Beranda > politik > Ruhut Vs Jancuk

Ruhut Vs Jancuk

Saya mempunyai teman Batak, namanya Poltak Pardede, tapi tidak seperti Ruhut Sitompul. Saya tidak terlalu suka dengan Partai Demokrat, tetapi saya lebih tidak suka lagi jika di dalamnya ada Ruhut. Dulu saya tidak memilih SBY dalam pilpres 2009 karena menurut saya beliau sudah cukup menjabat satu periode saja, dan sekarang SBY akan terlihat makin memalukan sebagai Presiden jika masih mempertahankan Ruhut dalam partainya.

Saya jadi bertanya-tanya, apa sih hebatnya Ruhut?
Kalau sebagai anggota dewan sekaligus pansus kasus Bank Century saja kerjanya cuma misuh, saya sih bisa, malah lebih dahsyat dari dia. Kan cuma bilang: Bangsat…(apa susahnya)

Kalau saya misuhnya begini: Jancooooooooooooooooooooooooooooooook!

Bukan saya saja, seluruh rakyat Indonesia juga bisa misuh tapi tidak mereka lakukan. Karena apa? Karena mereka memiliki etika, karena mereka memiliki moral, karena ada akhlaq yang harus dijaga, karena mereka takut dosa, karena mereka memegang teguh agamanya masing-masing, karena mereka menjaga budaya ketimuran, karena mereka masih memiliki norma, karena mereka memiliki malu. Tidak seperti Ruhut, dimana pun tempatnya, kata-kata jorok disamakan dengan ketika kita berada di stasiun atau terminal. Lebih parah lagi, Ruhut tak ubahnya orang kencing di sembarang tempat. Padahal dia wakil rakyat.

Saya pernah meliput pelacur, mereka lebih punya harga diri ketimbang orang-orang seperti Ruhut. Kendati pelacur sering menjajakan kemaluannya, tetapi dia tetap memegang budaya ketimuran. “Kalau mau pegang mem*k silahkan, asal di kamar dan tidak diketahui orang,” itu kata pelacur. Tetapi apa yang dilakukan Ruhut di gedung rakyat sangat tidak mencerminkan budaya timur. Saya jadi ragu apakah harus meneruskan membayar pajak atau tidak, sebab jika uang saya dan uang rakyat disalurkan untuk membayar wakil-wakil rakyat tersebut hanya untuk misuh, wah, wah, wah, mau ditaruh kemana wajah bangsa ini.

Semoga kejadian ini tidak membuat kita hilang kepercayaan terhadap para wakil rakyat yang duduk di kursi sana. Karena dari merekalah suara kita dapat didengar pemerintah. Semoga hal semacam ini tidak terulang lagi ke depannya.PEACE COY…

Kategori:politik Tag:
  1. Februari 4, 2010 pukul 6:45 am

    hahaha…hidup jancok😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: