Beranda > cerpen > NAK, IBU SEDANG MELACUR! (bag. 2)

NAK, IBU SEDANG MELACUR! (bag. 2)

Oleh: Noviyanto Aji

Dua puluh enam tahun silam, Rika saat itu masih perawan. Kecantikannya melebihi gadis-gadis seusianya. Dia bunga desa di kampungnya. Duduk di bangku SMP kelas dua Sumberpucung, Malang. Tanpa sepengetahuannya, orang tua Rika menjodohkan dirinya dengan lelaki pilihan. Masalahnya sederhana: ekonomi.
Calon suami Rika masih muda. Tapi dibanding dirinya, usianya jauh lebih tua. Kerjanya PNS. Hidup mapan. Gaji tak pernah telat. Punya motor sendiri, dan sedang nyicil rumah.
Dan tiba-tiba tak ada angin tak ada hujan, Tuan PNS melamar Rika. Katanya, Tuan PNS mengenal Rika dari foto. Saat ada tetangga yang menikah, si tetangga ini memberi foto Rika ke dia.
Lamaran Tuan PNS diterima–oleh orang tua Rika, bukan oleh Rika.
Orang tua cuma berpikir, daripada anaknya tidak sekolah, lebih baik dinikahkan saja. Dan Rika memang sempat berontak. Ia bilang ia tidak mencintainya.
“Nak, Ibu sudah tidak bisa merawatmu,” kata ibu.
“Lalu, haruskah aku menikah! Aku bisa kerja kok.” Rika melawan, berontak, hatinya panas sepanas tungku api.
“Bukan itu maksud Ibu.” Ibu Rika terus-terusan mendesak.
Muka Rika muram. Pun ibunya. Melihat ibunya tak mau kalah berdebat, Rika pun pasrah. Sang ibulah pemenangnya. Rika harus menikah dengan lelaki yang katanya akan menyelamatkan keluarganya dari jurang kemiskinan.
Tak lama, mereka pun sah menjadi suami-istri, meski Rika belum hafal wajahnya. Resepsi meriah. Semua biaya ditanggung Tuan PNS. Acara dibuka dengan tayuban. Penarinya teman Rika sesama sanggar. Di desa, Rika memang dikenal jago menari. Pantas jika penampilan serta gaya Rika membuatnya menjadi gadis pujaan pria.
Semua orang tertawa senang. Malam itu, cuma Rika yang bersedih; tak tahu apa yang akan dilakukan lelaki asing itu. Malam pertama tiba. Ini adalah malam yang mengerikan. Apa yang terjadi malam itu, tak akan bisa hilang dalam ingatan. Malam itu, Tuan PNS berusaha menciumi Rika.
“Rasanya?” Rika bercerita, “kau mau tahu?”
Jijik!
Phhhhhuiiiiih…. Cuh!
Baru kali ini ia dicium lelaki. Dan, malam itu Tuan PNS melakukannya dengan cara mengerikan. Mulai dari pipi, bibir, dan seluruh tubuh, digerayanginya. Dirinya seperti, makanan.
Tuan PNS sangat kasar. Malam itu, dia melakukan kewajibannya sebagai suami dengan cara paling kasar.
“Dia seperti memperkosa aku. Aku melawan. Kau tahu apa yang dia lakukan?”
Plok!
Dia menamparnya. Bayangkan? Rika ini istrinya. Tapi, kenapa dia harus menampar hanya karena Rika tidak siap untuk melayaninya. Bukan cuma itu. Malam itu, Rika benar-benar disiksa.
“Karena aku terus melawan, aku ditendang. Aku lupa apa yang terjadi selanjutnya. Aku pingsan. Aku baru bangun pagi hari. Tubuhku begitu sakit. Ada darah. Ya, itu darah perawan. Tuan PNS merenggut keperawananku saat aku pingsan.”
Rika diperkosa suami sendiri!
Apa yang bakal terjadi selanjutnya, jika Tuan PNS terus menjadi suaminya. Rika keki. Tak ada pilihan lain selain berontak. Hari pertama menjadi istri PNS, cuma satu yang dilakukannya: Minggat!
Itulah malam pertama dengan suami pertama, sekaligus malam terakhir. Setelah itu Rika pergi dan tak kembali. Kejadian ini tak pernah diceritakannya pada orang lain. Termasuk ibunya. Ia takut keluarganya juga akan jadi korban. Tuan PNS seorang maniak.

***
Rika minggat ke Lamongan. Ke rumah suadara. Setiap malam, ia tak bisa tidur dengan tenang. Bayang-bayang Tuan PNS selalu menghantui. Ibrahim, saudaranya kaget, karena Rika adalah pengantin baru. Tak seharusnya pengantin baru pergi tanpa didampingi suami.
“Apa yang terjadi?” Om-nya bertanya dengan harap-harap cemas.
“Nggak ada apa-apa,” Rika berbohong.
Rika mengaku kalau suaminya sedang tugas ke luar kota. Karenanya, ia mau berlibur ke Lamongan. Rika tak memberitahu, sampai kapan ia di sana.
Tak terasa, lima bulan lebih Rika minggat dari rumah. Om dan tante mulai curiga. Mereka mulai bertanya-tanya. Sampai akhirnya, mereka menghubungi orangtua Rika di Malang.
Dua hari kemudian wanita yang memaksa Rika menikah, datang. Kepada saudara di Lamongan, si ibu bercerita bahwa anaknya telah kabur dari rumah. Om dan tante tidak marah. Dia berusaha tenang dan mendesak Rika cerita.
“Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Akhirnya, kuceritakan peristiwa malam pertama itu. Ibu menangis. Saudaraku menahan amarah. Kejadian ini kemudian dilaporkan ibu ke atasan suamiku. Kabar terakhir, suamiku dipecat.”
Setahun setelah menikah, mereka bercerai. Jadi, malam pertama itu adalah malam terakhir Rika berhubungan badan dengan suaminya.
Tak ada kata perpisahan. Tak ada ciuman. Tak ada pesta. Tak ada tetes air mata. Hanya berkas-berkas surat yang mesti ditandatanganinya. Isinya: cerai.
Rika bebas. Tuan PNS tak bisa apa-apa lagi. Tak bisa menyentuh, memaksa, menyiksa, maupun memperkosa.
Setelah perceraian, Rika memutuskan menetap di Lamongan. Keadaan di Malang tak seperti dulu lagi. Semua berubah. Ibunya sibuk mengurusi adik-adik, tak ada waktu mengurus dirinya. Ibu tak pernah menyinggung-nyinggung masalah cowok. Jangankan menawari menikah, bertanya apakah Rika punya pacar atau belum, atau, apakah sudah punya calon suami saja, sang ibu tidak berani.
Perasaan bersalah sang ibu lebih berat ketimbang kejadian yang dialami anaknya. Ibu Rika sudah tak peduli lagi. Sementara Rika, sudah jadi janda di usia yang sangat muda. Kendati demikian ia tak pernah dendam pada ibunya.
Hidup di Lamongan lama-lama dirasakan membosankan. Kerjanya cuma makan, tidur, main. Rika ingin bekerja. Tapi, ia bimbang sebab tak punya pengalaman. Hanya satu yang bisa dilakukannya: Menari.
Sewaktu SD hingga SMP, Rika jago menari. Namanya tari Gambyong. Tari ini berasal dari Jawa Tengah. Biasa digunakan untuk acara-acara ritual. Saat itu di Lamongan ada sanggar tari. Mereka menerima order keliling. Rika pun bergabung dengan mereka.
Setiap ada acara-acara manten, Rika dan timnya selalu diundang. Awalnya sebagai penari pengganti. Namun, lambat laun, ia menjadi penari utama. Hasilnya lumayan. Dua tahun menjadi penari Gambyong, selama itu ia telah menemui banyak orang dengan karakter berbeda-beda. Tak sedikit dari mereka yang jahil; mencubit dada, pantat, hingga mencium. Malah, ada yang mengajak tidur. Rika menanggapinya dengan dingin. Justru dari menari, Rika akhirnya bertemu Andreas.
Pertemuan itu terjadi di pesta pernikahan. Saat itu ia mendapat undangan menari. Selesai menari, seorang pemuda mendatanginya. Tampan. Macho. Gaya bicaranya lembut. Rambut cepak menyerupai tentara terkena disersi. Bodi kekar. Seandainya dia bertelanjang dada, wanita mana yang tidak duyu kuyu. Kulitnya kuning langsat. Sepintas wajahnya mirip Tora Sudiro. Yang membuat Rika tak kuat adalah rayuan. Bak disambar petir di siang bolong, rayuan Andreas membuat hatinya luluh. Pemuda itu memberi secarik kertas. Isinya: Aku terhipnotis oleh tarianmu. Bolehkah aku tahu siapa namamu?
Mereka berkenalan. Usia Andreas lebih tua 3 tahun. Dia mengaku bekerja sebagai pegawai bank swasta di Lamongan. Tak banyak yang mereka bicarakan malam itu, selain saling mengenal nama. Pesta usai. Mereka berpisah. Tapi sebelumnya mereka sempat bertukar alamat.
“Aku kira, pertemuan itu adalah pertama dan terakhir. Aku kira Andreas tak pernah serius denganku. Aku kira, malam itu Andreas sekedar menyempatkan waktu untuk ngobrol denganku sambil menunggu pesta usai. Setelah itu, semua akan menjadi kenangan.”
Tak pernah terlintas dalam pikiran Rika, ada cowok yang mau sama penari. Kecuali kepepet. Tak ada yang bisa diharapkan dari penari. Terlebih, penari yang sudah menjanda.
Tapi, pemuda itu datang ke rumah. Tak disangka akan begini cepat. Padahal, baru semalam mereka berkenalan. Dia benar-benar serius. Selain tampan, ternyata pemuda itu juga baik dan sopan. Dia mengajak Rika berkencan.
“Tanjung Kodok!” Katanya.
“Ah, aku tersanjung.”
Gayung pun bersambut.
Mereka pergi ke pesisir utara. Tempatnya indah tapi panas. Banyak batu karang besar menyerupai kodok. Tapi pemandangannya sangat menyenangkan. Udara di sana bersih. Hamparan laut yang menerjang batu karang membikin hati tercabik-cabik.
Meski jaraknya sangat jauh, Rika senang saja. Sebab di sisinya ada Andreas. Mereka naik motor. Di situlah, cinta bersemi. Di situ, Andreas mengungkapkan perasaannya. Laki-laki itu ceplas-ceplos. Hari itu, Andreas menyatakan cinta. Hari itu, cintanya diterima. Sampai dua bulan kemudian, mereka memutuskan untuk menikah.
Sebenarnya, Rika tak ada rencana untuk menikah. Jujur, ia masih trauma. Setiap mengenang malam-malam pertama bersama Tuan PNS, perasaan itu selalu menghantui. Apakah Andreas benar-benar suami yang baik? Apakah dia seorang maniak? Apakah dia benar-benar mencintai Rika setulus hati? Apakah dia akan menyiksanya?
Rika cuma pasrah. Hanya Tuhan yang tahu apakah pernikahannya berjalan lancar atau tidak. Memang sempat ia hendak membatalkannya. Pada akhirnya Si Om turun tangan. Dia menasehati banyak hal.
Si Om bilang:
“Nduk, masa lalu bukan sesuatu yang harus ditangisi atau dijauhi. Masa lalu adalah sesuatu yang harus kamu jalani. Kamu akan menjadi manusia tangguh jika berani menghadapi hidup yang pahit.”
Rika menangis mendengarnya. Saat itu dirinya sadar. Bahwa, apa yang terjadi di dunia ini, adalah kehendak Tuhan. Kita tidak bisa menolak. Dia yang punya hak menghidupkan. Dia juga yang punya hak mematikan. Dia punya hak membuat kita menderita. Dia juga punya hak membuat kita senang. Ini hanya masalah waktu. Apa yang akan terjadi esok, biarlah terjadi. Toh, kita tak tahu apa rencana Tuhan.
Pernikahan jalan terus.
Seperti pernikahan pertama, pernikahan kedua berlangsung khidmat. Ada modin, ada om, ibu, ayah dan saudara-saudara.
Memasuki malam pertama, semua kekhawatiran itu tak jadi kenyataan. Sang suami memperlakukan Rika dengan lembut dan halus. Dia tak menyiksa, tak menampar, tak memukul, tak mencekik. Bagai seorang dewi, malam itu Rika benar-benar merasa hidup. Dan malam itu, Rika menjadi istri paling bahagia di dunia. (Bersambung/cerpen ini pernah dimuat koran REK AYO REK, 2 Februari 2005)

Kategori:cerpen Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: