah ia melacur, yang penting, ia tetap bisa menjadi ibu yang terbaik buatnya. Bila Rika sedang pusing atau stress alias tidak mendapat pelanggan, justru sang anaklah pengobat hati. Begitu juga jika sedang ada masalah, atau sedang tak kuat menahan beban. Setiap memandangi dia, hati Rika selalu berucap: Kamu harus kuat! Kamu harus kuat, demi anakmu!
Ya, Irfan adalah cahaya buat Rika. Makanya, ia heran kalau ada ibu yang membunuh dan membuang bayinya. Dan, ia juga lebih heran, kalau ada ibu yang tidak peduli pada anaknya. Padahal, mereka bisa hidup mewah. Ah, dunia! Kadang-kadang memang terbalik. Yang pelacur sayang anak, yang tidak sayang anak malah melacur. (Bersambung/cerpen ini pernah dimuat koran REK AYO REK, 2 Februari 2005)

Categories: cerpen Tag:

penyair ‘gila’

November 18, 2008 3 komentar

sufi21Di sebuah daerah, ada seorang yang bernama Hamdun yang dianggap berkelakukan gila oleh sekitarnya. Entah dari mana asalnya, tak satupun dari penduduk daerah itu mengetahuinya. Tiba-tiba saja hadir disana. Kegilaannya biasa datang pada malam hari. Hamdun akan bersyair dalam kegilaannya.
Pada siang hari, terkadang ia berlari berkeliling pasar atau ikut bermain dengan anak-anak. Penduduk kampung sudah biasa melihat tingkah lakunya. Mereka tidak khawatir pada anak mereka karena Hamdun tidak pernah menyakiti orang lain, terlebih lagi ia sangat sayang pada anak kecil.
Ada saja orang yang kasihan dan membawakan makanan untuknya buat berbuka puasa. Setahu mereka, Hamdun tidak pernah terlihat berbuka siang hari. Tiada putus puasanya. Yang lebih mengherankan lagi, Hamdun tidak mau tidur di sembarang tempat. Ia lebih suka tidur di emperan masjid di daerah itu. Ia selalu tidur pada pagi hingga petang dan berjaga pada malam hari.
Suatu malam, kala kegilaannya datang Hamdun bersyair : “Wahai kekasih, padamu aku memuji, padamu aku berbakti, engkaulah yang aku cintai wahai kekasih, jangan kau tinggalkan aku, jangan kau benci aku, jangan kau cemburui aku karena cintaku hanya untukmu.” Setelah bersyair berulang-ulang memuji kekasihnya, iapun mengakhiri syairnya dengan menangis.
Suatu hari, singgahlah seorang musafir di masjid. Setelah sholat dhuhur ia keluar dan mendekati Hamdun yang sedang tidur. Ia mencoba membangunkannya. Tetapi Hamdun tetap saja nyenyak dalam tidurnya. “Wahai tuan yang sedang tidur, tidakkah engkau ingin melaksanakan sholat dhuhur. Janganlah engkau lewatkan waktu sholatmu dengan tidur panjangmu,” kata musafir itu sambil terus membangunkan Hamdun.
Hamdunpun akhirnya bangun dan menatap si musafir lalu berkata, “Apa pedulimu denganku. Aku sedang bermimpi bersama kekasihku. Tetapi engkau telah mengusik keasyikanku dengan sang kekasih,”
“Tidakkah engkau ingin melaksanakan sholat untuk menyembah tuhanmu?” tanyanya. “Tuhan? Tuhan yang mana? aku tidak menyembah tuhan. Tiada sedikitpun kusimpan kata tuhan dalam hatiku. Tiada tuhan….Tiada tuhan…..!” jawabnya.
“Masya Allah, mengapa kau berkata seperti itu?” tanyanya lagi pada Hamdun. “Aku hanya memuja sang kekasih dan tiada tempat untuk tuhan dihatiku,” tekannya dalam jawaban.
“Apakah agamamu, wahai tuan yang tidak bertuhan?” tidak percayanya sang musafir akan perkataan Hamdun.
“Aku? aku tidak beragama. aku hanya bercinta kasih. lalu apa agamamu?” baliknya bertanya.
“Tidakkah engkau lihat aku berada dalam masjid. Tentunya aku adalah seorang muslim,” jelas musafir masih dalam kebingungan.
“Bila engkau muslim. Aku ingin bertanya dimanakah tuhanmu berada, wahai orang yang banyak tanya?” pertanyaan Hamdun ini membuat si musafir tiada dapat berkata-kata. Ia diam bagai seorang bisu. Lalu ia pergi meninggalkan Hamdun.
“Bah, engkau mengganggu tidurku saja. menyuruhku sholat tetapi engkau sendiri tidak tahu dimana tuhanmu berada,” kata Hamdun sambil melanjutkan tidur siangnya.
“Wahai kekasih…wahai kekasih, tidak kuat aku menahan kerinduan ini tiada sabar aku untuk berjumpa denganmu, tiada kuasa aku untuk menggapaimu, wahai kekasih…wahai pujaan hati, kegilaanku akan dirimu semakin menjadi, wahai kekasih…wahai dambaan hati, aku sebut selalu namamu dan kupatri dalam hatiku”
Musafir yang tadi siang membangunkannya, rupanya sedang mengamati dari kejauhan segala apa yang telah diperbuat Hamdun. Tidak percaya pada Hamdun yang syair-syairnya berisikan kalimat-kalimat cinta yang indah. Tidak percaya bahwa Hamdun adalah seorang yang gila. Karena rasa penasaran pada apa yang telah Hamdun perbuat tadi siang padanya, iapun berjalan mendekati Hamdun. Dan memberi salam, “Assalamu’alaikum, wahai Hamdun…?”
Hamdun menoleh dan membalas salamnya, “Alaikumussalam…”.
“Sedang apakah engkau disini seorang diri?” tanya musafir.
“Aku sedang memuji kekasihku…,” jawabnya.
“Apakah keperluanmu malam begini berada disini?”
“Aku sedang memperhatikanmu dari kejauhan….,” jelasnya.
“Tidak adakah pekerjaan yang bermanfaat bagimu selain memperhatikanku dalam bersyair….,” tanya Hamdun lagi.
“Aku hanya berpikir tentang isi dari syair indah yang engkau dendangkan, wahai Hamdun,” jawabnya.
“Mengapa engkau tidak sholat menyembah tuhanmu?” tanya Hamdun sambil berdiri.
“Aku penasaran akan kata-katamu tadi siang yang membuat aku berpikir panjang dengan segala yang kau ucapkan. maukah engkau memberiku penjelasan dimana tuhan itu berada?” mohon musafir itu pada Hamdun.
“Selama ini engkau menyembahnya tetapi engkau sama sekali tidak tahu dimana ia berada. Sungguh sia-sia segala apa yang engkau kerjakan itu, wahai musafir…..,” jelasnya.
“Tuhan itu banyak. Dan jangan sekali-kali lagi engkau berkata menyembah tuhan. Karena engkau akan berada dalam kesesatan. Engkau pasti bertanya mengapa aku tidak bertuhan dan mengapa tidak beragama, bukan?” musafir itu menganggukkan kepala.
“Aku tidak menyembah tuhan tetapi aku menyembah sang kekasih, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Mengapa aku mengatakan tidak beragama karena Allah tidak lagi memberatkannya padaku. Karena aku telah menjadi kekasihNya. Apapun yang Dia pilihkan padaku, itulah yang terbaik buatku. Walau neraka yang diinginkanNya untukku, aku bersedia masuk kedalamnya dengan cinta kasihNya. Untuk apa aku memilih sorga bila tidak bisa menjadi kekasihNya dan tidak bisa berjumpa serta melihat keindahan wajahNya yang Maha Indah itu. Aku ikhlas menerima kegilaanku karena ingin selalu bercinta denganNya. Inilah kehendak yang Dia inginkan buat kebaikanku. Inilah kesucian cinta yang Dia inginkan dariku,” katanya menjelaskan pada musafir itu.
“Astaghfirullah … Maha Suci Engkau, Ya Allah, dari segala prasangka buruk hambamu……,” mohonnya pada Allah setelah mendengarkan penjelasan dari Hamdun.
“Tapi mengapa sewaktu aku menyuruhmu sholat tadi siang engkau menolak?” lanjutnya.
“Apakah setiap perbuatan selalu harus aku pamerkan kepada semua manusia? apakah engkau mengetahui kapan aku sholat tadi siang?” balik Hamdun bertanya.
“Tidak…..,” jawabnya.
“Sesungguhnya amal yang baik adalah bila tangan kanan bersedekah tidak diketahui oleh tangan kirinya. Janganlah engkau pamerkan segala amal yang engkau lakukan karena itu semua akan menjauhkanmu dari Allah. Engkau akan memakan puji-pujian orang lalu engkau akan menjadi riya’ karenanya. Bukankah tidak jauh dari daerah ini ada sebuah hutan? Aku pergi kesana untuk melaksanakan sholat dan meninggalkan tubuhku tetap terbaring dalam nyenyaknya tidur. Agar orang melihat apa yang aku perbuat. Dan tetap seperti itu pandangan mereka,” Hamdun menjelaskan.
“Lalu dengan apakah caranya engkau sholat bila tubuhmu engkau biarkan terbaring dalam nyenyaknya tidur di depan masjid ini?” rasa ingin tahu musafir itu semakin menjadi.
“Aku memakai tubuh kekasihku. Yang Maha Dhohir dan Maha Bathin,” jawab Hamdun dan lanjutnya lagi.
“Besok siang, setelah sholat dhuhur lihatlah tubuhku yang berbaring nyenyak di depan masjid. Jangan sekali-kali engkau ganggu tidurku. Lalu pergilah engkau ke hutan sana”
“Baiklah..aku akan menuruti perkataanmu,” musafir itu menyetujui permintaan Hamdun. Setelah memberi salam, iapun bergi meninggalkan Hamdun yang mulai bersyair lagi.
Keesokan harinya, setelah selesai sholat dhuhur, musafir itu memperhatikan Hamdun yang sedang nyenyak dalam tidurnya. dan iapun bergegas pergi menuju hutan yang dimaksud Hamdun semalam. Ia mencari-cari dimana Hamdun berada. Musafir itu sempat terkejut ketika mendapati Hamdun sedang melaksanakan sholat dhuhur di bawah teduhnya sebuah pohon tinggi. Ia menunggu hingga selesainya Hamdun melaksanakan sholat. Setelah salam dan berdo’a, Hamdun mendekati musafir yang sejak tadi dalam kebingungan.
“Wahai Hamdun, aku tidak mengerti apa yang sedang engkau lakukan. Aku dapati tubuhmu terbaring dalam tidur yang nyenyak di depan masjid. Dan aku disini mendapati pula engkau yang bertubuh melaksanakan sholat. Padahal engkau katakan semalam bahwa engkau pergi kesini dengan memakai tubuh kekasihmu,” jelasnya masih belum sadar dari kebingungannya.
“Wahai anak muda, apakah engkau ragu akan kekuasaan Allah?” tanya Hamdun. musafir itu menggelengkan kepada. “Allah berkuasa pada semua orang pilihanNya. Tiada mustahil segala apa yang Dia perbuat. Mata yang engkau punyai itu adalah mata kasar. Bila engkau mempunyai mata halus niscaya engkau tiada mendapati aku disana. Itu hanyalah bayanganku saja. Dan tubuh asliku yang sebenarnya ada disini, berada dihadapanmu. Mengapa pula aku katakan aku memakai tubuh kekasihku? Karena bila engkau melihat pada awal kejadian, bahwa sebenarnya tubuh ini hanya mendindingi kenyataan sebenarnya. Dinding itu akan hilang bila engkau telah menyerahkan segalanya pada Allah. Bila engkau tiada melihat dinding itu, maka engkau telah memakai pakaian sebenarnya yaitu pakaian ruh. Tetapi aku tidak bisa menjelaskannya padamu tentang segala sesuatu mengenai ruh. Karena ruh itu adalah urusan Allah. Mereka yang tidak mengerti akan menghalalkan darahku,” jelasnya.
“Aku sedikit paham apa-apa yang telah engkau jelaskan, wahai Hamdun,” kata musafir itu.
“Sekarang lihatlah apa yang ada dibalik jubahku ini,” kata Hamdun sambil memperlihatkan sesuatu di balik jubahnya. Cahaya terang memancar dari dadanya dan menyilaukan mata musafir itu. Karena terkejut dan takjubnya akan terangnya cahaya itu, iapun pingsan.
Tak berapa lama, ia sadar dari pingsan dan tidak mendapati lagi Hamdun disana. Iapun berlari untuk menemui Hamdun yang sedang terbaring nyenyak di depan masjid. Sesampainya disana, ia membuka selimut yang menutupi tubuh Hamdun. Betapa terkejutnya lagi ia karena dibalik selimut itu hanya didapati tumpukan-tumpukan batu.
“Masya Allah…Maha Suci Engkau, Ya Allah……,” panjatnya dalam keheranan. “Ya Allah, siapakah Hamdun ini sebenarnya? siapakah orang yang misterius ini? Siapakah seorang penyair gila ini?” do’anya dalam hati.
Iapun pergi dengan membawa bermacam kebingungan. Dan selalu memohon petunjuk pada Allah siapa sebenarnya orang gila yang ia temui itu. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, (QS 36:2) Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (QS 36:9). (Moyank)

Categories: cerpen Tag:, ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.