Beranda > cerpen > NAK, IBU SEDANG MELACUR!

NAK, IBU SEDANG MELACUR!

Oleh. Noviyanto Aji

Kereta Argo Bromo dari Jakarta baru tiba. Itu kereta api terakhir hari ini. Dia cuma berhenti sebentar untuk menurunkan penumpang. Setelah itu, dia akan ngandang di stasiun besar sana: Stasiun Semut. Bobok. Besok berangkat lagi. Tujuan masih sama. Surabaya-Jakarta.
Suasana menjadi senyap. Angin malam berhembus semilir. Suara bisik-bisik orang di bantalan rel membuncah. Sekumpulan orang mulai memadati rel. Duduk di atasnya. Berbisik antar lawan jenis tanpa takut diserudug kereta. Yang pria matanya jelalatan, yang wanita menunggu mangsa mendekat. Lalu, suasana berganti. Ada lagu Bang Toyib. Berirama remix. Rumah-rumah kotak, warung-warung remang di pinggir stasiun mulai menghidupkan lampu minyak. Inilah saat bagi perempuan-perempuan keluar. Dandanannya memikat. Menebar pesona birahi. Siapa yang melihat, akan didekati. Lalu, ditawari. Malam ini, siapa akan meniduri siapa. Boleh saja. Asal, bayar sesuai tarif.
Jauh di keremangan malam, tepat di pinggiran rel yang panjang dan kekar, seorang perempuan duduk di rumah kotak-kotak berukuran sempit–hasil arsitektur amatiran, terbuat dari triplek dengan atap seng dan beralaskan tikar. Setiap lelaki yang lewat disapanya. Di dekapannya, bocah kecil sedang menyusu.
Perempuan ini nampak bugar. Tubuhnya singset walau usianya tak lagi muda. Guratan di matanya menandakan kalau ia sudah pantas memiliki cucu. Rambutnya mengembang bak kipas, tidak keriting juga tidak lurus, model dandanan tempo doeloe. Kulit kuning langsat. Kuku-kuku di jari jemarinya tergoreskan kutek warna merah, pun kuku di kakinya. Ia hanya mengenakan sandal murahan agar terlihat keren saja. Sementara si kecil tampak terkantuk-kantuk di pelukannya. Sesekali terbangun bila mendengar ibunya menyapa lelaki. Ia bilang menunggu tamu.
Kalau tamu datang, si kecil ya ditaruh. Kalau udah bobok lebih enak. Asal nggak berisik mainnya, kata si perempuan.
Perempuan ini, berdiri berjajar di depan rumah-rumah kotak. Ia seperti perempuan lain yang ada di situ. Malam itu, ia menjajakan diri. Yang membedakan hanya satu: ia harus menunggu si kecil bobok, kalau ada tamu yang akan menyewa tubuhnya.
Irfan nama anak laki-lakinya. Usianya belum genap setahun. Tapi, dia sudah cukup merepotkan. Kerjanya nangis. Kalau tidak karena lapar, ya kedinginan.
Setiap malam perempuan itu harus meninabobokan dia sampai tidur. Kadang, saat larut dia baru bisa tidur. Mungkin karena bising. Karenanya, Irfan sering masuk angin. Irfan, paling suka tembang-tembang yang keluar dari mulut ibunya. Ya, bukan lagu yang enak. Sekedar gumaman sang ibu cukup membuatnya merasa nyaman.
Dengan penuh kasih dia gendong buah hatinya. Wajahnya ditutupi selendang; menjaga agar tidak kena angin malam. Nah, saat seperti itu dia biasanya menangis. Kalau tidak kedinginan, ya kelaparan. Tapi, ia kan tetap harus keluar. Kalau tidak, darimana perempuan itu dapat uang buat makan. Ia harus melakukan itu. Ini sebuah pilihan. Entah, pilihan siapa. Diakah? Kondisikah? Waktukah? Takdirkah?
“Rik!”
Pelayan warung memanggil, Rika–perempuan ini berusia kira-kira 40an–menyambut dengan tolehan leher 90 derajat. Seorang lelaki duduk di bangku kosong dengan sebuah rokok dalam jejalannya. Rambut jarang di atas tempurung kepalanya. Kedua alisnya yang tebal bersatu dan kumisnya yang tak terawat dan telah tercukur di atas bibirnya yang menempel di sana sehingga ia tak bakal kehilangan kumis itu. Rika mengamati lelaki yang sedang duduk di sampingnya dari kepala sampai kaki. Pakaiannya kusut. Tak tampak berkelas. Celana sobek bagian lutut, seolah-olah ingin menyerupai dandanan rocker. Kakinya hanya beralas sandal jepit. Ujung tumitnya pecah-pecah. Jari-jari kaki membengkak. Pun jari tangan sebesar bohlam lampu. Kuli, Rika berpikir. Montir, pikirnya lagi. Tukang becak, tukang tambal ban, mungkin juga. Asal bawa uang, Rika bersedia mendekat. Kalau tidak, uh, jauh-jauh-lah kamu.
“Dia mencarimu!” Pelayan itu tanpa sungkan.
“Kenal, Bu?” Sambut Rika dengan senyum beku di bibir.
Pelayan menggeleng. Ia menyibukkan diri dengan dagangannya seolah-olah cuek dengan keadaan sekeliling Stasiun Wonokromo.
Rika mendekat, tak lupa si kecil dibawanya. Ia kini harus membagi perhatiannya. Antara mengawasi anak, dan…melayani lelaki. Tidak gampang. Terutama kalau anaknya belum tidur.
Tentu saja, saat Rika pertama kali melakukan hal itu ia bingung setengah mati. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana. Tapi ia kan harus melacur, kalo tidak, anaknya akan makan apa.
Lama-lama ia bisa juga mengatasi. Yang penting, sebelum melayani tamu, Irfan dininabobokan. Dinyanyikan lagu kesukaannya. Setelah itu, dititipkan ke pelayan warung. Barulah Rika menemui laki-laki yang menunggunya.
Cuma, masalahnya. Kadang ada lelaki yang nggak sabar menunggu. Jadi, dia memilih wanita lain karena capek menunggunya menidurkan sang anak.
Ada juga lelaki yang bersabar sesabar sang ibu. Setelah anaknya tidur, mereka pun masuk rumah kotak-kotak. Di situ mereka gulung kuming. Main mainan orang dewasa.
Tapi, ya, begitulah. Kadang, kalau anaknya tidak ada yang menunggu, ya terpaksa, Irfan diletakkannya begitu saja di atas bangku di depan pintu masuk rumah kotak. Lalu, Rika main di bawah, saat itu si anak bertugas menjadi penjaganya.
Kalau tidak begitu ia tidak mendapat uang. Kalau tidak melayani lelaki, besok anaknya makan apa? Ia juga makan apa?
Setelah Irfan tertidur, Semua teman-teman Rika berebut menjaganya. Karena lucu, imut, dan menggemaskan. Sesekali pelayan warung turut menyamankan si kecil dengan selimut hangat. Sementara rumah kotak buatan nampak mulai bergoyang-goyang di sisinya. Terdengar riuh erangan, namun lama-lama hilang ditelan kesunyian. Rika sudah di dalam, tentu saja bersama lelaki tadi. Cuma perlu sekian menit baginya menyudahi permainan. Setelah usai, Rika membenahi pakaiannya yang kusut, dan buru-buru kembali ke si kecil. Lumayan, katanya, satu pelanggan sudah cukup untuk beli susu esok. Ia memang berusaha, agar Irfan, tidak berada di dekatnya saat melayani pelanggan. Ya, nggak enak saja rasanya. Malah ada orang yang bilang, Irfan itu pembawa keberuntungan. Kemana ia pergi, Irfan selalu dibawa. Meski sering merepotkan, merengek, Irfan tetap dibawanya.
Biarlah ia melacur, yang penting, ia tetap bisa menjadi ibu yang terbaik buatnya. Bila Rika sedang pusing atau stress alias tidak mendapat pelanggan, justru sang anaklah pengobat hati. Begitu juga jika sedang ada masalah, atau sedang tak kuat menahan beban. Setiap memandangi dia, hati Rika selalu berucap: Kamu harus kuat! Kamu harus kuat, demi anakmu!
Ya, Irfan adalah cahaya buat Rika. Makanya, ia heran kalau ada ibu yang membunuh dan membuang bayinya. Dan, ia juga lebih heran, kalau ada ibu yang tidak peduli pada anaknya. Padahal, mereka bisa hidup mewah. Ah, dunia! Kadang-kadang memang terbalik. Yang pelacur sayang anak, yang tidak sayang anak malah melacur. (Bersambung/cerpen ini pernah dimuat koran REK AYO REK, 2 Februari 2005)

Kategori:cerpen Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: