Beranda > artikel > Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag I)

Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag I)

Rikno, anak TK yang lugu, keras, pantang menyerah, dan memiliki rasa keingintahuan sangat tinggi. Suatu hari Rikno mendatangi neneknya dan bertanya sesuatu hal yang selama ini telah membelenggu otaknya.
“Nenek, boleh ngga Rikno tanya sesuatu?”
“Mau tanya apa toh, Cu!” Seru sang nenek penasaran.
“Anu nek, itu loh, Rikno mo nanya sebenarnya mem*k itu apa?”
“Apa???” Si nenek kaget bukan alang kepalang. Ia naik pitam, “dasar anak guoblok. Anak cecunguk. Dungu. Tidak tahu aturan. Siapa yang mengajari kamu berbicara tidak sopan begitu, hah, ayo jawab?”
Rikno diam saja.
Si nenek semakin tidak bisa menahan emosinya. Berkali-kali Rikno mendapat cubitan dan makian. Tetapi Rikno tetap diam, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan neneknya. Sampailah kesabaran si nenek memuncak.
“Riri…Riri…kemari kamu nak. Ini anakmu telah berbuat kurang ajar pada orang tua.” Si nenek memanggil anaknya, yang juga ibu Rikno.
Riri yang berada di dapur merasa telinganya kepanasan, dia buru-buru menghampiri ibunya yang berada di ruang tengah.
“Ya ampun bu, ada apa toh kok teriak-teriak, malu tuh didengar tetangga.”
“Biar saja, ini lho anakmu sudah kurang aja sama orang tua.”
“Ada apa toh tole?” Tanya Riri mendekati Rikno yang sedang bersedih.
“Ndak kok bu…”
“Ayo jangan bohong kamu, tadi kamu bilang apa sama nenek.” Si nenek mendesak Rikno sambil mencubit-cubit pahanya.
Dengan terbata-bata Rikno menjawab lirih:
“Rikno…Rikno…cuma pengin tahu….ah, ga jadi ah, nanti ibu juga marah!”
“Sudahlah kamu bilang saja sama ibu, ibu ga akan marah kok!”
“Rikno cuma ingin tahu mem*k itu apa?”
“Hah,” plok, seketika itu tamparan Riri melesat di pipi anaknya, “dasar anak tidak tahu diri. Nih rasakan lagi,” plok! plok!
Seketika itu Rikno menangis sejadi-jadinya.
“Hua….hua…hua…”
Murka sang ibu rupanya melebihi murka sang nenek.
“Biar saja, ayo nangis yang keras, biar sekalian ditambah pukulan oleh ayahmu.”
Tak lama sang ayah yang merasa terusik tidurnya terbangun dan menunjukkan raut muka merah padam.
“Ada apa ini. Apa kalian tidak tahu kalau ada orang tidur?”
“Ini yah, anakmu sudah mulai kurang ajar. Kecil-kecil sudah mikir pornografi. Siapa yang mengajarimu, hah, ayo jawab.” Jawab Riri geram.
Rikno yang mendengar kata “pornografi” semakin tidak paham. Kemana arah orang tuanya berbicara. Masa cuma bertanya arti kata mem**k saja tidak boleh, batin Rikno berkata.
“Apa yang telah dilakukan anak kita, bu?” Tanya ayahnya.
“Itu yah, dia sudah berani bertanya soal mem*k. Pasti yang ngajarin ayah ya?” Tuding Riri.
“Ah, kamu bu bisa-bisa aja, apa benar yang dikatakan ibumu itu Rik?”
Rikno tidak berani menjawab. Sebab setiap pertanyaan yang keluar selalu membuat orang naik pitam. Lebih baik aku diam, gumamnya dalam hati.
“Ayo jawab dong, apa benar yang dikatakan ibumu itu!” Sang ayah terus mendesak.
Rikno malah menggeleng.
“Jangan bohong ya, atau ayah bisa marah nih. Katakan saja, ayah tidak akan marah kok.”
“Itu yang nenek dan ibu katakan sebelumnya. Tidak akan marah, tapi buktinya…”
“Jadi kamu sudah tidak percaya dengan ayahmu lagi ya.”
“Percaya kok yah.”
“Kalau begitu bilang ke ayah apa masalahmu?”
“Rikno tadi cuma tanya mem*k itu apa?”
“Hmm…jadi itu yang kamu tanyakan.” Untuk sesaat sang ayah berpikir. Menurut sang ayah memang tidak salah seorang anak bertanya sesuatu yang belum diketahui, apalagi yang bersangkutan dengan yang namanya mem*k. Ini adalah tugas orang tua untuk menunjukkan kapasitasnya kepada orang tua. Tetapi untuk yang demikian ini, memang berat. Bagaimana cara untuk menunjukkan mem*k pada Rikno, sang ayah berpikir dengan keras.
“Kamu tahu Rik, darimana kamu keluar?”
Rikno menggeleng.
“Ya, dari mem*k itu.” Jawab ayahnya.
Rikno tetap menggelang bahkan posisi tubuhnya diatur untuk mendengarkan wejangan sang ayah.
“Bagaimana kamu sudah paham?” Tanya ayahnya yang sudah tidak sabar ingin melanjutkan tidur siangnya.
“Belum yah. Masih bingung. Emang mem*k itu tempatnya dimana?” Rikno balik bertanya.
“Hmmm…gitu ya. Kamu yakin pengin tahu mem*k?”
Rikno mengangguk.
“Ya udah sana kamu ganti baju dulu, trus ikut ayah. Akan ayah tunjukkan dimana mem*k itu.”
Betapa senang hati Rikno karena ternyata ayahnya seorang pengertian. Sebentar lagi rasa penasarannya segera terobati sebab ayah akan menunjukkan kepada Rikno apa itu mem*k. (bersambung coy/novi)

NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.

Kategori:artikel Tag:, , ,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: