Beranda > artikel > Bencana Bah Jaman Nuh

Bencana Bah Jaman Nuh

Ketika mendengar bencana melanda negeri, saya ingat bencana di jaman Nuh. Bencana yang didera berupa banjir bah. Luar biasa. Nuh hampir tak mampu mengatasi musibah ini. Air begitu cepat melanda daratan, hingga akhirnya merambah ke semua pegunungan. Dalam mengatasi musibah tersebut, Nuh membuat kapal yang sangat besar, dengan harapan semua yang ditemuinya bisa diselamatkan dan dilestarikan.
Dalam perjalanan dengan perahu, Nuh menuju arah daratan yang bisa disinggahi. Namun semua daratan bahkan gunung yang dituju selalu tenggelam terlebih dahulu oleh bah. Ada yang perlu dicontoh dalam melestarikan kehidupan di dunia, yaitu selama perjalanan Nuh selalu menaikkan semua binatang ke atas perahunya, meski kadang hanya satu jodoh. Dengan harapan meski satu jodoh, nanti akan tetap lestari dan bisa berkembang biak jika bah telah lewat.
Dalam beberapa hari, hingga akhirnya beberapa bulan dan tahun bencana banjir bah tak kunjung henti, hingga Nuh tampak gelisah, karena perahu semakin sarat dengan muatan hingga nyaris tenggelam. Selidik punya selidik, ternyata ada bebarapa binatang yang beranak, hingga akhirnya menambah beban perahunya. Nuh dibuat bingung juga, akhirnya semua binatang yang jantan dikebiri. Semua alat kelamin binatang dikumpul jadi satu, disimpan jadi satu, dengan harapan nanti kalau bah sudah usai akan dikembalikan.
Rupanya upaya itu berhasil, hingga perahu tetap melakukan perjalanan di atas air mencari titik daratan yang tak kunjung ketemu. Namun akhirnya air sudah mulai surut dan banjirpun mengering, hingga semua tampak gembira setelah sekian lama terapung di atas air. Beberapa binatang pun riang gembira menyambut datangnya daratan yang bakal kembali berkembang biak seperti biasa. Beberapa binatang dengan pasangannya langsung cari tempat dan ada mencoba bercengkerama, namun ada yang ganjil pada dirinya. Karena alat kelaminnya tidak ada.
“Ah, ini harus ditanya ke Nuh”, teriak anjing tiba-tiba.
“Ka… ka.. ka….!” ejek kuda, namun kuda juga bertanya juga, di mana kelaminnya.
Datang berbondong-bondong menuju ke Nuh. Demo dan protes, ceritanya.
“Nuh, dimana alat kelamin saya …?” tanya kuda disambut mereka semua.
Nuh jadi lupa, di mana menyimpan alat kelamin mereka. Sambil garuk-garuk kepala, Nuh akhirnya ingat juga dan bertriak kegirangan, “Oh…. saya ingat… ingat, semua alat kelamin saya taruh di puncak Gunung Bromo”….. Kontan semua sorak gembira dan berlomba-lomba menuju gunung Bromo.
Mendengar berita Nuh, tentang posisi kelamin dikumpulkan, kuda langsung lari sekencang mungkin. Hingga kuda yang pertama tiba di tempat. Kuda ambil yang paling besar dan dipasang begitu saja. Disusul gajah yang tetap ngambil miliknya, karena terlalu besar untuk yang lain. Berikutnya sapi, anjing dan seterusnya hingga pada semut. Kasihan semut, sejak mulai tahu kabar dari Nuh dia tak mampu berlari, karena begitu mau berdiri sudah kena injak binatang besar lainnya.
Sapi berlaku curang juga, karena mengambil milik kambing. Makanya kalau kambing ketemu sapi ditagih, “Yeekkk … itu milik saya…!” dan sapi menjawab, jalan sambil gela-gelo, “Kok beta na…”. Sedangkan ayam jago juga teriak hingga sekarang, entah tertukar dengan milik siapa, “Endi i.. duwekkuuuuu….!”
Yang lebih kasihan adalah Semut, jika bertemu temannya saling berpelukan. Sebenanrnya itu bukan berpelukan, namun saling menanyakan, “Punya lo sudah ketemu apa belum..?” (budi elyas)

Kategori:artikel Tag:, , ,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: