Beranda > artikel > PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 7)

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 7)

Penis Dipotong, Vagina Dibasahi Darah

h1074Malang nian prajurit istana ini. Hanya gara-gara dekat-dekat raja yang sedang emosi, ia terkena getahnya. Bukan jabatan yang dicopot, tetapi nyawanya yang dipisahkan dari raganya. Ia dieksekusi mati. Kematiannya dilakukan secara perlahan-lahan.
Caligula memang raja yang pemberang. Protes Drussila yang tak setuju kakak iparnya yang sedang hamil besar disuruh menari bugil menelan jiwa. Seorang prajurit yang dekat dengan peristiwa itu langsung dieksekusi.
Prajurit itu digelandang keluar. Di ruang pembantaian, laki-laki itu ditelanjangi. Caligula mencabut pedang dari prajurit yang lain. Dengan sadis ia menorehkan pedang itu ke tubuh prajurit tak berdosa itu. Ia menusukkan pedang itu berulangkali. Dan setelah itu memberi instruksi pada prajurit yang lain agar membunuhnya secara pelan-pelan.
Prajurit yang lain, karena takut, melakukan perintah itu. Ia tusuk perutnya, dan ia penggal kepalanya. Prajurit yang malang itu pun menemui ajalnya. Ia tewas bermandi darah.
Melihat prajurit yang dibencinya itu cepat mati, Caligula marah-marah. Ia menyebut kematian itu terlalu cepat. Untuk melampiaskan kemarahannya itu, raja ini pun menyuruh agar penis laki-laki malang itu dipotong dan diberikan untuk makanan anjing. Dan, tak ada yang berani untuk tidak melakukan instruksi itu.
Saat anjing besar memakan penis prajurit itu, Caligula bersuka cita. Ia merasakan kejengkelannya terobati. Ia pun berteriak kegirangan, dan memanggil Caesonia, permaisurinya.
Ketika wanita hamil besar ini datang, Caligula menyuruh wanita itu membasuh liang peranakannya dengan darah segar prajurit itu. Raja ini menyebut, itu sebagai bagian dari pengalihan kekuatan Sang Prajurit ke bayi yang bakal dilahirkan.
Caesonia pun patuh. Ia kembali menanggalkan pakaian kebesarannya. Ia telanjang bulat. Nampak payudaranya kencang dan padat berisi. Perutnya membuncit. Pusarnya menonjol keluar. Dan bulu kemaluan wanita ini tumbuh lebat menutupi sebagian wilayah yang tersembunyi.
Tanpa ragu wanita itu jongkok mekangkang di atas tubuh prajurit yang mati bermandi darah itu. Ia menempatkan kemaluannya di bekas penis prajurit yang sudah dipotong itu. Darah yang menggenang di daerah itu ia duduki. Ia putar pantatnya, agar darah prajurit itu bisa membasahi sampai ke dalam lobang peranakannya.
Tak puas hanya itu, melalui tangannya, Caesonia meraup darah itu, dan memasukkan ke dalam kemaluannya. Nampak wilayah sensitif permaisuri ini basah kuyup. Darah yang sudah menggumpal itu memenuhi paha, kemaluan, sampai perutnya yang sudah menggunung. (bersambung/JOSS)

NB: Bagi yang belum dewasa dilarang membaca naskah ini.

  1. Januari 4, 2009 pukul 4:24 am

    itu kisah nyata atau fiksi? kok sadis sekali ya manusia-manusia jaman dahulu

    • novi471
      Januari 6, 2009 pukul 1:35 pm

      itu kisah nyata mbak, memang itulah yang terjadi jika kekuasaan sudah meracuni manusia. sampai-sampai saya sendiri ga tega baca tulisan sendiri. Kata orang sih, memang di jaman caligula itu jaman paling atau sangat rusak-rusaknya manusia. Ya itu sih kata orangnya. Tapi pada kenyataannya memang itu yang terjadi.

  2. budiono amrullah
    April 9, 2009 pukul 8:44 am

    walah-walah,…….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: