Beranda > artikel > Dialog Islam & Yahudi

Dialog Islam & Yahudi

Buku ini mengisahkan dialog Ahmad Deedat dengan Dr. E. Lottem, seorang negarawan Israel. Isi dari dialog ini termuat pada bab III, dengan judul bab “ Beberapa Orang Yahudi Yang Baik “..
Sedangkan sub judulnya antara lain : Bagaimana dengan orang-orang Arab, terindoktrinasi, hubungan saya dengan Yahudi, orang-orang Yahudi di Masjid, memperkenalkan Al Qur’an, lelucon terbesar di Israel, menguji tuntutan yang aneh (fantastis), menguji (test) kebenaran, masih dengan Yahudi yang baik, anak cucu Ibrahim, apakah mungkin benar, menangis bersama Mr. Rodinson, Deedat dipromosikan, Ismail anak haram. Itulah sub judul yang ada dalam bab III buku ini.

Dalam buku ini, Deedat menulis, ketika perdebatan akan dimulai, Ahmad Deedat disuruhnya memilih tema perdebatan. Pihak penyelenggara yaitu Universitas Natal, Durban yang diwakili Professor Mason. Professor itu bertanya kepada saya, bagaimana cara terbaik untuk mengemukakan topic. Saya mengusulkan “ Baik dan Buruk Israel”. Mason, tidak memberikan jawaban langsung kepada Deedat, tetapi akan mendiskusikan terlebih dahulu kepada Dr. E Lottem. Setelah dua hari menunggu, Mason memberikan jawaban kepada Deedat bahwa topik perdebatan diganti menjadi “ Konflik atau Damai”.

Dari judul itu saja, menurut penulis sudah mengandung unsur menjebak kepada lawan bicara, jelasnya. “ Konflik atau Damai?”, mana yang anda pilih? Bagaimanapun akan lebih baik apabila tidak memilih keduanya. Bila kita memilih Konflik, dalam perdebatan tersebut, kita akan menyulut api permusuhan dengan hampir setiap audien. Sedangkan bila memilih “Damai”, orang-orang Yahudi itu akan berkata : “mengapa anda melempari kami dengan batu”?

Itulah Yahudi, mau menang sendiri. Sebenarnya dalam perdebatan dengan mengambil slogan “Perang atau Damai” merupakan tipuan 2000 tahun lalu. Tipuan semacam itu pernah dilakukan Ummat Yahudi kepada Nabi Isa as.

Dikisahkan : Suatu saat datang kepada Isa as beberapa tokoh Yahudi. Mereka menanyakan tentang boleh tidaknya mereka membayar pajak kepada Pemerintah Romawi. “ Guru, kami tahu, engkau adalah seorang yang jujur dan dengan kejujuran mengajak ke jalan Allah. Dan engkau tidak takut kepada siappun juga, sebab engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami tentang pendapatmu; apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Tetapi Nabi Isa as mengetahui kejahatan di hati mereka lalu berkata: “ Mengapa kamu mengerjai aku hai orang munafik? Tunjukkanlah kepadaku mata uang untuk pajak itu”. Mereka membawa satu Dinar kepadanya. Maka Isa bertanya kepada mereka: “ Gambar dan tulisan siapakah ini? Mereka menjawab: “ gambar dan tulisan Kaisar”. Lalu kata Yesus kepada mereka: berikanlah apa yang wajib kau berikan kepada Kaisar. Dan berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Matius, 22: 16-21).

Dari kisah itu, menunjukkan bahwa kaum Yahudi hendak memperdayai Isa as dengan pertanyaan menjebak, seperti pertanyaan yang dilakukan kepada Ahmad Deedat dalam dialog antara dirinya dengan Dr. E Lottem. Yesus ternyata tidak kalah Yahudinya dari pada mereka yang menanyainya. Akal bulus Yahudi dibalas dengan akal yang tulus oleh Isa as.

Dalam pertanyaan itu, bila Isa as menjawab “ Bayarlah Pajak (upeti), maka pemimpin-pemimpin Yahudi itu akan mengatakan kepada khalayak bahwa Yesus bukan juru selamat yang membebaskan orang-orang Yahudi dari perbudakan Romawi. Sebaliknya, mereka akan menganggapnya dan menyebarluaskannya Yesus sebagai kaki tangan penindas Romawi. Tetapi bila mengatakan “ Jangan Membayar Upeti”, tentu mereka tidak akan membayar upeti, dengan alasan Yesus Sang Juru Selamat melarang mereka membayar upeti kepada Raja. Dengan demikian Yesus akan berurusan dengan para penguasa. Bila hal itu terjadi, artinya Yesus mesti kalah. Itulah watak bangsa Yahudi.

Dalam masa kenabian Isa as, perlakuan semacam itu sudah sering dilakukan oleh Yahudi. Diantaranya adalah: “Maka ahli Taurat dan orang Farisi membawa kepadanya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu ditengah-tengah dan berkata kepada Yesus. “Rabi, perempuan ini tertangkap basah sedang berbuat zina, Musa dalam hokum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapatmu tentang hal itu?
Mereka melakukan hal itu untuk mencobai, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk bisa menyalahkannya. Tetapi Yesus, membungkuk, lalu menulis dengan jarinya ditanah. Dan ketika mereka terus menerus bertanya kepadanya, iapun bangkit berdiri lalu berkatakepada mereka,”Barang siapa diantara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melempar batu kepada perempuan itu.” (Johanes, 8 :3-7).

Bila saja ketika itu Yesus mengatakan kepada mereka “Biarkanlah wanita ini pergi”, tentu mereka akan mengumumkan kepada bangsanya bahwa orang ini bukan utusan Tuhan, “Dia bukan Juru Selamat yang kita tunggu-tunggu”. Sebab dalam Zabur (20:10) tertulis “Bahwa pezina pria maupun wanita harus dihukum mati”.

Sebaliknya bila Yesus mengatakan bahwa hukuman mati itu ditetapkan berdasarkan ajaran Taurat dari Musa as, maka sudah dapat dipastikan mereka akan merajam wanita itu sampai mati, walau itu bertentangan dengan hokum setempat, karena perzinahan tidaklah dipandang sebagai kejahatan pokok dalam Kerajaan Romawi. Utusan Tuhan itu, mengenal baik masyarakat Yahudi sebagai suatu bangsa yang jahat dan maksiat.

Kalau dulu, nenek moyang Yahudi melakukan kepada para utusan Allah, kini anak cucunya melakukan kepada saya, Kata Ahmad Dedat. Dialog yang temanya mereka pilih sendiri dengan judul “ Konflik atau Damai ”, merupakan sebuah pengulangan sejarah watak Yahudi sepanjang jaman. Karakter bangsa Yahudi, tidak mau diatur bahkan oleh Allah Sang Pencipta sekalipun. Mau menang sendiri, mau enak sendiri, menganggap bangsanya sebagai manusia pilihan, sedangkan bangsa lain dianggap sebagai hewan yang boleh diperlakukan semaunya.

Watak jahat, merampok, membunuh, memperkosa, menipu, tidak bisa dipercaya, pembohong, rentenir, mentuhankan diri sendiri, adu domba, memalsu kitab dan sejarah, senang melihat orang lain menderita, tidak memiliki rasa kemanusiaan dan keadilan, bangsa terkutuk, senang menciptakan huru-hara baik lewat politik, ekonomi, pendidikan, maupun budaya dan lainnya.

Pendeknya, semua sifat kejelekan ada pada setiap individu maupun kelompok Yahudi. Dalam buku Ahmad Dedat yang berjudul “ Dialog Islam & Yahudi ” ini, banyak diungkapkan rahasia tentang keyahudian. Walau demikian, masih ada sebagian kecil orang Yahudi yang baik. Tetapi, mereka juga tak berdaya dihadapan para Hakom, pendeta Yahudi yang menguasai ummat. Mereka mengaku sebagai manusia suci, ahli Taurat. Namun sejatinya, mereka adalah para pengabdi Syetan yang terkutuk. Mereka mengaku dan lebih senang menerima Talmut sebagai kitab sucinya yang mereka terima dari Iblis Laknatullah, melalui hakom-hakom.

Banyak orang Yahudi menjadi pimpinan agama-agama yang ada di dunia. Tetapi keahliannya sebagai tokoh agama-agama, hanya dijadikan sebagai jalan untuk merusak ummatnya. Hal ini sebenarnya amat jelas terlihat, namun kita telah tertipu oleh penampilan mereka. Atau kita memang rela menjadi hewan, budak dan permainan bangsa terkutuk itu.***

Kategori:artikel Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: