Beranda > artikel > HAI SUARA, AKU SANGAT MENCINTAI DIA…

HAI SUARA, AKU SANGAT MENCINTAI DIA…

Cintaku padanya da sangat besar sebesar gunung Mahameru.

Saking besarnya sampai-sampai aku dibuatnya gusar, bingung, sumpek, stress, gila.

Suara: Siapa? Ana?

Aku: Eh, bukan.

Suara: Lalu siapa? Ani?

Aku: Bukan juga.

Suara: Di pesbuk itu banyak, ada Lia Kanzha, apa dia?

Aku: Nganu…emm…bukan dia…

Suara: Trus diapa dong?

Aku: Ada deh!

Suara: Ih, curang deh kamu, masa kamu boleh dengerin suaraku, tapi aku tidak boleh tahu pacarmu…

Aku: coba tebak aja?

Suara: Apa neni widayani?

Aku: Ah, enggak. Dia cuma teman kuliahku.

Suara: Aha, aku tahu tuh, pasti cinta mahar ya.

Aku: Bukan juga. Ah, masa kamu suara tidak bisa menebak sih. Apa kekuatanmu yang selalu disokong oleh angin, bumi, air dan api itu sudah hilang. Kacian deh lu…

Suara: Jangan begitu, aku tetap suara sebagaimana mestinya suara. Aku bisa mengetahui apa-apa yang orang tidak ketahui, yakni melalui tingkah laku mereka.

Aku: Tapi kamu kan tidak bisa menebak hati manusia. Sebab hati manusia itu sehalus sutra dan seluas samudera. Jangankan kamu, para malaikat yang duduk di langit saja tidak bisa tahu bagaimana hati manusia.

Suara: Tapi hati manusia bisa congkak juga, ya…kayak kamu itu!

Aku: Ah, itu perasaanmu saja. Aku biasa-biasa saja kok!!

Suara: Trus siapa dong kekasihmu itu. Apa dia anak orang kaya?

Aku: Ga tuh. Biasa-biasa saja tapi dia hebat sekali.

Suara: Apa dia Novi Kusuma?

Aku: Bukan!!!

Suara: Oh, aku tahu apa dia bernama Astrid Reva Angelica yang mantanmu dulu.

Aku: Salah besar.

Suara: Yah, di bukumu ada juga tulisan soal Kiftiya. Apa dia?

Aku: Wrong! Wrong! Wrong!

Suara: Trus siapa dong pacarmu yang sekarang. Oia aku baru tahu kemarin kamu ke Jogja kan. Trus ketemu cewek. Namanya sangat indah, menggambarkan betapa megahnya alam. Namanya Tunjung Pratiwi kan? Tunjung artinya bunga dan pratiwi berarti bumi pertiwi atau tanah air.

Aku: Emm…apa ya…malu aku ngomongnya. Tapi artinya memang bener itu. Dia bener-bener sosok yang luar biasa.

Suara: Iya kan bener dia. Aku sih no problem kamu sama dia!

Aku: Bukan.

Suara: Hah, bukan juga. Trus siapa dong?

Aku: Kamu mau tahu kekasihku yang telah membuatku jadi seperti ini, yang senantiasa membuatku bingung tujuh keliling, yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak, yang membuatku seperti terkontaminasi oleh polah tingkahnya dia, yang membuatku tergila-gila sampai nyaris aku dibuat stress, yang membuat seluruh panca inderaku mati rasa, yang membuat tubuhku bergetar hebat manakala dia kusebut namanya, yang membuatku…ah, pokoknya gundah gulana deh!

Suara: Iya, siapa….

Aku: Aku akan beritahu ke kamu, tapi jujur ya kamu tidak akan bilang ke siapa-siapa.

Suara: Iya aku janji akan menutup suaraku.

Aku: Alah, yang namanya suara tidak bisa ditepati kata-katanya. Kau selalu ada dimana manusia ada. Kadang kau buruk, kadang kau baik hanya sesuai yang kamu ingini.

Suara: Trus maumu aku apa, diam selama-lamanya. Itu namanya kiamat bung…yang namanya kehidupan itu adalah pertumbuhan atau perkembangan. Suara akan selalu ada dimana ada manusia.

Aku: Ya sudah terserah kamu. Sini kubisikkan, dia…oleh orang-orang…dipanggil…

Allah. Tapi aku lebih menyukai dia sebagai kekasihku.

Wallahua’lam bissawaf

Kategori:artikel Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: