Beranda > filsafat > Memasung Kebebasan Demi Sebuah Materi

Memasung Kebebasan Demi Sebuah Materi

Teman wanita saya, Kiki, kemarin, memberitahu kelulusannya mendaftar calon perwira TNI AD. Ia berhasil menyelesaikan tes terakhir. Setelah ini, ia melanjutkan pendidikan di Bandung. Betapa getolnya sampai-sampai Kiki rela mengorbankan segala-galanya. Bahkan, kebebasannya pun–barangkali–rela dikorbankan. Setidaknya itu yang saya tangkap dari sorotan matanya.
Tak terhitung berapa banyak waktu Kiki terbuang hanya untuk mempersiapkan mental dan fisik menghadapi tes. Ia rela mengesampingkan urusan pribadi demi meraih cita-cita. Masalahnya, apakah itu termasuk cita-cita (mulia) ataukah sekedar pengharapan untuk meraih kehidupan yang layak. Yang jelas dua-duanya: SALAH.

Di tengah negara yang sedang kalut karena diapit krisis global –apa-apa serba susah–wajar jika banyak orang-orang menginginkan kehidupan layak dikemudian hari. Salah satu pekerjaan yang dianggap mampu mewadahi aspirasi mereka adalah yang berkaitan dengan negara–PNS, Aparatur Negara (POLRI, TNI, JAKSA), BUMN. Tetapi masalahnya tidak semudah itu bagi seseorang mengabdi demi negara?

Coba tengok; berapa juta orang yang gagal–menurut penilaian saya–mengabdi demi negaranya. Kebanyakan dari mereka cuma memikirkan perutnya sendiri. Substansinya tidak jelas. Padahal, untuk mengabdi demi negara dibutuhkan; niat, tekad, semangat yang gigih, tanpa pamrih, siap mati, dan bukan asal-asalan–mengisi formulir pendaftaran, menyelesaikan administrasi, mengikuti tes dan lulus. Saya tidak tahu apakah Kiki memiliki semua kriteria yang saya sebutkan di atas.

Sempat terlintas dalam benak saya beberapa orang memilih mengabdikan diri demi negara, karena sekedar ingin merubah image, itu yang pertama. Yang kedua, mereka ingin mendapatkan pekerjaan yang ringan tanpa harus bersusah payah. Bahwa kerja demi negara selama ini diartikan (sebagian besar orang) banyak nganggurnya, senang berleha-leha, ongkang-ongkang semaunya. Ketiga, pensiun. Kesemua prinsip “Pengabdian” itu tidak dilandasi oleh keinginan yang jujur dari dalam diri. Ini sama saja dengan memasung kebebasan, yah, membelenggu diri demi sebuah materi. Berbeda kalau mereka melakukannya karena ajakan hati nurani. Bukankah yang dinamakan pekerjaan atau pengabdian atau apalah itu adalah ketika mereka benar-benar menikmati apa dikerjakannya, bukan karena embel-embel ini dan itu. Biarpun mereka bekerja di lingkungan berdisiplin tinggi, tapi jika mereka menikmatinya sudah barang tentu kebebasan-lah yang didapat. Justru betapa miris bila semua orang memasung kebebasannya demi cita-cita–yang acapkali menjerumuskan pikiran.

Memang, tiada seorang pun menginginkan hari tuanya susah; menderita. Sedikit banyak dalam benak mereka pasti tersimpan pikiran untuk membahagiakan keluarganya. Saya pun demikian. Dulu sempat terlintas dalam benak: ah, betapa enaknya bila suatu hari saya bisa menikmati uang pensiun. Saya bisa berleha-leha dan tinggal menunggu mati saja. Rupanya semua itu bualan belaka. Pensiun, menurut saya, adalah berhenti melakukan segala aktivitas–apakah itu bekerja atau berkarya–karena dianggap sudah tidak mampu lagi. Syaratnya: usia tua, cacat, meninggal, atau gila. Jadi, pensiun bukan diartikan berhenti bekerja lantas mendapatkan uang bulanan. Itu kan cuma pernak-perniknya saja.

Begitu juga mengabdi demi negara tidak lantas membuat orang tersebut bergabung dengan instansi pemerintahan, bila itu yang diartikan oleh Kiki. Saya sendiri sebenarnya sangsi apakah kelak Kiki bersedia–bila sudah menjadi perwira–dikirim ke medan laga. Mengingat ia anak semata wayang di keluarganya. Pasti keluarganya sedih melihat sang anak menantang maut. Mati di medan laga memang pahlawan, tapi mati tanpa membawa ideologi adalah sia-sia. Paling tidak yang terjadi; ia akan berusaha menyuap komandannya agar tidak ditugaskan jauh-jauh dari rumah, seperti paklik saya yang dinas di Koramil. Dulu, seusai mengikuti tes kenaikan pangkat, paklik saya sempat ditugaskan ke Madura, sebelumnya di Timor Timur. Itu pun dirasa berat. Nah, karena lokasi Madura dirasa terlalu jauh dari keluarga, ia kemudian menyogok pimpinannya agar kembali ditugaskan di dekat rumah saja. Dan, berhasil.

Inilah sebenarnya kekurangan yang tidak disadari banyak orang. Mereka tidak pernah melihat bahwa apa yang dimauinya kadang tidak sesuai harapan. Semestinya apapun yang diberikan negara buat kita, kita wajib menerimanya. Apalagi bila mereka murni mengabdi demi negaranya. Memang mengabdi demi negara bukan semudah membalikkan telapak tangan. Ada berpuluh-puluh ideologi yang perlu kita kembangkan dan diseriusi. Kadang satu saja belum berhasil, apalagi puluhan. Membayangkannya sudah membuat mata perih. Ah, betapa sulitnya seseorang memenuhi panggilan ibu pertiwi. Kita harus mati-matian mempertahankannya. Dan sebagai sipil yang berprofesi jurnalis tentu saya selalu dihadapkan pada pilihan yang mengacak-acak hati nurani. Tidak semua bisa saya lakukan. Satu hal yang menjadi acuan saya: always keep thinking positif. Kata orang, dengan begitu saya sudah berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Bukankah kata-kata ini yang sering kita dengarkan sewaktu di sekolah dasar. Pak guru sering menggembor-gemborkan dalam pelajaran PPKN mengenai hak dan kewajiban kita sebagai warga negara. Dan ini saatnya negara menuntut haknya, atau kita memiliki kewajiban memenuhi tugas sebagai warga negara yang baik. Bagaimana caranya? Memang sih tidak mudah untuk melakukannya. Perlu tantangan dan perjuangan. Bahkan kalau perlu nyawa taruhannya. Rasanya cocok filosofi yang dianut bangsa Amerika: Jangan tanyakan apa yang bisa dilakukan negaramu, tapi apa yang bisa kau lakukan untuk negaramu.

normal_misleading-identity1Kadang kala kita selalu bersikap pesimis dengan apa yang kita lakukan. Bahwa kata pengabdian sering kita persepsikan hanyalah milik orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan. Bullshit, itu pikiran salah, anggapan keliru. Saya sendiri yang menyalahkan. Untuk mengabdi kepada negara tidak semua orang harus menjadi PNS. Saya pun bisa mengabdi demi negara dengan menggeluti bidang yang saya kuasai. Seorang buruh pabrik bisa mengabdi demi negaranya dengan mengembangkan produksi-produksi pabriknya sebaik mungkin agar dapat dinikmati oleh orang banyak. Bahkan tukang becak sekalipun sanggup mengabdi untuk negaranya. Siapa bilang tukang becak hanya profesi rendahan. Tanpa mereka (orang kecil), toh Anda bukan siapa-siapa. Selama semua pekerjaan dan profesi digeluti dengan serius, maka sebenarnya kita sudah mengabdi demi negara.

Kategori:filsafat Tag:, ,
  1. November 19, 2008 pukul 8:00 am

    jangankan pekerjaan, di jaman ini, Tuhan saja kalah sama kepentingan materi

  2. novi471
    November 20, 2008 pukul 12:12 pm

    Yap betul, makanya sebagai manusia kita harus bisa pandai diri. Kata kyai saya: mikir-mikir sakwetoro ganjarane luweh gede ketimbang sholat 70 rakaat.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: