Arsip

Archive for the ‘sosok’ Category

Pramoedya Ananta Toer — Dihargai Dunia Dipenjara Negeri Sendiri

November 27, 2009 2 komentar

Ia bagaikan potret seorang nabi, yang dihargai oleh bangsa lain tetapi dibenci di negerinya sendiri. Pramoedya Ananta Toer, seorang pengarang yang pantas menjadi calon pemenang Nobel. Ia telah menghasilkan belasan buku baik kumpulan cerpen maupun novel. Kenyang dengan berbagai pengalaman berupa perampasan hak dan kebebasan. Ia banyak menghabiskan hidupnya di balik terali penjara, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, zaman pemerintahan Soekarno, maupun era pemerintahan Soeharto.

Di zaman revolusi kemerdekaan ia dipenjara di Bukit Duri Jakarta (1947-1949), dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno karena buku Hoakiau di Indonesia, yang menentang peraturan yang mendiskriminasi keturunan Tionghoa.

Setelah pecah G30S-PKI, Pramoedya yang anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat – onderbouw Partai Komunis Indonesia – ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru sampai tahun 1979. Siksaan dan kekerasan adalah bagian hari-harinya di tahanan dan terpaksa kehilangan sebagian pendengarannya, karena kepalanya dihajar popor bedil.

Setelah bebas pun, Pramoedya dijadikan tahanan rumah dan masih menjalani wajib lapor setiap minggu di instansi militer. Meskipun ia sudah ‘bebas’, hak-hak sipilnya terus dibrangus, dan buku-bukunya banyak yang dilarang beredar terutama di era Soeharto. Pemerintah telah mengambil tahun-tahun terbaik dalam hidupnya, pendengarannya, papernya, rumahnya dan tulisan-tulisannya.

Ia dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 oleh seorang ibu yang memberikan pengaruh kuat dalam pertumbuhannya sebagai individu. Pramoedya mengatakan bahwa semua yang tertulis dalam bukunya teinspirasi oleh ibunya. Karakter kuat seorang perempuan dalam karangan fiksinya didasarkan pada ibunya, “seorang pribadi yang tak ternilai, api yang menyala begitu terang tanpa meninggalkan abu sedikitpun”.

Ketika Pramoedya melihat kembali ke masa lalu, ia melihat “revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan – ibunya”. Meskipun karakter ibunya kuat, fisik ibunya menjadi lemah karena TBC dan meninggal pada umur 34 tahun, waktu itu Pramoedya masih berumur 17 tahun.

Setelah ibunya meninggal, Pramoedya dan adiknya meninggalkan rumah keluarga lalu menetap di Jakarta. Pramoedya masuk ke Radio Vakschool, di sini ia dilatih menjadi operator radio yang ia ikuti hingga selesai, namun ketika Jepang datang menduduki, ia tidak pernah menerima sertifikat kelulusannya. Pramoedya bersekolah hingga kelas 2 di Taman Dewasa, sambil bekerja di Kantor Berita Jepang Domei. Ia belajar mengetik lalu bekerja sebagai stenografer, lalu jurnalis.

Ketika tentara Indonesia berperang melawan koloni Belanda, tahun 1945 ia bergabung dengan para nasionalis, bekerja di sebuah radio dan membuat sebuah majalah berbahasa Indonesia sebelum ia akhirnya ditangkap dan ditahan oleh Belanda tahun 1947. Ia menulis novel pertamanya, Perburuan (1950), selama dua tahun di penjara Belanda (1947-1949).

Setelah Indonesia merdeka, tahun 1949, Pramoedya menghasilkan beberapa novel dan cerita singkat yang membangun reputasinya. Novel Keluarga Gerilya (1950) menceritakan sejarah tentang konsekuensi tragis dari menduanya simpati politik dalam keluarga Jawa selama revolusi melawan pemerintahan Belanda.

Cerita-cerita singkat yang dikumpulkan dalam Subuh (1950) dan Pertjikan Revolusi (1950) ditulis semasa revolusi, sementara Tjerita dari Blora (1952) menggambarkan kehidupan daerah Jawa ketika Belanda masih memerintah. Sketsa dalam Tjerita dari Djakarta (1957) menelaah ketegangan dan ketidakadilan yang Pramoedya rasakan dalam masyarakat Indonesia setelah merdeka. Dalam karya-karya awalnya ini, Pramoedya mengembangkan gaya prosa yang kaya akan bahasa Jawa sehari-hari dan gambar-gambar dari budaya Jawa Klasik.

Di awal tahun 50-an, ia bekerja sebagai editor di Departemen Literatur Modern Balai Pustaka. Di akhir tahun 1950, Pramoedya bersimpati kepada PKI, dan setelah tahun 1958 ia ditentang karena tulisan-tulisan dan kritik kulturalnya yang berpandangan kiri. Tahun 1962, ia dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat yang disponsori oleh PKI yang kemudian dicap sebagai organisasi “onderbow” atau “mantel” PKI.

Di Lekra ia menjadi anggota pleno lalu diangkat menjadi wakil ketua Lembaga Sastra, dan menjadi salah seorang pendiri Akademi Multatuli, semua disponsori oleh LEKRA. Pramoedya mengaku bangga mendapat kehormatan seperti itu, meskipun sekiranya Lekra memang benar merupakan organisasi mantel PKI.

Kemudian terjadi peristiwa rasial anti-Tionghoa semasa Indonesia telah merdeka, formal oleh negara, dalam bentuk PP 10 -1960. Buku Hoakiau di Indonesia yang diluncurkan sekarang ini, pertama diterbitkan oleh Bintang Press, 1960, merupakan reaksi atas PP 10 tersebut. Peraturan Pemerintah nomor 10 ini kemudian berbuntut panjang dengan terjadinya tindakan rasial di Jawa Barat pada 1963, yang dilakukan oleh militer Angkatan Darat. Karena buku ini pula ia dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno.

Setelah keluar dari penjara karena soal Hoakiau itu, Profesor Tjan Tjun Sin memintanya “mengajar” di Fakultas Sastra Universitas Res Publica milik Baperki, yang sekarang diubah namanya menjadi Universitas Trisaksi yang kini bukan lagi milik Baperki. Ajakan ini sempat membuatnya merasa tidak enak karena SMP saja ia tidak lulus dan belum punya pengalaman dalam mengajar. Meskipun begitu, Pramoedya mengaku menggunakan caranya sendiri. Setiap mahasiswa ia wajibkan mempelajari satu tahun koran, sejak awal abad ini. Setiap tahun ada sekitar 28 mahasiswa yang ia beri tugas itu, sehingga Perpustakaan Nasional menjadi penuh dengan mahasiswanya.

Dari para mahasiswa-mahasiswi yang sebagian terbesar WNI keturunan Tionghoa, ia menerima sejumlah informasi tentang perlakuan pihak militer terhadap keluarga mereka yang tinggal di Jawa Barat. Ternyata rasialisme formal ini ditempa oleh beberapa orang dari kalangan elit Orba untuk meranjau hubungan antara RI dengan RRC, yang jelas, sadar atau tidak, menjadi sempalan perang-dingin yang menguntungkan pihak Barat.

Di tahun 1965-an, Suharto memimpin setelah mengambil alih pemerintahan yang didukung oleh Amerika yang tidak suka Sukarno bersekutu dengan Cina. Mengikuti cara Amerika, Suharto mulai membersihkan komunis dan semua orang yang berafiliasi dengan komunis. Suharto memerintahkan hukuman massal, tekanan masal dan memulai Rezim Orde Baru yang dikuasai oleh militer. Akibatnya, ia ikut dipenjara setelah kudeta yang dilakukan komunis tahun 1965.

Meskipun Pramoedya tidak pernah menjadi anggota PKI, ia dipenjara selama 15 tahun karena beberapa alasan: pertama, karena dukungannya kepada Sukarno, kedua, karena kritikannya terhadap pemerintahan Soekarno, khususnya ketika tahun 1959 dikeluarkan dekrit yang menyatakan tidak diperbolehkannya pedagang Cina untuk melakukan bisnis di beberapa daerah. Ketiga, karena artikelnya yang dikumpulkan menjadi sebuah buku berjudul HoaKiau di Indonesia. Dalam buku ini, ia mengkritik cara tentara dalam menangani masalah yang berkaitan dengan etnis Tionghoa. Pemerintah membuat skenario ‘asimilasi budaya’ dengan menghapus budaya Cina. Sekolah-sekolah Cina ditutup, buku-buku Cina dibredel, dan perayaan tahun Baru Cina dilarang.

Pada masa awal di penjara, ia diijinkan untuk mengunjungi keluarga dan diberikan hak-hak tertentu sebagai tahanan. Di masa ini, ia dan teman penjaranya diberikan berbagai pekerjaan yang berat. Hasil tulisan-tulisannya diambil darinya, dimusnahkan atau hilang. Tanpa pena dan kertas, ia mengarang berbagai cerita kepada teman penjaranya di malam hari untuk mendorong semangat juang mereka.

Pada tahun 1972, saat di penjara, Pramoedya ”terpaksa” diperbolehkan oleh rezim Soeharto untuk tetap menulis di penjara. Setelah akhirnya memperoleh pena dan kertas, Pramoedya bisa menulis kembali apalagi ada tahanan lain yang menggantikan pekerjaannya. Selama dalam penjara (1965-1979) ia menulis 4 rangkaian novel sejarah yang kemudian semakin mengukuhkan reputasinya.

Dua di antaranya adalah Bumi Manusia (1980) dan Anak Semua Bangsa (1980), mendapat perhatian dan kritikan setelah diterbitkan, dan pemerintah membredelnya, dua volume lainnya dari tetralogi ini, Jejak Langkah dan Rumah Kaca terpaksa dipublikasikan di luar negeri.

Karya ini menggambarkan secara komprehensif tentang masyarakat Jawa ketika Belanda masih memerintah di awal abad 20. Sebagai perbandingan dengan karya awalnya, karya terakhirnya ini ditulis dengan gaya bahasa naratif yang sederhana. Sementara itu, enam buku lainnya disita oleh pemerintah dan hilang untuk selamanya.

Beberapa tahun setelah dibebaskan tahun 1969, Pramoedya dijadikan tahanan rumah dan harus melapor setiap minggu kepada militer. Kini belasan bukunya sudah diterjemahkan lebih dari 30 puluh bahasa termasuk Belanda, Jerman, Jepang, Rusia dan Inggris. Karena prestasinya inilah ia dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia (selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time dan telah memperoleh berrbagai penghargaan seperti PEN Freedom-to-Write Award, Wertheim Award dari Belanda, serta Ramon Magsaysay Award (dinilai dengan brilyan menonjolkan kebangkitan dan pengalaman moderen rakyat Indonesia).

Tahun 2002, bersama musisi Iwan Fals dan Pramoedia Ananta Toer juga dinobatkan majalah Time Asia sebagai “Asian Heroes”. (TokohIndonesia DotCom)

Categories: sosok Tag:, , ,

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA

November 21, 2008 Tinggalkan Komentar

walkuski-1990-caligula2

Caligula memerintah kerajaan Romawi hanya singkat, dari tahun 37-41 Masehi. Namun begitu, kaisar ini amat terkenal. Itu karena sang raja merupakan sosok yang bengis dan keji. Gampang membunuh dan suka melakukan petualangan seks. Jika ada pengantin baru perempuannya diperawani Sang Kaisar, sedang pengantin laki-lakinya disodomi dengan amat kasar. Yang lebih mencengangkan, adik perempuannya sendiri juga dijadikan budak nafsu. Di tahun 80-an kisah Caligula pernah diangkat dalam sebuah pagelaran di New York, dan terjadi kegemparan di negara demokrasi. Itu bisa dipahami, karena semua pemainnya telanjang bulat. Mereka melakukan adegan seks gila-gilaan. Dari oral seks, heteroseks, anal seks, sampai yang dikenal sebagai bestiality. Mencari kepuasan melalui penyiksaan alat vital.

Ada masa seks dipuja dan dijadikan simbol kekuatan. Dalam catatan sejarah, kisah seperti itu salah satunya terjadi di kerajaan Romawi kuno. Lingga dan yoni dijadikan sarana pemujaan. Dan dari penyatuan kemaluan laki-perempuan itu dipercaya mendatangkan kekuatan. Seks sebagai sumber energi.
Kerajaan Romawi kuno memang melakukan ritual penyembahan seperti itu. Akibatnya, raja yang dipercaya sebagai keturunan dewa, dikelilingi gadis-gadis muda yang cantik jelita. Mereka harus melayani kebutuhan seksnya yang tinggi. Dan para gadis itu wajib mendalami berbagai gaya bercinta untuk memuaskan Sang Raja.
Tak cuma itu. Istana sebagai pusat titah juga diberi simbol-simbol lingga (kemaluan laki-laki) dan yoni (kemaluan perempuan). Tujuannya agar memberi vibrasi kekuatan bagi penghuni istana, yaitu para raja dan keluarganya, serta para menteri yang menjalankan titah raja.
Untuk itu, segala sudut istana dikerumuni para dayang bugil yang siap memberi servis raja. Dan yang mengerikan, tiap ruang dipajang aktifitas seksual. Dari wanita yang melakukan masturbasi dengan kayu yang dibentuk lingga, dari laki-laki yang melakukan onani untuk diambil dan ditampung spermanya, sampai pembunuhan keji dengan menancapkan kayu di kemaluan wanita atau payudaranya, atau laki-laki yang dirusak penisnya.
Pemandangan yang membangkitkan birahi sekaligus kengerian itu kian menjadi-jadi, tatkala kerajaan ini diperintah Caligula. Kaisar ini penderita psikopat. Ia bengis dan kejam. Ia juga hiperseks yang ngawur.
Betapa tidak. Adiknya sendiri disetubuhi. Ia senggamai istri temannya. Ia perawani tiap gadis yang mau dikawinkan, dan ia gelar pesta seks saban pekan. Saat itulah kaum homoseks dan lesbian pestapora. Mereka melakukan persetubuhan massal bersama para heteroseks di kerajaan ini.
Puncaknya, ketika para petinggi kerajaan ini terus menggelar pesta, kerajaan pun mengalami devisit keuangan. Apa solusi raja untuk menutupi operasional kerajaan? Ini yang cukup mengejutkan; istri dan putri para menteri serta senat dilego.
Wanita-wanita itu dijual bebas. Hanya dengan lima keping emas, putri dan istri pejabat terhormat itu bebas diapakan saja. Digagahi secara heteroseks, disodomi, atau disuruh melakukan oral seks dan masturbasi.
Kebijakan yang gila-gilaan ini berakhir tragis. Harga diri para pejabat tinggi itu merasa diinjak-injak. Mereka akhirnya bersekongkol untuk membunuh Caligula. Dalam satu kesempatan, secara bengis para pejabat yang telah kehilangan harga diri itu membunuh Caligula, istri, serta anaknya yang masih kecil.

Kekasih Temannya Diperkosa
Kisah Caligula ini bermula saat ia masih menjadi pangeran. Ia hidup di kerajaan Romawi yang diperintah Tiberius, kakeknya. Sang Kakek sangat otoriter dan keji. Selalu curiga dengan siapa saja, termasuk dengan anak dan cucu-cucunya. Itu pula yang menjadikan ayah dan ibu Caligula mati terbunuh.
Caligula punya teman bernama Macro. Laki-laki itu berperawakan besar, ganteng dan punya loyalitas tinggi. Dialah yang selalu melindungi Caligula dari berbagai ancaman. Baik dari keluarga sendiri maupun dari luar istana.
Suatu hari Macro berkenalan dengan gadis cantik yang bernama Ennia. Ia merupakan dara yang menonjol karena wajah dan pergaulannya. Macro terpana asmara. Ia tertarik gadis ini, dan selalu mencari kesempatan agar bisa berdekatan.
Nampaknya, Macro tak bertepuk sebelah tangan. Ennia yang tubuhnya selalu dibalut kain tipis tanpa penutup buahdada itu menyambut cinta laki-laki yang menjadi pengawal istana tersebut. Mereka pun bercinta. Keduanya merasakan tubuhnya seperti melayang di awang-awang. Pun keduanya telanjang berangkulan di sudut benteng.
Saat itu bulan sedang bersinar penuh. Di sudut benteng istana, Ennia dan Macro sama-sama telanjang sehabis bersebadan. Mereka telentang, merentang tangan, dan membiarkan semilir angin membuainya ke alam impian.
Tapi di keremangan malam, sesosok bayangan berkelebat. Tubuhnya agak ramping. Bergerak dari satu pohon ke pohon yang lain. Di dekat dua manusia bugil yang tertidur pulas itu, sosok ini mendekat. Tangannya merayapi tubuh Ennia. Ia menciumi seperti bayi. Ennia membiarkan. Ia mengira yang melakukan rangsangan itu adalah kekasih tercintanya, Macro.
Birahi gadis ini kembali memuncak. Tatkala itu sudah terjadi, maka dengan sekali sentak laki-laki ini pun melakukan serangan mendadak. Akibatnya Ennia tak mengalami rasa nikmat, tetapi justru kesakitan. Ia menjerit keras. Darah mengucur dari kemaluannya, dan Macro yang tertidur disamping gadis ini terbangun.
Macro bangkit hendak memukul laki-laki yang memperkosa pacarnya. Tapi ketika ia tahu siapa laki-laki telanjang yang ada di atas tubuh Ennia, maka Macro pun melemah. Ia jongkok dan menyembah. Lirih ia berkata, “Silakan teruskan Pangeran.”
Macro kemudian membisiki kekasihnya itu, dan menyuruh Ennia untuk memberikan pelayanan yang baik. Macro membantu merangsang pacarnya. Ia juga membantu memegangi Ennia, dan membiarkan sosok pemerkosa itu untuk memuaskan hasrat seksnya pada gadis ini.
Tapi siapakah pemerkosa yang beruntung itu? Jangan kaget, dialah Caligula, Pangeran dari kerajaan Romawi.
Caligula terkapar lemas. Ia membiarkan tubuhnya telentang bugil. Di dekatnya, Macro duduk menjaganya. Sedang Ennia, mau tak mau gadis ini harus melayani nafsu seks dua orang itu. Dan untuk itu, ia harus bekerja ekstra keras lagi.
Bahkan saat tubuh Ennia menegang, gadis ini juga dipaksa untuk melakukan oral seks. Padahal, kalau Ennia sendiri belum berpengalaman. Namun mau dikata apa, dalam kondisi seperti itu, hasrat Ennia harus dipaksakan keluar. Dan ketika permainan sudah mencapai puncaknya, Ennia dipaksa untuk menelan sperma kedua laki-laki yang haus seks tersebut.
Setelah permainan usai, Caligula bangkit. Ia menciumi Ennia. Setelah itu ia rangkul Macro, seperti mengucapkan terima kasih atas pengertiannya. Dengan rasa hormat kekasih Ennia menundukkan kepalanya.

Angin Nakal Telanjangi Drussila
Setelah peristiwa itu, nasib Caligula mengambang. Bukan karena perkosaan yang dilakukannya terhadap Ennia, tapi semata karena tabiat raja Tiberius, kakek Caligula yang sinting. Kesintingan raja itu membawa korban. Ayah Caligula, Humanikus, mati terbunuh. Juga ibu dan beberapa saudaranya yang lain. Yang tersisa akhirnya tinggal Caligula dan adik perempuannya yang cantik, Drussila.
Sejak itu Caligula keluar istana. Ia meninggalkan Macro, teman akrabnya yang menjadi orang penting istana, Ennia, gadis yang habis diperkosanya, serta para gundik yang selama ini memberinya kepuasan seksual.
Caligula bersama Drussila, adiknya yang cantik, tinggal di sebuah puri yang jauh dari kerajaan Romawi. Puri itu amat indah dan tenang. Suasana pedesaan amat kental. Puri itu dikitari tanaman rimbun. Penuh pohon oak dan cemara gunung.
Di daerah yang indah dan sejuk itu Caligula dan Drussila mukim. Saban hari yang dilakukannya adalah bermain. Main kejar-kejaran, petak umpet, dan menirukan gerak burung. Tingkah laku mirip anak-anak itu sebagai cerminan, bahwa dua remaja yang beranjak dewasa ini sebenarnya sudah mengalami gangguan jiwa. Mereka menderita psikopat akibat hidup dalam lingkungan yang diliputi kebiadaban, kekejaman dan demoralisasi.
Suatu siang, Caligula dan Drussila main kejar-kejaran. Ketika capek, di padang rerumputan, keduanya berjalan berangkulan. Tiba di sebuah pohon besar, Drussila telentang membaringkan tubuh untuk melepas lelah. Ia diam memejamkan mata. Sedang Caligula duduk bersandar pada pohon.
Tubuh Drussila yang padat berisi hanya terbalut kain tipis warna putih. Tanpa bh dan celana dalam.
Di tengah kelengangan alam itu, nampaknya nafsu Caligula terbangkitkan. Tangannya mulai merayap ke dada Drussila. Gadis itu terdiam karena menganggap biasa.
Kebetulan angin nakal bertiup. Kain tipis penutup bagian bawah gadis ini tersingkap. Mata Caligula terkesiap.
Tangan Caligula mulai berpindah. Ia mengelus paha mulus sang adik. Ia memelorotkan tubuhnya, dan berbaring di sebelah gadis ini. Mulutnya menyusuri paha Drussila. Setelah itu ia berguling menempatkan badannya di antara dua kaki gadis ini.
Ciuman Caligula itu menyusuri betis indah Drussila. Pelan-pelan ia merentangkan kedua kaki gadis ini. Kepalanya merambat ke atas. Dan paha bagian dalam gadis ini menjadi sasaran mulutnya.
Birahi Drussila naik. Ia mengatupkan mulutnya. Gadis ini kelihatan tetap tenang, tetapi nafasnya mulai memburu. Sentuhan itu membangkitkan gejolak bawah sadarnya. Ia mulai terjalari birahi.
Caligula secara liar mulai menyerang membabibuta wilayah sensitive sang adik. Lagi-lagi Drussila merintih. Kepalanya digoyang ke kanan dan ke kiri. Tangan Caligula kian atraktif. Kini ia tak lagi segan untuk bereaksi. Dan reaksi itu yang kian membangkitkan birahi Caligula. Sebab ia ingat, bagaimana rintihan serupa terjadi pada gundik dan Ennia yang telah memberinya kenikmatan seksual.
Laki-laki ini dengan beringas memainkan tubuh Drussila. Drussila sendiri lupa diri. Ia merintih dan mengerang. Saat kemaluan Caligula mulai menyentuh kemaluan Drussila, gadis ini tiba-tiba membalikkan badan. Ia membiarkan Caligula terbanting ke samping. Setelah itu, dengan menelungkupkan tubuh, Drussila mengumpat-umpat Caligula. “Aku adikmu. Ini seks yang dilarang,” katanya terpekik. (Bersambung)

Categories: sosok Tag:, , , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.