Beranda > novel > Menjadi Satria Bisma

Menjadi Satria Bisma

Malamnya kami, aku dan Pak Sudi duduk di ruang tamu. Dengan ditemani kopi racikan sendiri, kami saling bertukar pikiran. Baru kutahu kalau Pak Sudi seorang kejawen. Setiap kata-kata yang mengalir dari bibirnya mengandung makna filosofi yang dalam. Kukira ia dulunya seorang dalang, tapi setelah kutanya ternyata kakeknya yang seorang dalang. Dia sendiri mengaku hanya petani biasa. Pantas dari cara bicara dan bertutur, Pak Sudi seakan paham betul mengenai liku-liku kehidupan manusia. Banyak hal yang kutangkap dari pembicaraan malam itu bersama beliau.
Menurut Pak Sudi, Jawa kita ini dulunya hanya satu titik kecil di tengah-tengah samudra. Setiap bangsa waktu itu mempunyai kebesarannya. Mereka tak lagi membutuhkan raja-raja bermodel memerintah, tapi raja yang mengayomi. Pernahkah kau lihat ada petani dalam cerita wayang?
Kujawab dengan mengangkat pundak, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Setahuku petani dalam cerita wayang tidak pernah ada. Yang ada hanya raja-raja, para satria, dan para pandita. Makin dekat pekerjaan seseorang pada tanah, makin tak ada kemuliaan pada dirinya, makin tidak terpikirkan dia oleh siapa pun. Itulah petani.
“Kamu tahu dengan cerita mengenai Satria Bisma?” Tanya Pak Sudi.
Aku menggeleng.
“Satri Bisma itu tewas di medan perang. Diceritakan dia hidup kembali dan hidup kembali setiap kali mayatnya menyentuh bumi atau tanah? Dia hidup lagi, berperang lagi, mati lagi, dan juga hidup lagi serta merta menyentuh tanah lagi. Dia abadi. Abadi selama bersinggungan dengan bumi. Bumi adalah petani, petani, dan petani.”
“Apa hubungannya raja dan petani?” Tanyaku penasaran.
“Kamu lihat petani adalah seorang kacung yang bisa diperintah dan dipermainkan. Tapi sebenarnya dia seorang yang berjiwa besar. Tanpa petani bangsa ini tidak akan merdeka. Petani adalah sejati-jatinya raja,” Pak Sudi berhenti, dia menatapku dengan sungguh-sungguh dan kemudian meneruskan, “jangan kau jadi burung cucakrowo yang bersahut dan tidak bersambut dalam sangkar. Jangan jadi dalang tiada cerita. Tanpa anak wayang pun dalang masih bisa, tapi tanpa cerita…anak wayang pun dia sendiri tidak. Seorang petani, wong cilik, rakyat jelata, memang mereka bukan dalang, tapi setidaknya mereka memiliki anak wayang yang bisa untuk diceritakan. Seorang raja tanpa anak wayang bukanlah siapa-siapa. Aku, kamu, bisa saja menjadi dalang sesuai dengan apa yang kau bisa. Tapi ingatlah, jika kau melakukannya tanpa cerita, tanpa anak wayang kau pun bukan apa-apa. Meski kau bukan dalang, kau pun dapat melakukan pekerjaanmu dengan sungguh-sungguh asal tidak mencelakai orang lain. Kamu bisa menjadi Satria Bisma selama hatimu kau tujukan kepada rakyat dan umat.” Penjelasan Pak Sudi benar-benar membuka pikiranku. (Dikutip dari novel Tuhan di Bawah Kedua Telapak Kakiku)

Kategori:novel Tag:, , , , ,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: