Beranda > cerpen > penyair ‘gila’

penyair ‘gila’

sufi21Di sebuah daerah, ada seorang yang bernama Hamdun yang dianggap berkelakukan gila oleh sekitarnya. Entah dari mana asalnya, tak satupun dari penduduk daerah itu mengetahuinya. Tiba-tiba saja hadir disana. Kegilaannya biasa datang pada malam hari. Hamdun akan bersyair dalam kegilaannya.
Pada siang hari, terkadang ia berlari berkeliling pasar atau ikut bermain dengan anak-anak. Penduduk kampung sudah biasa melihat tingkah lakunya. Mereka tidak khawatir pada anak mereka karena Hamdun tidak pernah menyakiti orang lain, terlebih lagi ia sangat sayang pada anak kecil.
Ada saja orang yang kasihan dan membawakan makanan untuknya buat berbuka puasa. Setahu mereka, Hamdun tidak pernah terlihat berbuka siang hari. Tiada putus puasanya. Yang lebih mengherankan lagi, Hamdun tidak mau tidur di sembarang tempat. Ia lebih suka tidur di emperan masjid di daerah itu. Ia selalu tidur pada pagi hingga petang dan berjaga pada malam hari.
Suatu malam, kala kegilaannya datang Hamdun bersyair : “Wahai kekasih, padamu aku memuji, padamu aku berbakti, engkaulah yang aku cintai wahai kekasih, jangan kau tinggalkan aku, jangan kau benci aku, jangan kau cemburui aku karena cintaku hanya untukmu.” Setelah bersyair berulang-ulang memuji kekasihnya, iapun mengakhiri syairnya dengan menangis.
Suatu hari, singgahlah seorang musafir di masjid. Setelah sholat dhuhur ia keluar dan mendekati Hamdun yang sedang tidur. Ia mencoba membangunkannya. Tetapi Hamdun tetap saja nyenyak dalam tidurnya. “Wahai tuan yang sedang tidur, tidakkah engkau ingin melaksanakan sholat dhuhur. Janganlah engkau lewatkan waktu sholatmu dengan tidur panjangmu,” kata musafir itu sambil terus membangunkan Hamdun.
Hamdunpun akhirnya bangun dan menatap si musafir lalu berkata, “Apa pedulimu denganku. Aku sedang bermimpi bersama kekasihku. Tetapi engkau telah mengusik keasyikanku dengan sang kekasih,”
“Tidakkah engkau ingin melaksanakan sholat untuk menyembah tuhanmu?” tanyanya. “Tuhan? Tuhan yang mana? aku tidak menyembah tuhan. Tiada sedikitpun kusimpan kata tuhan dalam hatiku. Tiada tuhan….Tiada tuhan…..!” jawabnya.
“Masya Allah, mengapa kau berkata seperti itu?” tanyanya lagi pada Hamdun. “Aku hanya memuja sang kekasih dan tiada tempat untuk tuhan dihatiku,” tekannya dalam jawaban.
“Apakah agamamu, wahai tuan yang tidak bertuhan?” tidak percayanya sang musafir akan perkataan Hamdun.
“Aku? aku tidak beragama. aku hanya bercinta kasih. lalu apa agamamu?” baliknya bertanya.
“Tidakkah engkau lihat aku berada dalam masjid. Tentunya aku adalah seorang muslim,” jelas musafir masih dalam kebingungan.
“Bila engkau muslim. Aku ingin bertanya dimanakah tuhanmu berada, wahai orang yang banyak tanya?” pertanyaan Hamdun ini membuat si musafir tiada dapat berkata-kata. Ia diam bagai seorang bisu. Lalu ia pergi meninggalkan Hamdun.
“Bah, engkau mengganggu tidurku saja. menyuruhku sholat tetapi engkau sendiri tidak tahu dimana tuhanmu berada,” kata Hamdun sambil melanjutkan tidur siangnya.
“Wahai kekasih…wahai kekasih, tidak kuat aku menahan kerinduan ini tiada sabar aku untuk berjumpa denganmu, tiada kuasa aku untuk menggapaimu, wahai kekasih…wahai pujaan hati, kegilaanku akan dirimu semakin menjadi, wahai kekasih…wahai dambaan hati, aku sebut selalu namamu dan kupatri dalam hatiku”
Musafir yang tadi siang membangunkannya, rupanya sedang mengamati dari kejauhan segala apa yang telah diperbuat Hamdun. Tidak percaya pada Hamdun yang syair-syairnya berisikan kalimat-kalimat cinta yang indah. Tidak percaya bahwa Hamdun adalah seorang yang gila. Karena rasa penasaran pada apa yang telah Hamdun perbuat tadi siang padanya, iapun berjalan mendekati Hamdun. Dan memberi salam, “Assalamu’alaikum, wahai Hamdun…?”
Hamdun menoleh dan membalas salamnya, “Alaikumussalam…”.
“Sedang apakah engkau disini seorang diri?” tanya musafir.
“Aku sedang memuji kekasihku…,” jawabnya.
“Apakah keperluanmu malam begini berada disini?”
“Aku sedang memperhatikanmu dari kejauhan….,” jelasnya.
“Tidak adakah pekerjaan yang bermanfaat bagimu selain memperhatikanku dalam bersyair….,” tanya Hamdun lagi.
“Aku hanya berpikir tentang isi dari syair indah yang engkau dendangkan, wahai Hamdun,” jawabnya.
“Mengapa engkau tidak sholat menyembah tuhanmu?” tanya Hamdun sambil berdiri.
“Aku penasaran akan kata-katamu tadi siang yang membuat aku berpikir panjang dengan segala yang kau ucapkan. maukah engkau memberiku penjelasan dimana tuhan itu berada?” mohon musafir itu pada Hamdun.
“Selama ini engkau menyembahnya tetapi engkau sama sekali tidak tahu dimana ia berada. Sungguh sia-sia segala apa yang engkau kerjakan itu, wahai musafir…..,” jelasnya.
“Tuhan itu banyak. Dan jangan sekali-kali lagi engkau berkata menyembah tuhan. Karena engkau akan berada dalam kesesatan. Engkau pasti bertanya mengapa aku tidak bertuhan dan mengapa tidak beragama, bukan?” musafir itu menganggukkan kepala.
“Aku tidak menyembah tuhan tetapi aku menyembah sang kekasih, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Mengapa aku mengatakan tidak beragama karena Allah tidak lagi memberatkannya padaku. Karena aku telah menjadi kekasihNya. Apapun yang Dia pilihkan padaku, itulah yang terbaik buatku. Walau neraka yang diinginkanNya untukku, aku bersedia masuk kedalamnya dengan cinta kasihNya. Untuk apa aku memilih sorga bila tidak bisa menjadi kekasihNya dan tidak bisa berjumpa serta melihat keindahan wajahNya yang Maha Indah itu. Aku ikhlas menerima kegilaanku karena ingin selalu bercinta denganNya. Inilah kehendak yang Dia inginkan buat kebaikanku. Inilah kesucian cinta yang Dia inginkan dariku,” katanya menjelaskan pada musafir itu.
“Astaghfirullah … Maha Suci Engkau, Ya Allah, dari segala prasangka buruk hambamu……,” mohonnya pada Allah setelah mendengarkan penjelasan dari Hamdun.
“Tapi mengapa sewaktu aku menyuruhmu sholat tadi siang engkau menolak?” lanjutnya.
“Apakah setiap perbuatan selalu harus aku pamerkan kepada semua manusia? apakah engkau mengetahui kapan aku sholat tadi siang?” balik Hamdun bertanya.
“Tidak…..,” jawabnya.
“Sesungguhnya amal yang baik adalah bila tangan kanan bersedekah tidak diketahui oleh tangan kirinya. Janganlah engkau pamerkan segala amal yang engkau lakukan karena itu semua akan menjauhkanmu dari Allah. Engkau akan memakan puji-pujian orang lalu engkau akan menjadi riya’ karenanya. Bukankah tidak jauh dari daerah ini ada sebuah hutan? Aku pergi kesana untuk melaksanakan sholat dan meninggalkan tubuhku tetap terbaring dalam nyenyaknya tidur. Agar orang melihat apa yang aku perbuat. Dan tetap seperti itu pandangan mereka,” Hamdun menjelaskan.
“Lalu dengan apakah caranya engkau sholat bila tubuhmu engkau biarkan terbaring dalam nyenyaknya tidur di depan masjid ini?” rasa ingin tahu musafir itu semakin menjadi.
“Aku memakai tubuh kekasihku. Yang Maha Dhohir dan Maha Bathin,” jawab Hamdun dan lanjutnya lagi.
“Besok siang, setelah sholat dhuhur lihatlah tubuhku yang berbaring nyenyak di depan masjid. Jangan sekali-kali engkau ganggu tidurku. Lalu pergilah engkau ke hutan sana”
“Baiklah..aku akan menuruti perkataanmu,” musafir itu menyetujui permintaan Hamdun. Setelah memberi salam, iapun bergi meninggalkan Hamdun yang mulai bersyair lagi.
Keesokan harinya, setelah selesai sholat dhuhur, musafir itu memperhatikan Hamdun yang sedang nyenyak dalam tidurnya. dan iapun bergegas pergi menuju hutan yang dimaksud Hamdun semalam. Ia mencari-cari dimana Hamdun berada. Musafir itu sempat terkejut ketika mendapati Hamdun sedang melaksanakan sholat dhuhur di bawah teduhnya sebuah pohon tinggi. Ia menunggu hingga selesainya Hamdun melaksanakan sholat. Setelah salam dan berdo’a, Hamdun mendekati musafir yang sejak tadi dalam kebingungan.
“Wahai Hamdun, aku tidak mengerti apa yang sedang engkau lakukan. Aku dapati tubuhmu terbaring dalam tidur yang nyenyak di depan masjid. Dan aku disini mendapati pula engkau yang bertubuh melaksanakan sholat. Padahal engkau katakan semalam bahwa engkau pergi kesini dengan memakai tubuh kekasihmu,” jelasnya masih belum sadar dari kebingungannya.
“Wahai anak muda, apakah engkau ragu akan kekuasaan Allah?” tanya Hamdun. musafir itu menggelengkan kepada. “Allah berkuasa pada semua orang pilihanNya. Tiada mustahil segala apa yang Dia perbuat. Mata yang engkau punyai itu adalah mata kasar. Bila engkau mempunyai mata halus niscaya engkau tiada mendapati aku disana. Itu hanyalah bayanganku saja. Dan tubuh asliku yang sebenarnya ada disini, berada dihadapanmu. Mengapa pula aku katakan aku memakai tubuh kekasihku? Karena bila engkau melihat pada awal kejadian, bahwa sebenarnya tubuh ini hanya mendindingi kenyataan sebenarnya. Dinding itu akan hilang bila engkau telah menyerahkan segalanya pada Allah. Bila engkau tiada melihat dinding itu, maka engkau telah memakai pakaian sebenarnya yaitu pakaian ruh. Tetapi aku tidak bisa menjelaskannya padamu tentang segala sesuatu mengenai ruh. Karena ruh itu adalah urusan Allah. Mereka yang tidak mengerti akan menghalalkan darahku,” jelasnya.
“Aku sedikit paham apa-apa yang telah engkau jelaskan, wahai Hamdun,” kata musafir itu.
“Sekarang lihatlah apa yang ada dibalik jubahku ini,” kata Hamdun sambil memperlihatkan sesuatu di balik jubahnya. Cahaya terang memancar dari dadanya dan menyilaukan mata musafir itu. Karena terkejut dan takjubnya akan terangnya cahaya itu, iapun pingsan.
Tak berapa lama, ia sadar dari pingsan dan tidak mendapati lagi Hamdun disana. Iapun berlari untuk menemui Hamdun yang sedang terbaring nyenyak di depan masjid. Sesampainya disana, ia membuka selimut yang menutupi tubuh Hamdun. Betapa terkejutnya lagi ia karena dibalik selimut itu hanya didapati tumpukan-tumpukan batu.
“Masya Allah…Maha Suci Engkau, Ya Allah……,” panjatnya dalam keheranan. “Ya Allah, siapakah Hamdun ini sebenarnya? siapakah orang yang misterius ini? Siapakah seorang penyair gila ini?” do’anya dalam hati.
Iapun pergi dengan membawa bermacam kebingungan. Dan selalu memohon petunjuk pada Allah siapa sebenarnya orang gila yang ia temui itu. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, (QS 36:2) Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (QS 36:9). (Moyank)

Kategori:cerpen Tag:, ,
  1. November 27, 2008 pukul 3:31 pm

    Wahh… ceritanya bagusss.

  2. Februari 9, 2010 pukul 3:04 pm

    Bolehkah dipajang nama Moyank pada tulisan “Hamdun, Si Penyair Gila ini?”
    Terima kasih atas dipostingnya salah satu karyaku itu.

  3. novi471
    Maret 22, 2010 pukul 3:32 pm

    sori bro pas aku dpt naskah ini ga ada namanya. jadi terima kasih da diingetin. salam.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: